Sejarah Perkembangan Kota
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Menampilkan 126 Objek

Kamu berada di sudut pertemuan Jalan Merapi No. 2 dan Jalan M.T. Haryono, di depan bangunan berlantai dua yang sejak lama dikenal sebagai Sekolah YPK Budi Murni. Gedung ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 56/CB/B/2021. Statusnya sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, termasuk dalam kategori lainnya yaitu Sekolah, dan bersifat profan karena sejak awal difungsikan sebagai sarana pendidikan. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1941 pada masa kolonial dan menjadi salah satu penanda penting perkembangan pendidikan di Kota Medan.
Lihat Detail →

Selamat datang di Sekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan, salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan pendidikan dan perkembangan sosial-budaya kota Medan sejak era kolonial Belanda. Terletak di Jl. Teuku Umar No. 14, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, sekolah ini berdiri sebagai bukti sejarah panjang komunitas India di kota ini. Bangunan cagar budaya ini berada pada koordinat 3°58’4496’’ LU dan 98°67’0611’’ BT, dengan batas-batas jelas: di utara berbatasan dengan Jalan Kalingga, di timur berbatasan dengan Jalan Teuku Umar, di selatan berbatasan dengan Jalan Raden Saleh, dan di barat berbatasan dengan Jalan Pagaruyung.
Lihat Detail →

Kamu sedang berada di Jl. Hindu No. 110, kawasan Kesawan, di hadapan bangunan kuning dengan pintu dan jendela hijau yang menonjol di antara rumah-rumah penduduk. Inilah Madrasah Ibtidaiyah Al-Washliyah, cagar budaya yang berdiri sejak 30 November 1930 dan menjadi saksi perjalanan pendidikan Islam di Medan. Bangunan ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 146,25 meter persegi dari saudagar Melayu, Datuk H. Moh. Ali Kesawan, yang diperuntukkan sebagai tempat belajar ilmu agama dan beribadah bagi masyarakat.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jalan K.H. Zainul Arifin, menatap Masjid Ghaudiyah yang berdiri dengan aura sakralnya yang khas. Masjid ini langsung menarik perhatian karena arsitekturnya yang bergaya India, sehingga masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai Masjid India. Saat kamu menatap gerbangnya, ornamen khas India langsung terlihat, mengisyaratkan kemegahan masa lalu yang masih tersisa hingga kini. Dulunya, halaman masjid luas dengan dua kolam untuk mengambil air wudhu, menambah kesan monumental. Sayangnya, ketika Jalan Zainul Arifin diperlebar, gerbang dan kolam tersebut dirubuhkan. Kini, dari jalan yang ramai, yang terlihat hanyalah gerbang masuk Masjid Ghaudiyah. Dari gerbang itu, sebuah lorong membawa pengunjung ke ruang sholat, sekaligus difungsikan sebagai tempat meletakkan dan melepas sepatu. Di belakang ruang sholat, terhampar area pemakaman yang kabarnya diperuntukkan khusus bagi komunitas Muslim India, menambah dimensi religius dan historis masjid ini. Masjid Ghaudiyah menjadi saksi bisu perjalanan komunitas India Muslim di Medan, menggabungkan fungsi religius dengan nilai sejarah yang kaya.
Lihat Detail →

Bangunan ini adalah Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, sebuah gereja bersejarah yang berdiri di Jalan Diponegoro No. 25–27, Kota Medan. Sejak pertama kali kamu melihatnya, bangunan ini langsung menunjukkan karakternya sebagai tempat ibadah yang sakral, tenang, dan penuh jejak masa lalu. Dari bentuk luarnya, kamu bisa melihat atap pelana yang curam dengan lengkungan pada pintu dan jendela yang mengingatkan pada gaya Gothic. Area masuknya terasa seperti ditarik ke atas, membentuk sebuah menara yang kemudian diakhiri dengan kubah. Pada menara ini, terdapat empat buah jam yang dipasang di setiap sisinya. Meski saat ini jam-jam tersebut sudah tidak berfungsi, keberadaannya tetap menjadi ciri khas yang menonjol dari bangunan ini. Jika kamu memperhatikan bentuk atapnya lebih saksama, pemisahan atap gereja ini mengingatkan pada bentuk atap rumah tradisional Melayu dan Tapanuli Selatan. Perpaduan bentuk ini membuat bangunan gereja memiliki tampilan yang khas dan berbeda dibandingkan bangunan ibadah lain di sekitarnya.
Lihat Detail →

