
Kawasan Belawan
Kawasan























Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/kawasan-belawanDeskripsi Sejarah
Kamu berada di sebuah kawasan pesisir yang sejak akhir abad ke-19 menjadi gerbang utama keluar masuknya komoditas dan manusia dari Sumatera Timur ke dunia internasional, sebuah kota pelabuhan modern bernama Kawasan Belawan. Di sinilah denyut industri perkebunan, jalur kereta api, dan pelayaran samudra bertemu dalam satu simpul strategis. Kawasan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026 dengan luas kurang lebih 149 hektare, berstatus telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, termasuk jenis hunian, dan bersifat profan. Secara administratif berada di Kelurahan Belawan, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, pada koordinat 03°47’ LU dan 98°42’ BT, sekitar ±27 kilometer dari pusat Kota Medan. Kawasan ini menempati semenanjung yang dibatasi Sungai Belawan di utara dan Sungai Deli di selatan, dengan topografi dataran pantai aluvial landai dan lingkungan awal berupa hutan mangrove berlumpur khas pesisir timur Sumatera.
Pembangunan pelabuhan dimulai sekitar 1880 seiring rencana jalur kereta api Medan–Belawan sebagai tulang punggung distribusi hasil perkebunan. Sejak 1887 dibangun gudang-gudang partikulir, diawali Ocean Steamship Co., lalu tahun 1890 pemerintah kolonial mendirikan Kantor Douane (Bea Cukai) setelah Staatsblad No. 244 Tahun 1887. Tahun 1895 emplasemen diperluas hingga 350 meter dan pada 1907 dibangun pelabuhan pelayaran dalam negeri. Dermaga awal sepanjang 602 meter dengan lebar 9–20 meter mampu menampung kapal hingga 700 ton. Kawasan pelabuhan membentang dari Tanjung Betung Camar hingga muara Sungai Belawan dan Sungai Deli. Pada 1938 Pelabuhan Belawan tercatat sebagai pelabuhan terbesar di Hindia-Belanda dan menjadi persinggahan kapal samudra internasional, menggantikan peran Labuhan Deli sebagai pelabuhan utama.
Sungai Deli yang berhulu di Dataran Tinggi Karo dan bermuara ke Selat Malaka dahulu dapat dilayari kapal motor sejauh enam mil dan perahu kecil hingga sebelas mil ke Kampung Martubung. Namun arus deras dan pendangkalan membatasi pelayaran, mendorong pembangunan pelabuhan laut modern di Belawan. Pada masa Perang Dunia II (1940–1942) aktivitas ekspor sempat terhenti akibat serangan pembom Jepang ke Belawan dan Polonia. Pasca kemerdekaan, Pelabuhan Belawan berstatus pelabuhan internasional karena posisinya strategis di Selat Malaka dan hingga kini tetap menjadi simpul penting perdagangan, jasa, dan industri Sumatera Utara.
Dalam konteks kekinian, Kawasan Belawan dinyatakan utuh dalam satuan ruang geografisnya, dalam kondisi baik, terawat, dan berstatus terpelihara. Karakter tata ruang kolonial masih terbaca melalui pembagian zona fungsional pendukung ekspor dan distribusi komoditas. Jejak arsitektur modern kolonial 1920-an terlihat pada bangunan lama, gudang, stasiun kereta api pelabuhan, serta menara air (water toren) di Jalan Sumatra No. 1 Belawan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012, kawasan ini memiliki nilai sejarah sebagai pelabuhan modern pertama di Sumatera Utara dan pintu gerbang barat perdagangan internasional, nilai estetika dari perencanaan kawasan pelabuhan yang fungsional dan khas arsitektur kolonial modern, serta nilai sosial sebagai ruang pertemuan berbagai latar budaya yang membentuk karakter kosmopolit Belawan. Dengan nilai sejarah, estetika, ilmiah, dan kelangkaan yang signifikan, Kawasan Belawan direkomendasikan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara sebagai pengakuan atas perannya dalam jaringan perdagangan, transportasi, dan identitas pesisir Kota Medan hingga kini.




Informasi
Lokasi Kawasan Belawan
Koordinat
3.780601, 98.686545
Alamat
Belawan, Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara