Stasiun Kereta Api Medan

Stasiun Kereta Api Medan

Bangunan
Stasiun Kereta Api Medan - 1
Stasiun Kereta Api Medan - 2
Stasiun Kereta Api Medan - 3
Stasiun Kereta Api Medan - 4
Stasiun Kereta Api Medan - 5

Deskripsi Sejarah

Kamu berada di depan bangunan Stasiun Kereta Api Medan, sebuah simpul pergerakan yang sejak lebih dari satu abad lalu menjadi denyut transportasi di kota ini. Bangunan yang kini resmi tercatat sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 ini memiliki Nomor Dokumen 38/CB/B/2021. Jenisnya termasuk Bangunan Utama Stasiun Kereta Api dengan sifat profan, dan statusnya sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya yang sah berlaku.

Lokasinya berada di Jalan Stasiun Kereta Api, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Koordinat tengahnya tercatat pada 3° 59’ 0651’’ LU dan 98° 67’ 9827’’ BT. Di sebelah utara berbatasan dengan Depot Bengkel Kereta PT KAI, di sebelah timur dengan Jalan Jawa, di selatan dengan Jalan Kereta Api, dan di barat juga dengan Jalan Kereta Api. Posisi ini menjadikannya sangat strategis, berdampingan dengan kawasan bersejarah Lapangan Merdeka dan inti kota lama Medan.

Bangunan ini pertama kali berdiri pada tahun 1883 oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta di bawah manajemen Belanda. Operasionalnya dimulai tahun 1886, lalu diperluas pada tahun 1892 dengan penambahan di kedua sisi bangunan. Menaranya dibangun pada dekade 1910-an dan bangunan ini mengalami renovasi pada tahun 1939, 1989, dan 1995. Secara periodisasi, bangunan ini berasal dari masa Kolonial.

Secara arsitektural, bangunan awalnya dirancang dua tingkat, kemudian berkembang menjadi kompleks yang kini terdiri dari bangunan utama berlantai empat yang dihubungkan dengan bangunan satu lantai. Struktur awalnya menggunakan cor beton untuk lantai, dinding pemikul atau bearing wall, serta atap kayu. Gaya arsitektur yang tampak sekarang memperlihatkan langgam modern fungsional, terutama setelah pembaruan besar pada tahun 1938 yang melibatkan Ir. Meijer bersama Ir. J.H. Valk. Penambahan menara jam menjadi elemen penting yang memberi keseimbangan visual dan karakter kuat pada fasade.

Perkembangan fungsi bangunan terus mengikuti kebutuhan zaman. Pada tahun 1926 ditambahkan platform baru di seberang rel yang diakses melalui terowongan dari bangunan utama, dan terowongan itu masih digunakan hingga kini untuk jalur kereta api luar kota. Untuk layanan kereta api bandara atau railink, akses menuju peron dilakukan melalui skybridge. Renovasi besar pada tahun 2013 membagi bangunan menjadi dua bagian, sisi utara untuk stasiun kereta api bandara dan sisi selatan untuk kereta api antarkota. Pada bagian utara dilakukan peninggian level lantai, sementara bagian selatan dibuat lebih rendah menyesuaikan kebutuhan operasional.

Sejarah panjangnya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri perkebunan di Sumatera Timur. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, stasiun ini menjadi pusat distribusi tembakau, karet, dan komoditas lainnya. Data menunjukkan pada tahun 1888 perusahaan telah mengangkut 28.559 ton barang, yang melonjak drastis pada tahun 1900. Pada tahun 1913 tercatat 50.230 penumpang kelas I, 151.000 penumpang kelas II, dan 1,56 juta penumpang kelas III, selain ratusan ribu ton kargo dan ribuan hewan ternak. Jalur yang dioperasikan mencapai 263 kilometer pada tahun 1914, dan terus berkembang hingga terhubung ke Besitang, Pangkalan Susu, dan Pangkalan Brandan pada 1919.

Pada tahun 1938 bangunan kembali diperluas dan ditambahkan menara jam yang anggun. Setelah nasionalisasi pada tahun 1957, DSM berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api dan kini menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional I Sumut–NAD. Status kepemilikan dan pengelolaannya saat ini berada di bawah PT KAI.

Kondisi bangunan saat ini dinyatakan utuh, terpelihara, dan pernah dipugar. Meski terdapat beberapa kerusakan ringan seperti dinding lembab dan cat yang terkelupas, secara keseluruhan bangunan tetap terawat dan berfungsi aktif. Perluasan pada bagian utara untuk layanan kereta api bandara menjadi bagian dari adaptasi modern tanpa menghilangkan keberadaan menara jam sebagai ikon historisnya.

Nilai pentingnya didasarkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 dan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. Dari sisi sejarah, stasiun ini merupakan jalur kereta api pertama di Sumatera Timur dan menjadi stasiun pusat pertama untuk penumpang dan barang di wilayah ini. Dari sisi estetika, pengaruh langgam Nieuw Bouwen terlihat pada bentuk massa bangunan, garis-garis tegas, dan ekspresi menara jam yang modern pada masanya. Bangunan ini juga menjadi bagian penting dalam sejarah transportasi, industri perkebunan, dan perkembangan ekonomi Kota Medan.

Karena nilai sejarah dan estetika tersebut, Stasiun Kereta Api Medan diusulkan dan direkomendasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara berdasarkan hasil verifikasi Tim Ahli Cagar Budaya Kota Medan tahun 2025. Saat kamu berdiri di bawah bayang menara jamnya dan menyaksikan orang datang dan pergi membawa cerita masing-masing, kamu sebenarnya sedang berada di salah satu titik paling penting dalam perjalanan sejarah transportasi Sumatera Utara yang terus hidup hingga hari ini.

Informasi

Lokasi Stasiun Kereta Api Medan

Koordinat

3.5916154308226247, 98.67948367979342

Alamat

Jl. Stasiun Kereta Api, Kota Medan, Sumatera Utara