Bank Mandiri (Eks Bank Exim) di Medan

Bank Mandiri (Eks Bank Exim)

Bangunan
Bank Mandiri (Eks Bank Exim) - 1
Bank Mandiri (Eks Bank Exim) - 2
Bank Mandiri (Eks Bank Exim) - 3

Deskripsi Sejarah

Saat kamu berdiri di sudut Jalan Raden Saleh, tepat berhadapan dengan Balai Kota Medan, bangunan besar yang ada di depanmu ini bukan sekadar gedung perkantoran. Bangunan ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perdagangan, perbankan, dan perkembangan ekonomi kota Medan sejak masa kolonial Belanda. Gedung ini dulunya merupakan kantor Netherlandsche Handel Maatschappij atau NHM, sebuah perusahaan dagang Belanda yang awalnya menangani urusan ekspor di wilayah Hindia Belanda. Seiring waktu, NHM bertransformasi menjadi sebuah bank pada sekitar tahun 1860-an dan dikenal sebagai bank kedua yang didirikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda, setelah berdiri di Indonesia sejak tahun 1824.

Ketertarikan NHM terhadap wilayah pantai timur Sumatera sangat besar, yang tercermin dari kepemilikan sahamnya yang cukup signifikan pada Deli Maatschappij. Di kota Medan, NHM telah memiliki kantor sendiri sejak tahun 1888. Kantor awal ini dikenal sebagai karsorder atau kantor juru bayar, yang selama beberapa tahun berlokasi di sudut Jalan Balai Kota dan Jalan Ahmad Yani VII, lokasi yang kini menjadi tapak Gedung Bank Mandiri eks Bank Bumi Daya.

Bangunan yang kamu lihat sekarang ini dirancang oleh dua arsitek Belanda, yaitu J.D. de Bruyn dan Cornelis van der Linde, dan selesai dibangun pada tahun 1929. Pada waktu yang sama, NHM juga membangun kantor lainnya di Batavia dengan arsitek yang sama, sehingga gedung NHM di Medan dan Batavia memiliki keterkaitan langsung baik secara sejarah maupun perancangan.

Pada masa pendudukan Jepang, seluruh lembaga milik Belanda dilikuidasi dan ditutup karena dianggap sebagai bank milik musuh, termasuk NV NHM. Pada masa tersebut, bangunan ini digunakan sebagai kantor pemerintahan Jepang yang dikenal dengan nama Gunseikanbu. Setelah Indonesia merdeka, lembaga-lembaga keuangan yang sebelumnya dilikuidasi secara bertahap kembali beroperasi.

Pada tahun 1957, NHM digabungkan ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), hasil peleburan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan Bank Tani dan Nelayan (BTN). Selanjutnya, pada tanggal 31 Desember 1968, gedung ini beralih fungsi menjadi kantor pusat Bank Export Import atau Bank Exim. Perjalanan fungsi gedung ini berlanjut hingga Bank Exim melakukan legal merger bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada tahun 1999, yang kemudian membentuk Bank Mandiri. Sejak saat itu, gedung ini menjadi aset Bank Mandiri.

Dari sisi arsitektur, bangunan ini merupakan salah satu bangunan sudut paling menarik di kota Medan. Gaya arsitekturnya termasuk dalam arsitektur Indisch dengan langgam Nieuw-Zakelijk atau Art Deco Klasik. Bangunan ini terdiri dari empat lantai dengan atap datar dan dua menara kecil di bagian sudut. Desainnya meminimalkan penggunaan ornamen, sehingga menampilkan kesan tegas, modern, dan fungsional.

Interior dan furnitur bangunan ini dirancang oleh Anthonie Pieter Smits (1881–1957) bersama asistennya Maurits Bruno Tideman (1888–1969), bersamaan dengan perancangan interior gedung NHM di Batavia. Di bagian dalam, terlihat kemegahan ubin lantai dan dinding yang terbuat dari berbagai material seperti kaca, semen, kayu, dan beton, dengan ukuran, bentuk, serta motif yang beragam.

Salah satu elemen interior paling menonjol adalah penggunaan ubin kaca atau glasmozaik tegels berukuran 5 cm x 5 cm x 1 cm yang didatangkan khusus dari perusahaan tegel ternama Gianese Angelo di Venesia, Italia. Motif ubin kaca ini sangat bervariasi dan indah. Selain itu, masih terdapat dinding partisi dan kusen dari kayu jati yang memperkuat karakter interior bangunan.

Bangunan ini juga merupakan contoh penerapan arsitektur modern melalui penggunaan fasade ganda atau double facades, yang berfungsi menghindari paparan langsung sinar matahari ke dalam bangunan. Kaca patri tetap dipertahankan sebagai elemen dekorasi dan ditempatkan pada bordes tangga, sekaligus berfungsi menghadirkan pencahayaan alami sehingga ruang tangga terasa terang.

Saat ini, lantai satu dan dua digunakan oleh Bank Mandiri, sementara lantai tiga dan empat dimanfaatkan sebagai Kantor Pemasaran Bersama PTPN I dan PTPN IX. Bangunan ini tampak terawat dengan baik, dengan sejumlah ornamen material dinding yang masih dipertahankan meskipun terdapat perubahan partisi ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Karena nilai sejarahnya yang kuat, nilai estetika arsitekturnya yang khas, nilai ilmiah sebagai objek kajian arsitektur dan perbankan, serta kelangkaan bangunan bergaya Indisch dengan langgam Nieuw-Zakelijk atau Art Deco Klasik di kota Medan, bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Berdiri di lokasi strategis, gedung ini menjadi saksi perjalanan panjang perbankan dan perkembangan ekonomi kota Medan dari masa kolonial hingga masa kini.

Informasi

Lokasi Bank Mandiri (Eks Bank Exim)

Koordinat

3.589503522742151, 98.67778993863415

Alamat Resmi

Jl. Balai Kota No. 1, Kota Medan, Sumatera Utara