
Kawasan Kota Lama Labuhan Deli
Kawasan












Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/kawasan-kota-lama-labuhan-deliDeskripsi Sejarah
Kamu berada di sebuah kawasan tua yang denyut sejarahnya masih terasa di udara, sebuah bandar lama yang dahulu menjadi pintu masuk berbagai bangsa dan peradaban ke tanah Deli. Inilah Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Labuhan Deli yang diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Kawasan ini telah berstatus ditetapkan sebagai cagar budaya dengan jenis Kota Lama/Kota Tua dan bersifat profan. Pembentukannya ditelusuri sejak 1700-an dan berkembang pesat pada masa kolonial. Secara administratif berada di Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan luas sekitar 31 hektare atau ±233.793 meter persegi. Batas kawasannya meliputi Jalan Syahbudin Yatim di utara, Jalan Veteran (Tanjung Mulia) di timur, Jalan Yos Sudarso di selatan, serta Sungai Deli di barat. Letaknya sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Medan, berdiri di atas dataran aluvial yang dipengaruhi pasang surut air laut sehingga sejak dahulu sangat strategis sebagai bandar.
Kawasan ini pernah menjadi kota pelabuhan penting Kesultanan Deli. Di sinilah syahbandar mengatur keluar masuk kapal, memungut cukai, dan mengawasi perdagangan dari berbagai penjuru. Dermaga rakyat atau tangkahan berderet di tepian sungai terutama di kawasan Ujung Tanjung. Labuhan menjadi simpul perniagaan lada, pala, hasil hutan, hingga hasil laut seperti ikan hiu juparang yang diekspor ke pedagang Tiongkok. Pada tahun 1822 ekspor lada dari Labuhan Deli mencapai sekitar 1000 koyan atau kurang lebih 26.000 pikul, menunjukkan aktivitas perdagangan yang sangat sibuk pada masanya.
Jejak kejayaan Kesultanan Deli masih terasa melalui Masjid Al-Osmani yang berdiri sebagai simbol religius sekaligus pusat sosial, dahulu berhadapan dengan istana Kesultanan Deli yang diperkirakan dibangun tahun 1728 meskipun kini telah hilang. Masjid dengan serambi lengkung menyerupai tapal kuda dan dekorasi geometris ini menjadi ruang ibadah sekaligus pertemuan adat dan politik. Sejak tahun 1861 masyarakat dari Fujian, Tiongkok Selatan, menetap di kawasan ini dan mendirikan dua klenteng pada tahun 1891, salah satunya Klenteng Siu Siian Kiong yang didedikasikan untuk Dewi Kwan Im atau Guanyin. Ruko-ruko bergaya eklektik yang memadukan unsur Eropa, Tionghoa, dan lokal tumbuh di sepanjang pekan, sementara pola hunian memperlihatkan pembagian sosial unik antara masyarakat Melayu dan keturunan Tionghoa yang hidup berdampingan.
Dalam lintasan sejarah lebih panjang, kawasan ini berkaitan dengan Kerajaan Haru yang disebut dalam catatan Tiongkok abad ke-13 dan dikunjungi Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15. Bandar Kota Cina dalam lingkup kawasan menjadi bukti bahwa sebelum Kesultanan Deli dan kolonialisme, Labuhan telah menjadi bandar penting jaringan perdagangan maritim Asia. Masuknya Belanda membawa perubahan administrasi dan infrastruktur seperti penempatan kontrolir tahun 1864, pembangunan kantor pos tahun 1875, hingga perpindahan pusat ekonomi ke Medan oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada akhir abad ke-19 yang perlahan menggeser peran Labuhan, namun identitasnya sebagai kota lama tetap melekat.
Saat ini meskipun beberapa ruko lama pernah mengalami kebakaran dan kawasan menghadapi tantangan banjir musiman, kondisinya secara umum dinyatakan utuh, baik, terawat, dan berstatus terpelihara. Permukiman masih dihuni mayoritas etnis Melayu sementara komunitas Tionghoa tetap menjaga tradisi di klenteng yang ada. Dari sisi sejarah, kawasan ini merupakan embrio perkembangan perkebunan tembakau Deli dan bandar awal pembentuk Kota Medan modern. Dari sisi estetika terlihat harmonisasi arsitektur Melayu, Tionghoa, dan kolonial dalam bentang ruang yang menyatu dengan lanskap sungai. Dari sisi kelangkaan, integrasi situs agama, bekas pusat pemerintahan, pasar pekan, sungai, dan jejak bandar tua menjadikannya bentang budaya yang sulit ditemukan padanannya. Atas nilai sejarah, estetika, ilmiah, dan kelangkaannya, Kawasan Kota Lama Labuhan Deli direkomendasikan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara sebagai pengakuan atas perannya dalam membentuk identitas Medan dan pesisir timur Sumatera.




Informasi
Lokasi Kawasan Kota Lama Labuhan Deli
Koordinat
3.742, 98.677
Alamat
Pekan Labuhan, Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara