
Bank Mandiri (Eks Bank Dagang Negara)
Bangunan



Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/bank-mandiri-eks-bank-dagang-negaraDeskripsi Sejarah
Kamu berada di persimpangan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Palang Merah, tepat di jantung kawasan Kesawan yang sejak dulu dikenal sebagai pusat niaga Kota Medan. Di hadapanmu berdiri Bangunan Bank Mandiri eks Bank Dagang Negara, sebuah gedung perbankan bersejarah yang kini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026. Bangunan ini tercatat dengan nama resmi Bank Mandiri Eks Bank Dagang Negara, berjenis Kantor dengan sifat Profan, periode Kolonial, dan berstatus Sudah Ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Kepemilikan serta pengelolaannya berada di bawah PT. Bank Mandiri Tbk. Lokasinya berada di Jalan Ahmad Yani – Palang Merah, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat tengah 3° 58’ 489’’ N dan 98° 68’ 071’’ E. Di sebelah utara berbatasan dengan deretan ruko, di timur dengan Bank UOB, di selatan dengan Jalan Palang Merah, dan di barat dengan Jalan Jenderal Ahmad Yani. Posisinya yang berada di simpang strategis kawasan Kesawan menegaskan perannya sejak awal sebagai bangunan komersial penting dalam denyut ekonomi kota.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1920 dan berasal dari masa Kolonial. Luas lantainya kurang lebih 36 x 28 meter, menghadap ke arah Kesawan pada sisi tersempitnya. Struktur bangunan terdiri dari basement yang relatif rendah dan lantai masuk yang tinggi. Bagian tengah fasad memiliki tiga sumbu, sementara sayap kiri dan kanan masing-masing dua sumbu, dengan bagian belakang yang menonjol. Di depan terdapat koridor tertutup dengan bukaan persegi panjang rapat di setiap sumbu, menegaskan karakter bangunan yang cenderung tertutup dan kokoh. Material utamanya menggunakan batu dan beton bertulang, menunjukkan penerapan teknologi konstruksi modern pada masanya. Atapnya berbentuk piramida yang menjorok mengikuti garis fasad, dengan aksentuasi menara kecil di bagian depan sebagai penanda pintu masuk. Di bawah atap terdapat kantilever beton yang berfungsi melindungi dinding dari tempias hujan dan paparan matahari langsung, sebuah bentuk adaptasi terhadap iklim tropis lembap. Bukaan vertikal yang tersusun rapi di sepanjang dinding membantu sirkulasi udara dan pencahayaan alami, meskipun ukuran jendelanya relatif kecil sehingga memberi kesan masif.
Ruang bawah tanah difungsikan sebagai area brankas yang terdiri dari ruang brankas, ruang arsip, ruang makan, dan toilet. Ketika pertama kali masuk, pengunjung akan langsung berhadapan dengan aula besar untuk umum yang dikelilingi ruang agen, departemen sekuritas, meja kasir, dan ruang pembukuan. Di atasnya terdapat kubah sederhana dengan ventilasi cahaya. Secara arsitektural, bangunan ini memiliki kemiripan dengan cabangnya di Noordwijk, Batavia, baik dari segi proporsi maupun ornamen khas Escompto berupa tiga garis horizontal dengan tiang bendera vertikal.
Dalam catatan sejarahnya, pada November 1926 surat kabar Sumatra Post memberitakan bahwa Mr. Jaski yang mewakili biro arsitek Hulswit-Fermont-Cuypers membeli tanah di sudut Kesawan dan Kerkstraat, yang kini menjadi Jalan Palang Merah. Pada awal 1927 diketahui bahwa Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij akan membangun kantor cabang di lokasi tersebut. Peletakan batu pertama dilakukan pada 27 Agustus 1927 dengan ritual resmi yang dihadiri agen bank, staf, Fermont, Jaski, serta pengawas Van Driel. Gedung ini kemudian diresmikan pada 1 September 1928 oleh Presiden-direktur Sandrock dan Arthur Fermont. Awalnya bangunan ini berfungsi sebagai kantor Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij, salah satu bank terbesar kedua setelah De Javasche Bank di Batavia. Pada tahun 1949 berubah menjadi Bank Escompto. Tahun 1960, setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Pemerintah Hindia Belanda, bank ini menjadi Bank Dagang Negara. Ketika krisis ekonomi 1998 melanda Indonesia, Bank Dagang Negara melebur bersama beberapa bank lain dan lahirlah Bank Mandiri.
Kondisi bangunan saat ini dinyatakan utuh dan terpelihara. Gedung pernah mengalami perbaikan dan renovasi pada tahun 1990-an, namun tetap mempertahankan keaslian desain awal karya biro arsitek Hulswit-Fermont-Cuypers dari Batavia. Secara visual, meski terlihat beberapa lumut menempel di sisi Jalan Palang Merah dan permukaan dinding mulai buram akibat cuaca, karakter arsitektur kolonial modernnya masih sangat kuat dan terbaca jelas. Nilai penting bangunan ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 dan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. Dari sisi sejarah, gedung ini menjadi bagian penting perkembangan perbankan kolonial di Medan, terutama sebagai cabang Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij yang hanya hadir di kota-kota besar. Dari sisi estetika, desain modern kolonial dengan adaptasi tropisnya memperkuat karakter kawasan Kesawan. Dari sisi ilmiah, bangunan ini menjadi sumber informasi mengenai teknologi konstruksi beton bertulang dan tata ruang perbankan awal abad ke-20. Dari sisi kelangkaan, langgam modern kolonial adaptif seperti ini semakin jarang ditemukan. Dan dari sisi keaslian, bentuk, fasad, serta tata ruang utamanya masih mempertahankan rancangan awal. Atas dasar nilai sejarah, estetika, ilmiah, kelangkaan, dan keaslian tersebut, bangunan ini direkomendasikan melalui hasil verifikasi untuk ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Saat kamu berdiri di sudut simpang itu, kamu tidak hanya melihat kantor bank yang masih beroperasi, tetapi juga jejak panjang perjalanan ekonomi kolonial, nasionalisasi, hingga transformasi perbankan modern Indonesia yang semuanya pernah berlangsung di dalam dinding kokoh bangunan ini.



Informasi
Lokasi Bank Mandiri (Eks Bank Dagang Negara)
Koordinat
3.584815734094564, 98.68059283529456
Alamat
Jl. Ahmad Yani – Jl. Palang Merah, Kota Medan, Sumatera Utara