Bangunan ini berdiri menghadap persimpangan Jl. M.T. Haryono dan Jl. Merapi, tepat di kawasan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota. Sejak pertama kali kamu memandangnya, kesan sakral langsung terasa kuat. Inilah Gereja Katolik Kristus Raja, sebuah bangunan cagar budaya yang telah resmi ditetapkan melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 65/CB/B/2021. Gereja ini menjadi salah satu penanda penting perkembangan kehidupan religius Katolik di Kota Medan, khususnya bagi komunitas Tionghoa. Bangunan gereja ini berdiri di atas lahan yang berbatasan langsung dengan Jl. M.T. Haryono di sisi utara, Jl. Merapi di sisi timur, YPK Budi Murni Medan di sisi selatan, serta SMP Swasta Katolik Budi Murni 3 di sisi barat. Lokasinya yang strategis membuat gereja ini sejak awal terhubung erat dengan aktivitas pendidikan dan sosial di sekitarnya. Gereja ini bersifat sakral dan berfungsi sebagai rumah ibadah, dengan status kepemilikan dan pengelolaan berada di bawah Keuskupan Agung Medan.
Lihat Detail →

Bangunan ini adalah Gedung Keuangan Negara Medan, sebuah bangunan berlantai empat yang berdiri sebagai salah satu contoh penting arsitektur modern dengan pendekatan iklim tropis di Kota Medan. Fungsinya sebagai kantor pemerintahan menjadikannya bagian dari aktivitas administrasi keuangan negara, sekaligus penanda perubahan wajah arsitektur Indonesia setelah masa kemerdekaan. Secara arsitektural, gedung ini dirancang menggunakan konstruksi beton bertulang. Atapnya berupa plat beton, sementara permukaan beton pada banyak bagian dibiarkan terekspos tanpa plester. Pendekatan ini memperlihatkan karakter arsitektur yang tegas, jujur terhadap material, dan menonjolkan struktur sebagai elemen visual utama. Bentuk-bentuk geometris disusun secara berulang, dengan garis-garis horizontal yang sangat dominan dan memberi kesan kokoh sekaligus modern.
Lihat Detail →

Saat kamu berdiri di depan bangunan ini, kamu sedang melihat salah satu sisa paling awal dari kawasan hunian orang Eropa di Medan, jauh sebelum kawasan Polonia berkembang pesat pada akhir dekade 1910-an. Bangunan ini menjadi penanda awal perubahan wajah kota Medan dari permukiman tradisional menuju kota kolonial modern. Bangunan ini merupakan bagian dari perumahan awal untuk orang Eropa yang dibangun sebelum kawasan Polonia dikembangkan secara intensif. Hingga saat ini, informasi spesifik mengenai sejarah rumah ini pada masa Belanda belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan peta Kota Medan tahun 1913, terlihat bahwa pada masa itu terdapat lima unit rumah tinggal kembar yang berderet di sepanjang jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Diponegoro, yang pada masa kolonial bernama Mangga Laan.
Lihat Detail →

