Sejarah Perkembangan Kota
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Menampilkan 126 Objek

Saat kamu berdiri di sudut Jalan Raden Saleh, tepat berhadapan dengan Balai Kota Medan, bangunan besar yang ada di depanmu ini bukan sekadar gedung perkantoran. Bangunan ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perdagangan, perbankan, dan perkembangan ekonomi kota Medan sejak masa kolonial Belanda. Gedung ini dulunya merupakan kantor Netherlandsche Handel Maatschappij atau NHM, sebuah perusahaan dagang Belanda yang awalnya menangani urusan ekspor di wilayah Hindia Belanda. Seiring waktu, NHM bertransformasi menjadi sebuah bank pada sekitar tahun 1860-an dan dikenal sebagai bank kedua yang didirikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda, setelah berdiri di Indonesia sejak tahun 1824.
Lihat Detail →

Kamu berada di persimpangan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Palang Merah, tepat di jantung kawasan Kesawan yang sejak dulu dikenal sebagai pusat niaga Kota Medan. Di hadapanmu berdiri Bangunan Bank Mandiri eks Bank Dagang Negara, sebuah gedung perbankan bersejarah yang kini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026. Bangunan ini tercatat dengan nama resmi Bank Mandiri Eks Bank Dagang Negara, berjenis Kantor dengan sifat Profan, periode Kolonial, dan berstatus Sudah Ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Kepemilikan serta pengelolaannya berada di bawah PT. Bank Mandiri Tbk. Lokasinya berada di Jalan Ahmad Yani – Palang Merah, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat tengah 3° 58’ 489’’ N dan 98° 68’ 071’’ E. Di sebelah utara berbatasan dengan deretan ruko, di timur dengan Bank UOB, di selatan dengan Jalan Palang Merah, dan di barat dengan Jalan Jenderal Ahmad Yani. Posisinya yang berada di simpang strategis kawasan Kesawan menegaskan perannya sejak awal sebagai bangunan komersial penting dalam denyut ekonomi kota.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan bangunan Stasiun Kereta Api Medan, sebuah simpul pergerakan yang sejak lebih dari satu abad lalu menjadi denyut transportasi di kota ini. Bangunan yang kini resmi tercatat sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 ini memiliki Nomor Dokumen 38/CB/B/2021. Jenisnya termasuk Bangunan Utama Stasiun Kereta Api dengan sifat profan, dan statusnya sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya yang sah berlaku.
Lihat Detail →

Bangunan ini menyimpan cerita tentang dunia pelayaran dan perkantoran yang pernah hidup di Kota Medan. Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar awal tahun 1920-an dan berfungsi sebagai kantor “Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN)” atau “Netherlands Steamship Company”. Perusahaan pelayaran asal Belanda ini beroperasi dalam rentang waktu yang panjang, sejak tahun 1870 hingga 1970, dan menjalankan usahanya bersama kompetitor di bidang yang sama, yaitu Koninklijke Rotterdamsche Lloyd (KRL).
Lihat Detail →

Begitu kamu memperhatikan bangunan ini dari kejauhan, kesan megah dan tertib langsung terasa. Bangunan ini bukan sekadar kantor lama, melainkan titik penting dari lahirnya kota Medan sebagai pusat industri perkebunan. Setelah Deli Maatschappij resmi berdiri pada tahun 1869, para pionir perusahaan tembakau Deli memutuskan memindahkan kantor mereka dari kawasan Labuhan ke Medan Putri pada tahun 1870, tepatnya di dekat pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Pada masa awal, kantor Deli Maatschappij masih sangat sederhana, berupa bangunan panggung dari konstruksi kayu yang berdiri di atas tanah sewaan milik Sultan Deli.
Lihat Detail →

