Sejarah Perkembangan Kota
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Menampilkan 126 Objek

Selamat datang di Kuil Sree Supramaniem Nagarattar, salah satu peninggalan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah, religi, estetika, dan budaya tinggi di Kota Medan. Ketika Anda berdiri di depan kuil ini, Anda sedang melihat sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perjalanan panjang komunitas India Tamil di kota ini. Kuil ini merupakan kuil Hindu pertama yang dibangun untuk orang India di Medan, diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1892, dan secara resmi mendapatkan pengesahan kembali dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 12 Desember 1916. Lokasinya yang strategis berada di dekat pemukiman masyarakat India, yang dikenal sebagai Kampung Madras atau Keling, memudahkan komunitas ini untuk mengadakan kegiatan keagamaan dan sosial.
Lihat Detail →

Kamu sedang berada di Jl. Letjend Soeprapto No. 1, Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun, tepat di hadapan bangunan yang tampak sederhana dari luar, namun menyimpan jejak sejarah panjang Kota Medan. Inilah Kantor Pembinaan Administrasi Veteran Cadangan (Babinminvetcaddam) I Bukit Barisan, gedung yang awalnya dibangun pada tahun 1950 sebagai kantor Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), anak perusahaan Royal Dutch Shell yang pada masa kolonial menjadi salah satu penghasil minyak utama di Indonesia. Gedung ini berdiri tegak berseberangan dengan kantor HVA, kini PTPN IV, dan sejak awal menjadi pusat administrasi industri minyak, khususnya untuk kilang Pangkalan Brandan yang menjadi sumber minyak penting di Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Selamat datang di Rumah Tinggal Ms Yetina. Saat ini Anda berada di salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi kehidupan sosial dan budaya kota Medan pada masa kolonial. Terletak di Jl. Mangkubumi No. 9, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, rumah tinggal ini memiliki nilai penting dari sisi sejarah, estetika, dan keaslian. Bangunan menempati koordinat 3°58’25,86” LU dan 98°68’01,22” BT, dengan batas-batas yang jelas: di utara berbatasan dengan Jalan Perintis Kemerdekaan, di timur berbatasan dengan Jalan Sutomo, di selatan berbatasan dengan ruko, dan di barat berbatasan dengan Jalan Timor.
Lihat Detail →

Kamu berdiri di sebuah rumah tinggal lama di Jalan Imam Bonjol Nomor 25, Kota Medan. Bangunan ini tidak berdiri mencolok, tetapi keberadaannya terasa tenang dan mapan, seolah sejak lama sudah terbiasa menjadi bagian dari ritme kawasan ini. Dari halaman yang cukup luas, kamu bisa melihat bagaimana bangunan ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat berteduh, melainkan sebagai rumah dinas bagi pimpinan lembaga keuangan penting pada masanya.
Lihat Detail →

Kamu berdiri di tepi Jalan Imam Bonjol, tepat di depan nomor 27. Lalu lintas kota Medan bergerak biasa saja, tapi begitu pandanganmu menembus pagar dan pepohonan tua di halaman, suasananya langsung berubah. Ada jarak halus antara hiruk-pikuk kota dan ketenangan sebuah rumah besar yang sejak awal abad ke-20 dirancang bukan sekadar untuk ditinggali, tetapi untuk mewakili wibawa. Inilah Rumah Dinas Pimpinan Bank Indonesia Medan, sebuah bangunan tempat tinggal yang hari ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan sebuah rumah tinggal besar yang sejak masa kolonial telah menjadi bagian dari kawasan hunian elite Kota Medan. Bangunan ini berdiri di salah satu ruas jalan utama kota, di lingkungan yang sejak awal dirancang sebagai kawasan permukiman pejabat dan kalangan administrasi penting. Hingga hari ini, fungsi hunian tersebut tetap bertahan, menjadikan bangunan ini sebagai salah satu saksi keberlanjutan tata kota Medan dari masa kolonial hingga sekarang.
Lihat Detail →

Kamu berdiri di simpang Jalan Kejaksaan dan Jalan Taruma, Medan Petisah. Lalu lintas bergerak seperti biasa, tapi di antara deru kendaraan itu ada satu bangunan yang terasa lebih tenang, seolah menahan waktu agar tidak terlalu cepat berlalu. Di hadapanmu berdiri Masjid Jamik, masjid tua yang sejak akhir abad ke-19 menjadi penanda kehadiran komunitas Muslim India di Kota Medan.
Lihat Detail →