Mungkin sulit membayangkan bahwa tempat ini pernah menjadi bagian dari jaringan bisnis raksasa yang menghubungkan Medan dengan pasar dunia. Namun justru dari gedung inilah roda perdagangan internasional pernah berputar dan ikut membentuk Medan sebagai kota niaga penting di Sumatera. Bangunan ini dibangun sebagai kantor pertama Jacobson van der Berg & Co. NV di Medan. Jacobson van der Berg & Co. NV merupakan perusahaan dagang asal Belanda yang didirikan pada tahun 1860, bergerak di bidang ekspor-impor, perdagangan, jasa asuransi, dan industri. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu anggota The Big Five, yaitu lima perusahaan raksasa milik Belanda bersama Internatio, Lindeteves, Borsumij, serta J. & Geo Wehry. Kelima perusahaan ini membentuk sebuah Trading House yang sangat kuat dan menguasai jaringan bisnis perdagangan, produksi, jasa, industri, serta distribusi di berbagai negara.
Lihat Detail →

Begitu kamu berada di gedung ini, kamu sedang berdiri di salah satu titik penting perjalanan kemerdekaan Indonesia di Kota Medan. Setelah proklamasi dikumandangkan, perjuangan belum berhenti. Justru di tempat inilah semangat perlawanan itu terus dijaga dan dikonsolidasikan. Di Kota Medan, pada bulan Oktober tahun 1945, area ini menjadi titik awal perjuangan para pejuang kemerdekaan yang kemudian dikenal sebagai pertempuran Medan Area. Pada masa-masa awal setelah kemerdekaan, berbagai pertemuan konsolidasi politik untuk melawan penjajah masih dilakukan di gedung bioskop. Namun, kondisi tersebut dianggap tidak aman karena pemilik gedung dinilai memiliki sikap bermuka dua.
Lihat Detail →

Bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan samudera. Penetapan Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan samudera dilakukan dengan dua tujuan utama, yaitu untuk menampung aktivitas ekspor impor dan pelayaran yang semakin padat sehingga membutuhkan kawasan pelabuhan yang lebih luas, serta untuk menyaingi pelabuhan transit milik Inggris di Semenanjung Malaya seperti Penang dan Singapura. Bangunan ini pada awalnya diperuntukkan sebagai kantor baru bea cukai (douane kantoor) dan dibangun pada tahun 1938. Pembangunannya berkaitan erat dengan perluasan ketiga Pelabuhan Belawan ke arah utara yang telah dimulai sejak tahun 1927, setelah sebelumnya pelabuhan ini mengalami perluasan pada periode 1917 hingga 1921. Pada tahap perluasan tahun 1927 tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi penambahan dermaga, pembangunan pergudangan, serta penyediaan lapangan terbuka untuk penumpukan barang.
Lihat Detail →

Di persimpangan Jalan Balai Kota dan Jalan A. Yani VII ini, kamu sedang berhadapan dengan sebuah bangunan yang telah lama menjadi saksi perjalanan dunia perbankan di Kota Medan. Gedung ini dirancang oleh C.P. Wolfschoemaker, seorang arsitek terkenal pada masa kolonial Belanda, dan selesai dibangun pada tahun 1940. Pada awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai kantor Nederlands Indische Handelsbank (NIHB), salah satu bank penting di Hindia Belanda, sekaligus kantor K.P.M. (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan perkapalan Belanda. NIHB sendiri telah berdiri di Kota Medan sejak tahun 1914. Sebelum menempati gedung ini, kantor NIHB bergabung dengan Stoomvaart Maatschappij Nederland dan berlokasi di sudut Jalan A. Yani (Kesawan) dan Jalan P. Pinang, yang kini dikenal sebagai Gedung Jasindo.
Lihat Detail →

Balai Yasa adalah istilah yang cukup khas dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Istilah ini digunakan untuk menyebut tempat perawatan besar sarana perkeretaapian dan tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Pasal 114 Ayat (5), yang menjelaskan bahwa perawatan kereta api dapat dilakukan di depot lokomotif maupun di balai yasa. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959, saat digunakan untuk Balai Yasa Yogyakarta. Dalam sistem perkeretaapian, balai yasa memiliki peran yang berbeda dengan depot lokomotif. Jika depot lokomotif menangani perawatan harian, enam bulanan, atau tahunan, maka balai yasa difokuskan pada perawatan besar. Secara kelembagaan, balai yasa juga tidak berada di bawah daerah operasi (Daop), melainkan langsung berada di bawah kantor pusat PT Kereta Api Indonesia. Balai Yasa tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, dan salah satunya adalah Balai Yasa Pulubrayan, yang dikenal sebagai balai yasa terbesar di Pulau Sumatera dan terletak di Jalan Pasar Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Kamu berada di sudut pertemuan Jalan Sutomo dan kawasan Pusat Pasar, tepat di hadapan bangunan melengkung yang sejak lama dikenal sebagai Kantor Persatuan Daerah Pusat Pasar. Bangunan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026. Nama resminya adalah Kantor Persatuan Daerah Pusat Pasar, termasuk dalam kategori bangunan Kantor dengan sifat profan. Periode pembangunannya berada pada masa Kolonial dan hingga kini statusnya sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Lokasinya berada di Jalan Sutomo No. P. 75, Kelurahan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat 3°59’0777” LU dan 98°68’4539” BT. Di sisi utara dan timur berbatasan langsung dengan Jalan Pusat Pasar, di selatan dengan deretan ruko, dan di barat dengan Jalan Sutomo. Letaknya yang berada pada posisi hook menjadikannya sebagai penanda pintu masuk ke kawasan Pusat Pasar, berdampingan secara visual dengan bangunan-bangunan perdagangan lain yang tumbuh sejak awal abad ke-20.
Lihat Detail →

Kamu berada di salah satu ruas paling tua di Kota Medan, di depan bangunan yang kini dikenal sebagai Kantor Perusahaan Aneka Industri dan Jasa. Di balik namanya yang terdengar modern, bangunan ini menyimpan jejak panjang sejarah pers di Sumatera Timur. Ia telah berstatus sebagai Bangunan Cagar Budaya dan diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026. Jenisnya adalah kantor dengan sifat profan, sebuah ruang usaha yang sejak awal berkaitan dengan kegiatan administrasi, percetakan, dan perdagangan informasi. Bangunan ini beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 120–122, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat tengah 3o58’668” LU dan 98o67’926” BT. Di sebelah utara berbatasan dengan ruko, di sebelah timur berbatasan langsung dengan Jalan Jenderal Ahmad Yani, di sebelah selatan berbatasan dengan ruko, dan di sebelah barat juga berbatasan dengan ruko. Lokasinya berada di kawasan Kesawan, kawasan inti kota lama Medan yang sejak akhir abad ke-19 tumbuh sebagai pusat perdagangan, perbankan, dan aktivitas ekonomi kolonial.
Lihat Detail →

Kamu berada di halaman Museum Perkebunan Indonesia 1, sebuah bangunan yang sejak awal abad ke-20 menjadi saksi lahir dan berkembangnya dunia perkebunan di Sumatra Timur. Bangunan ini berdiri di Jalan Brigjend Katamso No. 51, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, pada koordinat 3°33’23.37” LU dan 98°41’20.35” BT. Dari titik ini, kamu sedang berada di sebuah tapak penting yang dahulu menjadi pusat riset dan pemikiran bagi industri karet dan kelapa sawit yang membentuk sejarah ekonomi Medan dan Indonesia.
Lihat Detail →
5 Objek Cagar Budaya paling ikonik di Kota Medan yang wajib kamu kunjungi
Kota Medan memiliki beragam objek cagar budaya yang meliputi bangunan, kawasan, struktur, situs, dan benda. Peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota yang telah dimulai sejak abad ke-11.
Lapisan sejarah tersebut mencerminkan perkembangan kebudayaan dari era pemukiman kuno di Situs Kota Cina, berlanjut pada masa Kesultanan Melayu Deli, periode kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga perkembangan kota pada masa pasca kemerdekaan. Setiap objek cagar budaya menjadi penanda penting yang membentuk identitas sejarah dan budaya Kota Medan hingga hari ini.
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Pelestarian objek cagar budaya membantu menjaga identitas sejarah kota, mendukung pariwisata sejarah, serta menjadi sumber edukasi bagi generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.