Di titik ini, kamu sedang berhadapan dengan jejak awal budaya belanja modern di Kota Medan. Jauh sebelum Jalan Kesawan dikenal sebagai pusat niaga, bangunan inilah yang lebih dulu menjadi rujukan warga untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Gedung Seng Hap merupakan pusat perbelanjaan Cina pertama di Kota Medan, bahkan jauh sebelum dibukanya Jalan Kesawan. Pusat perbelanjaan ini didirikan oleh Tan Tang Ho pada tahun 1881 dengan bangunan berbahan kayu. Bangunan awal tersebut kemudian terbakar dan dibangun kembali dengan bangunan permanen yang masih berdiri hingga kini pada tahun 1900. Pada masanya, Seng Hap dikenal sebagai pusat perbelanjaan mewah dan sangat terkenal di wilayah pantai timur Sumatra.
Lihat Detail →

Begitu pandanganmu tertuju pada bangunan di sudut Jalan Ahmad Yani ini, kamu sedang berhadapan dengan salah satu saksi penting perjalanan ekonomi dan arsitektur modern awal di Kota Medan. Bangunan yang kini dikenal sebagai Eks Bank Modern ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan rekaman fisik dari masa ketika Medan tumbuh sebagai kota perdagangan dan industri perkebunan yang sangat strategis di Sumatra. Bangunan ini berdiri di Jalan Ahmad Yani No. 36, Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, pada sebuah persimpangan yang sejak lama menjadi pusat aktivitas ekonomi. Dibangun pada tahun 1929, bangunan ini berasal dari periode kolonial, dan sejak awal bersifat profane, digunakan untuk fungsi perkantoran.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jalan Ahmad Yani No. 92, di kawasan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara. Di tengah deretan ruko di sisi utara, selatan, dan barat, serta langsung berhadapan dengan Jalan Jenderal Ahmad Yani di sisi timur, berdiri sebuah bangunan lama yang sejak pandangan pertama sudah menghadirkan suasana berbeda. Inilah Restoran Tip Top, bangunan cagar budaya yang telah ditetapkan melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 45/CB/B/2021 dan berstatus sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.
Lihat Detail →

Saat kamu menatap bangunan di Jalan Ahmad Yani No. 107 ini, mungkin kamu tidak langsung membayangkan deru mesin cetak atau aroma kertas baru. Padahal, gedung yang kini dikenal sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara ini pernah menjadi salah satu pusat penting dunia percetakan dan informasi di Kota Medan. Dahulu, bangunan ini dikenal sebagai Gedung Boekhandels Varekamp & Co, yang berfungsi sebagai gedung percetakan Harian De Sumatra Post sekaligus toko buku. Setelah melalui proses renovasi, gedung ini mulai digunakan kembali pada April 1922. Renovasi dikerjakan oleh firma Langereis & Co, sementara perancangan bangunan—baik eksterior maupun interior—ditangani oleh Broekema.
Lihat Detail →

Saat kamu melangkah di depan bangunan ini, kesan sederhana yang tampak justru menyimpan cerita panjang tentang perdagangan, nasionalisasi, dan perubahan ekonomi di kota Medan. Bangunan ini menjadi saksi bagaimana sebuah toko kolonial bertransformasi menjadi kantor perusahaan negara. Pada awalnya, bangunan ini merupakan sebuah toko bernama Winkels Schueper. Memasuki tahun 1950-an, setelah proses nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia, bangunan ini kemudian difungsikan sebagai kantor PT Dharma Niaga. PT Dharma Niaga merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada era 1950-an dan berasal dari kelompok perusahaan besar peninggalan masa Hindia Belanda yang dikenal sebagai “The Big Five” atau “Lima Besar”.
Lihat Detail →

