Sejarah Perkembangan Kota
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Menampilkan 126 Objek

Kamu berada di Jalan Sei Deli No. 139, di tengah lingkungan permukiman yang tenang, lalu pandanganmu tertuju pada sebuah masjid tua yang berdiri anggun dengan kubah khasnya. Di balik rindangnya pepohonan dan pagar tanaman yang mengelilinginya, Masjid Maraseth tampak sejuk bahkan sebelum kamu melangkah masuk ke halamannya. Bangunan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026, menjadi saksi perkembangan Islam dan dinamika sosial masyarakat Kota Medan.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan sebuah rumah panggung kayu yang berdiri tenang di sudut Jalan Manggis, bangunan yang dikenal sebagai Rumah Tinggal Alm. M. Tahir Lubis. Rumah ini telah berstatus sebagai Bangunan Cagar Budaya yang sudah ditetapkan dan diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Jenis bangunannya adalah tempat tinggal dengan sifat profan, sebuah hunian yang sejak awal dibangun untuk kehidupan keluarga, bukan untuk fungsi keagamaan atau komersial.
Lihat Detail →

Kamu berada di deretan rumah tua di Jalan Mantri, sebuah sudut kawasan Aur yang masih menyimpan jejak lama Kota Medan. Di hadapanmu berdiri Rumah Tinggal Jalan Mantri Nomor 16–22 yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/29.K tanggal 1 Februari 2023 dengan Nomor Dokumen 19/CB/B/2022. Bangunan ini berjenis tempat tinggal dengan sifat profan, berasal dari periode kolonial, dan statusnya telah sah sebagai Bangunan Cagar Budaya.
Lihat Detail →

Anda berada di depan sebuah rumah besar yang tenang dan tertutup rimbunnya pepohonan di Jl. Imam Bonjol No. 13. Bangunan ini dikenal sebagai eks Konsulat Amerika dan telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya serta direkomendasikan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Rumah ini merupakan bangunan profan yang menjadi saksi penting sejarah kawasan Polonia dan perkembangan Kota Medan sejak masa kolonial hingga awal kemerdekaan.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan pelabuhan tua Belawan, berdiri di depan bangunan Stasiun Kereta Api Belawan yang sejak lebih dari satu abad lalu menjadi penghubung antara daratan dan lautan. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dan pada tahun 2026 diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan. Jenisnya merupakan bangunan stasiun kereta api dengan sifat profan karena sejak awal dibangun untuk kepentingan transportasi dan distribusi barang.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan pesisir utara Kota Medan, di jalur yang sejak lebih dari satu abad lalu menjadi nadi pergerakan orang dan barang. Di hadapanmu berdiri Bangunan Stasiun Kereta Api Labuhan, sebuah stasiun tua yang diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Meski tampak sederhana, bangunan ini menyimpan sejarah panjang transportasi rel di Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jl. KL Yos Sudarso dan Jl. Platina II, kawasan Titipapan, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Di sini berdiri Stasiun Kereta Api Titipapan, bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan transportasi kereta api di Kota Medan. Bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat Provinsi berdasarkan nilai sejarah, estetika, ilmiah, dan keaslian yang dimilikinya. Secara visual, stasiun ini tampak sederhana, tidak bertingkat, dan memadukan gaya arsitektur kolonial tropis khas stasiun kecil era Hindia Belanda.
Lihat Detail →

Kamu sedang berdiri di depan Vihara Siu San Keng, dengan dominasi warna merah khas klenteng Tionghoa yang langsung mencuri perhatian. Pagar yang mengelilingi kawasan vihara mengarahkan pandangan menuju gerbang utama, menghadirkan atmosfer religius yang kental. Bangunan utama beratap limasan dihiasi ornamen naga dan simbol-simbol keagamaan yang sarat makna, menampilkan kemegahan arsitektur Tionghoa klasik yang telah bertahan lebih dari satu abad.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah hamparan lahan tua yang menyimpan jejak peradaban berabad-abad lalu. Di hadapanmu adalah Struktur Bata di Kota Cina yang diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026. Struktur ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dikategorikan sebagai Struktur bersifat sakral, dengan ukuran panjang 270 cm dan lebar 107 cm, tersusun dari material bata yang masih memperlihatkan karakter aslinya. Meski kini tinggal sebagian, susunan bata tersebut menjadi penanda kuat bahwa kawasan ini pernah menjadi ruang penting dalam lanskap religius dan permukiman masa lalu.
Lihat Detail →

