Sejarah Perkembangan Kota
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Menampilkan 126 Objek

Kamu berdiri di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sumut, yang beralamat di Jalan KH Zainul Arifin No. 126, Kota Medan. Bangunan ini langsung menarik perhatian dengan arsitekturnya yang khas, memadukan bentuk atap limasan dan pelana, lengkap dengan menara kecil yang dihiasi pilaster, pelipit, dan jendela lengkung. Semua detail dekoratif—molding, ornamen, hingga ventilasi—dirancang rapi, membuat bangunan ini terasa hidup dan elegan.
Lihat Detail →

Begitu kamu berada di sudut Jalan Pemuda (dulu Paleisweg) dan Jalan Palang Merah (dulu Soekamoeliaweg), kamu sedang berhadapan dengan sebuah bangunan yang sejak awal berdirinya punya peran besar dalam sejarah perkebunan dan tenaga kerja di Sumatra Timur. Inilah Gedung AVROS, bangunan yang lahir dari kebutuhan organisasi perkebunan karet berskala internasional. Gedung ini didirikan berkaitan langsung dengan berdirinya AVROS (Algemente Vereneging van Rubber Planter Ooskust van Sumatra), sebuah organisasi kumpulan grup perusahaan dari berbagai negara yang memiliki usaha perkebunan karet di Sumatra Timur. Rencana pendirian gedung ini telah dimulai pada tahun 1916, rancangan bangunannya dibuat pada tahun 1917, bersamaan dengan pembangunan stasiun uji AVROS yang dikenal sebagai Algemeen Proefstation der AVROS (APA) di Kampung Baru.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan Gedung Bank Indonesia Medan, tepat di Jalan Balai Kota No. 4, Kesawan. Dari titik ini, Lapangan Merdeka terbentang di hadapanmu, Sungai Deli mengalir tenang di sisi barat, sementara jejak pemerintahan kolonial dan kota modern Medan bertemu dalam satu pandangan. Bangunan yang sedang kamu hadapi ini bukan sekadar kantor bank, melainkan salah satu penanda penting sejarah ekonomi dan tata kota Medan sejak awal abad ke-20.
Lihat Detail →

Bangunan yang kini dikenal sebagai kantor Bank Danamon ini menyimpan cerita tentang perjalanan dunia perbankan di Kota Medan. Dahulu, bangunan ini merupakan Gedung Bank of China, sebelum kemudian berganti-ganti pemilik hingga akhirnya digunakan sebagai kantor Bank Danamon, sebuah bank swasta. Pergantian fungsi tersebut menjadi bagian dari dinamika aktivitas ekonomi dan perbankan di kota ini.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah struktur tua yang dikenal sebagai Brug (Jembatan), peninggalan infrastruktur awal abad ke-20 yang berasal dari periode Kolonial. Identitasnya tercatat dalam Nomor Dokumen 02/CB/S/2022 berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/29.K tanggal 1 Februari 2023. Struktur ini termasuk kategori struktur, bersifat profan, telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, dan pada tahun 2025 diusulkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan.
Lihat Detail →

Begitu kamu berada di depan bangunan ini, mungkin yang pertama terlintas di kepalamu bukanlah cerita perang. Lingkungannya kini padat, dikelilingi permukiman, jauh dari kesan medan pertempuran. Tapi justru di titik inilah kamu sedang berdiri di atas lapisan sejarah yang panjang dan berlapis. Bangunan yang sering disebut sebagai Benteng Jepang ini diperkirakan dibangun ketika Jepang mulai masuk ke Medan pada tahun 1942. Saat itu, Jepang memasuki wilayah ini melalui Tanjung Tiram, Batubara, setelah pendaratan awal di Pantai Parupuk. Seiring masuknya pasukan, mereka langsung membangun berbagai fasilitas pendukung pendudukan, termasuk gudang penyimpanan amunisi. Pembangunan benteng pertahanan di Pantai Parupuk—yang dikenal dengan sebutan Lubang Jepang—menjadi salah satu penanda kehadiran mereka di wilayah Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Kamu berada di halaman Istana Maimun, di antara warna kuning kebesaran Melayu Deli yang menyala di bawah cahaya matahari Kota Medan. Di sudut kawasan ini, dalam sebuah bangunan kecil berbentuk rumah adat berpanggung beratap rumbia, tersimpan Meriam Puntung—sebuah pusaka yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat melalui legenda Putri Hijau. Lokasinya berada di Jalan Brigjen Katamso Nomor 118, halaman Istana Maimun, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Meriam disimpan dalam miniatur rumah adat Karo bercorak kuning dan hijau selaras identitas Kesultanan Deli, dengan papan bertuliskan “MERIAM PUNTUNG” pada bagian depan bangunan pelindungnya.
Lihat Detail →

Kamu berada di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Pandu, di sudut kawasan Pasar Baru, dan menjulang di hadapanmu Menara Air Tirtanadi setinggi 42,2 meter yang sejak lebih dari seabad lalu menjadi penopang kehidupan Kota Medan. Struktur Cagar Budaya bersifat profan ini telah ditetapkan melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 69/CB/SR/2021. Dibangun pada tahun 1908 pada masa Kolonial, menara ini kini diusulkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2025.
Lihat Detail →

Kamu berada di atas sebuah jembatan tua yang membentang anggun di pusat Kota Medan, dikenal sebagai Titi Gantung. Struktur ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 39/CB/SR/2021, dan kini diusulkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2025. Dibangun pertama kali pada tahun 1885 dan diresmikan tahun 1920 bersamaan dengan peresmian kantor pusat Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), jembatan ini menjadi bagian penting sejarah pertumbuhan kota, bukan sekadar sarana penyeberangan, melainkan saksi perkembangan industri perkeretaapian dan perkebunan di pesisir timur Sumatera pada masa kolonial.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan tepian Sungai Deli, Lingkungan IV, Kota Bangun. Di balik pagar kuning berjeruji hijau berdiri bangunan pelindung sederhana beratap limas dengan seng biru kehijauan yang menaungi Makam Datuk Kota Bangun. Dindingnya dicat kuning cerah dengan aksen hijau pada pintu dan jendela. Suasana halaman teduh oleh pepohonan dan tanaman hias, menghadirkan kesan sakral sebagai ruang penghormatan bagi tokoh penting dalam sejarah awal Islam di Medan.
Lihat Detail →

Kamu berada di atas Jembatan Kebajikan, sebuah struktur cagar budaya berjenis jembatan dan bersifat profan yang dibangun pada tahun 1915 pada masa Kolonial. Struktur ini telah ditetapkan berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 67/CB/SR/2021. Jembatan ini pernah direnovasi pada tahun 1993 dan 2000, dan pada tahun 2025 direkomendasikan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Bangunan ini merupakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan, yang berdiri di Jl. Pemuda No. 1, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Gereja ini telah resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 03/CB/B/2021. Sebagai bangunan sakral dan rumah ibadah, gereja ini memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan kehidupan religius Katolik di Kota Medan.
Lihat Detail →

Bangunan ini berdiri tenang di sudut strategis Kota Medan, tepat di Jl. Jendral Sudirman No. 17A, Kelurahan Jati, Kecamatan Medan Maimun. Dari luar, kamu langsung menangkap kesan kokoh dan anggun—sebuah gereja dengan skala besar yang sejak awal memang dirancang untuk menjadi pusat kegiatan rohani komunitasnya. Inilah Gereja HKBP Medan Sudirman, salah satu bangunan cagar budaya penting di Sumatera Utara yang kini telah ditetapkan melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 04/CB/B/2021.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jl. H. Misbah No. 7, di Kelurahan Jati, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Di hadapanmu berdiri Rumah Sakit Santa Elisabeth, sebuah kompleks rumah sakit bersejarah yang telah menjadi saksi perkembangan pelayanan kesehatan di kota Medan sejak awal abad ke-20. Bangunan ini berdiri di lahan seluas dua hektar, dengan bangunan utama berukuran panjang 40 meter dan lebar 10 meter, serta ketinggian mencapai 29 meter di atas permukaan laut. Kompleks rumah sakit ini bukan sekadar fasilitas kesehatan, tapi juga bagian dari sejarah, estetika, sosial, ilmiah, dan kelangkaan budaya, sehingga layak ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat provinsi.
Lihat Detail →

Kamu berada di halaman kompleks Rumah Sakit Umum Dokter Pirngadi, sebuah bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 09/CB/B/2021. Di tengah aktivitas pelayanan kesehatan yang terus berjalan, kamu sedang berdiri di hadapan salah satu saksi penting perkembangan Kota Medan pada masa kolonial, bangunan yang sejak awal memang dirancang sebagai rumah sakit dan hingga kini tetap menjalankan fungsi yang sama.
Lihat Detail →

Begitu kamu berada di kawasan ini, kamu sedang menjejak sebuah tempat yang sejak akhir abad ke-19 memegang peranan penting dalam sejarah kesehatan kota Medan. Bangunan ini bukan sekadar peninggalan lama, melainkan saksi awal lahirnya pelayanan kesehatan modern di tanah Deli. Rumah sakit ini dibangun pada Juni 1885 atas prakarsa Mr. Ingerman, yang saat itu menjabat sebagai General Manager Deli Maatschappij (Deli Mij). Pendirian rumah sakit dilatarbelakangi oleh kondisi kesehatan masyarakat yang sangat kompleks. Pada masa itu, buruh perkebunan masih didominasi pengobatan tradisional, sementara pekerja perkebunan asal Eropa membutuhkan sistem kesehatan modern. Selain itu, terjadi peningkatan berbagai penyakit, yang tercatat menyebabkan 217 orang kuli meninggal dunia pada periode 1869 hingga 1870.
Lihat Detail →
5 Objek Cagar Budaya paling ikonik di Kota Medan yang wajib kamu kunjungi
Kota Medan memiliki beragam objek cagar budaya yang meliputi bangunan, kawasan, struktur, situs, dan benda. Peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota yang telah dimulai sejak abad ke-11.
Lapisan sejarah tersebut mencerminkan perkembangan kebudayaan dari era pemukiman kuno di Situs Kota Cina, berlanjut pada masa Kesultanan Melayu Deli, periode kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga perkembangan kota pada masa pasca kemerdekaan. Setiap objek cagar budaya menjadi penanda penting yang membentuk identitas sejarah dan budaya Kota Medan hingga hari ini.
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Pelestarian objek cagar budaya membantu menjaga identitas sejarah kota, mendukung pariwisata sejarah, serta menjadi sumber edukasi bagi generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.