Bangunan ini sejak awal berdirinya bukan bangunan biasa, dan jelas bukan sekadar bangunan kantor kolonial. Bangunan yang kini dikenal sebagai Feng Huang (Eks Kantor Inspektorat Provinsi Sumatera Utara) pada mulanya berfungsi sebagai gedung majelis musyawarah para sultan Sumatera Timur. Di sinilah Sultan Deli, Sultan Langkat, Sultan Asahan, dan Sultan Serdang berkumpul dalam satu ruang, duduk sejajar sebagai penguasa tradisional, membahas urusan politik, sosial, dan masa depan wilayah Sumatera Timur. Fungsi awal ini menempatkan bangunan di Jalan Sukamulia No. 13, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, sebagai ruang politik tradisional yang sangat penting sebelum dan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan lama Kota Medan, di antara bangunan-bangunan yang menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan dan iman di kota ini. Di hadapanmu berdiri Bangunan Sekolah YPK Santo Yoseph, sebuah kompleks pendidikan yang kini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Dari fasadnya yang simetris hingga detail arsitekturnya yang sederhana namun tegas, bangunan ini langsung memperlihatkan jejak kuat masa kolonial yang masih terawat dengan baik hingga sekarang.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan sebuah bangunan perbankan tua yang berdiri kokoh di kawasan bersejarah Kota Medan, dikenal sebagai Kantor Bank Tabungan Negara. Gedung ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dan diusulkan menjadi Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Jenis bangunannya adalah kantor dengan sifat profan, sebuah ruang layanan publik yang sejak awal dirancang untuk aktivitas perbankan dan penghimpunan dana masyarakat. Bangunan ini beralamat di Jalan Pemuda No. 10, Desa Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat tengah 3°58’3694” LU dan 98°68’0967” BT. Di sebelah utara berbatasan dengan ruko, di sebelah timur berbatasan langsung dengan Jalan Pemuda, di sebelah selatan berbatasan dengan Bank BNI, dan di sebelah barat berbatasan dengan Jalan Kolonel Sugiono. Letaknya berada di kawasan inti kota lama Medan yang sejak masa kolonial berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa keuangan.
Lihat Detail →

Kamu sedang berada di depan sebuah gedung yang berdiri tegak di Jalan Pemuda No. 12, menampilkan kesan kuat dan sederhana khas arsitektur modern awal 1960-an. Bangunan ini adalah Kantor BNI Medan, yang saat ini berfungsi sebagai kantor Bank Negara Indonesia, tetapi lebih dari sekadar ruang administrasi. Gedung ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, bersifat profan, dan termasuk kategori kantor. Meskipun sebagian fasadnya kini tertutup zincalume, interior gedung masih mempertahankan konsep asli karya Frederich Silaban, menonjolkan kesederhanaan, ketenangan, dan keheningan khas arsitek modern Indonesia pascakemerdekaan.
Lihat Detail →

Saat kamu berdiri di depan bangunan ini, mungkin yang pertama terlihat adalah warna biru pekat dan oranye yang cukup mencolok. Namun di balik tampilan modern tersebut, bangunan ini menyimpan cerita panjang tentang awal perkembangan industri farmasi di Indonesia, sekaligus jejak sejarah kota Medan sejak masa kolonial. Perjalanan bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kimia Farma, perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1817 dengan nama awal NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Nama Rathkamp inilah yang kemudian melekat pada apotek yang berdiri di kota Medan ini.
Lihat Detail →

Kamu berada di halaman sebuah sekolah tua yang masih aktif hingga hari ini, dikelilingi pepohonan dan suasana kawasan Polonia yang dikenal sebagai lingkungan taman tropis. Di hadapanmu berdiri bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 55/CB/B/2021 dan berstatus sudah ditetapkan. Bangunan ini dikenal sebagai Sekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan, sebuah institusi pendidikan yang menjadi bagian penting perjalanan sejarah pendidikan di Kota Medan sejak masa kolonial.
Lihat Detail →
5 Objek Cagar Budaya paling ikonik di Kota Medan yang wajib kamu kunjungi
Kota Medan memiliki beragam objek cagar budaya yang meliputi bangunan, kawasan, struktur, situs, dan benda. Peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota yang telah dimulai sejak abad ke-11.
Lapisan sejarah tersebut mencerminkan perkembangan kebudayaan dari era pemukiman kuno di Situs Kota Cina, berlanjut pada masa Kesultanan Melayu Deli, periode kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga perkembangan kota pada masa pasca kemerdekaan. Setiap objek cagar budaya menjadi penanda penting yang membentuk identitas sejarah dan budaya Kota Medan hingga hari ini.
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Pelestarian objek cagar budaya membantu menjaga identitas sejarah kota, mendukung pariwisata sejarah, serta menjadi sumber edukasi bagi generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.