Kamu berada di halaman sebuah rumah besar di Jalan Walikota No. 2, kawasan Polonia, Medan. Dari titik ini, kesan pertama yang terasa bukan kemegahan yang mencolok, melainkan ketenangan. Bangunan ini berdiri tenang di balik halaman luas yang memberi jarak dari hiruk-pikuk kota. Inilah Rumah Dinas Kapolda Sumatera Utara, sebuah bangunan hunian kolonial yang hari ini memikul dua peran sekaligus: rumah jabatan dan saksi sejarah.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah kawasan pesisir yang sejak akhir abad ke-19 menjadi gerbang utama keluar masuknya komoditas dan manusia dari Sumatera Timur ke dunia internasional, sebuah kota pelabuhan modern bernama Kawasan Belawan. Di sinilah denyut industri perkebunan, jalur kereta api, dan pelayaran samudra bertemu dalam satu simpul strategis. Kawasan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026 dengan luas kurang lebih 149 hektare, berstatus telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, termasuk jenis hunian, dan bersifat profan. Secara administratif berada di Kelurahan Belawan, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, pada koordinat 03°47’ LU dan 98°42’ BT, sekitar ±27 kilometer dari pusat Kota Medan. Kawasan ini menempati semenanjung yang dibatasi Sungai Belawan di utara dan Sungai Deli di selatan, dengan topografi dataran pantai aluvial landai dan lingkungan awal berupa hutan mangrove berlumpur khas pesisir timur Sumatera.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah kawasan tua yang denyut sejarahnya masih terasa di udara, sebuah bandar lama yang dahulu menjadi pintu masuk berbagai bangsa dan peradaban ke tanah Deli. Inilah Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Labuhan Deli yang diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Kawasan ini telah berstatus ditetapkan sebagai cagar budaya dengan jenis Kota Lama/Kota Tua dan bersifat profan. Pembentukannya ditelusuri sejak 1700-an dan berkembang pesat pada masa kolonial. Secara administratif berada di Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan luas sekitar 31 hektare atau ±233.793 meter persegi. Batas kawasannya meliputi Jalan Syahbudin Yatim di utara, Jalan Veteran (Tanjung Mulia) di timur, Jalan Yos Sudarso di selatan, serta Sungai Deli di barat. Letaknya sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Medan, berdiri di atas dataran aluvial yang dipengaruhi pasang surut air laut sehingga sejak dahulu sangat strategis sebagai bandar.
Lihat Detail →

Saat kamu berdiri di kawasan Kesawan dan memandang bangunan di Jalan Jendral Ahmad Yani No. 72, mungkin sekilas gedung ini tampak sederhana, bahkan nyaris menyatu dengan deretan ruko di sekitarnya. Namun bangunan yang kamu lihat ini adalah Gedung BNI Kesawan, sebuah bangunan kolonial yang menyimpan lapisan sejarah panjang perkembangan ekonomi dan arsitektur Kota Medan. Sejak 1 Februari 2023, gedung ini telah resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Medan Nomor 433/29.K. Gedung ini berdiri pada tahun 1930, pada masa kolonial Belanda, dan menjadi bagian dari kawasan komersial Kesawan yang sejak awal berkembang sebagai pusat aktivitas perdagangan dan perbankan. Secara administratif, bangunan ini berada di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan titik koordinat 3o58’65,67” LU dan 98o67’90,89” BT. Bangunan ini bersifat profan dan saat ini tercatat sebagai bangunan kosong, meskipun kepemilikan dan pengelolaannya masih berada di bawah PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Lihat Detail →

Ketika kamu melintasi Jalan Bundar No.18, mungkin bangunan ini tampak sebagai rumah lama yang berdiri tenang di antara perkembangan kota yang terus bergerak. Namun rumah tinggal ini merupakan salah satu representasi arsitektur hunian masa kolonial yang masih bertahan di Kota Medan. Keberadaannya menjadi penanda perkembangan kawasan permukiman elit yang tumbuh seiring pesatnya aktivitas ekonomi kota pada awal abad ke-20.
Lihat Detail →
5 Objek Cagar Budaya paling ikonik di Kota Medan yang wajib kamu kunjungi
Kota Medan memiliki beragam objek cagar budaya yang meliputi bangunan, kawasan, struktur, situs, dan benda. Peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota yang telah dimulai sejak abad ke-11.
Lapisan sejarah tersebut mencerminkan perkembangan kebudayaan dari era pemukiman kuno di Situs Kota Cina, berlanjut pada masa Kesultanan Melayu Deli, periode kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga perkembangan kota pada masa pasca kemerdekaan. Setiap objek cagar budaya menjadi penanda penting yang membentuk identitas sejarah dan budaya Kota Medan hingga hari ini.
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Pelestarian objek cagar budaya membantu menjaga identitas sejarah kota, mendukung pariwisata sejarah, serta menjadi sumber edukasi bagi generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.