Selamat datang di Kantor PT. PLN, salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan Kota Medan pada masa kolonial Belanda dan era awal modernisasi infrastruktur energi listrik di Sumatera Utara. Bangunan ini berada di Jl. Listrik No. 8/9, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat 3°58’58,61” LU dan 98°67’61,25” BT. Batas-batas tanahnya cukup jelas: di utara berbatasan dengan Sungai Deli, di timur berbatasan dengan Rumah Sakit Columbia Asia, di selatan berbatasan dengan Jl. Listrik, dan di barat berbatasan dengan Balai Harta Peninggalan Medan. Lokasi ini strategis karena berada di kawasan perkantoran kolonial yang pada awal abad ke-20 menjadi pusat administrasi dan pelayanan publik kota.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan yang dikenal sebagai Kebun Bunga, sebuah taman memorial bersejarah di Kota Medan. Di pintu masuk tertulis Taman Kebun Bunga (Mao Rong Yuan), dan di bagian dalam terdapat gerbang bertuliskan Taman Tjong Yong Hian. Dua makam megah berwarna merah marun berdiri di tengah taman yang ditata dengan jalur setapak, tanaman hias, dan kolam teratai di bagian depan. Kolam ini memiliki makna feng shui sebagai simbol kemuliaan dan posisi terhormat. Di kawasan yang sama terdapat galeri memorabilia keluarga yang kini dikenal sebagai Museum Tjong Yong Hian, memperkuat karakter taman sebagai memorial park bernilai sejarah, sosial, budaya, dan spiritual.
Lihat Detail →

Kamu berada di dalam kawasan Kantor Perusahaan Gas Negara Glugur, sebuah lingkungan yang sejak awal memang dirancang untuk menampung fungsi-fungsi penting penunjang kehidupan kota. Di hadapanmu berdiri bangunan yang hari ini dikenal sebagai aula, namun sesungguhnya menyimpan peran jauh lebih besar dalam sejarah Medan. Lokasinya di Jalan K.L. Yos Sudarso Lorong XII Nomor 18 menempatkannya di jantung kawasan Glugur, Medan Barat, area yang sejak awal abad ke-20 berkembang sebagai pusat infrastruktur dan utilitas kota.
Lihat Detail →

Kamu berada di tepian Sungai Deli, di kawasan lama yang sejak awal abad ke-20 menjadi bagian penting perkembangan infrastruktur energi di Kota Medan. Di hadapanmu berdiri Bangunan Kantor Pusat Sertifikasi PT PLN (Persero), sebuah bangunan yang kini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan tahun 2026. Dari tampilannya yang masih menyisakan karakter kolonial, bangunan ini tidak sekadar kantor, melainkan saksi awal masuknya listrik sebagai simbol modernitas di kota ini.
Lihat Detail →

Selamat datang di Kantor Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Medan Utara. Anda berada di salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan energi listrik dan modernisasi Kota Medan. Gedung ini beralamat di Jl. Kol. Yos Sudarso No.115, Kelurahan Glugur Kota, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis, bangunan ini berada pada koordinat 3°58’58,61’’ LU dan 98°67’61,25’’ BT, dengan batas utara Rumah Tinggal Socfindo, timur Rumah Tinggal PLN, barat Jl. Kol. Yos Sudarso, dan sisi selatan yang terbuka.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah kawasan permukiman tua yang menyimpan lapisan sejarah panjang perkembangan industri perkebunan di Sumatera Timur. Di antara jalan-jalan yang kini dipadati aktivitas warga, berdiri deretan barak, bangunan tua, dan menara air yang masih menjulang sebagai penanda masa lalu. Inilah Kompleks Asrama Glugur Hong, situs yang dahulu menjadi tempat karantina buruh kontrak sebelum diberangkatkan ke perkebunan-perkebunan di pesisir timur Sumatra. Suasananya hari ini tampak seperti lingkungan hunian biasa, namun setiap blok bangunan dan sisa fasilitas yang bertahan menyimpan cerita tentang kerja paksa, masa perang, hingga perubahan fungsi dari era kolonial ke masa revolusi dan sesudahnya.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah kawasan tua di selatan Kota Medan yang sejak awal abad ke-20 tumbuh sebagai bagian dari ekspansi kota menuju arah perkebunan dan jalur kereta api, dikenal sebagai Kawasan Kampung Baru. Kawasan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026 dengan luas ±104.258 meter persegi, berjenis hunian, bersifat profan, berperiode kolonial, dibangun sekitar tahun 1910, dan telah berstatus sebagai Kawasan Cagar Budaya. Secara administratif berada di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan batas utara Jalan Lampu, timur Busi, selatan Jalan Avros, dan barat Jalan Lingkungan. Kawasan ini menyatu dengan struktur kampung lama yang berkembang seiring perluasan Kota Medan ke arah selatan pada akhir 1910-an, membentuk lanskap historis yang masih dapat dikenali hingga kini.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah kawasan kota yang sejak akhir abad ke-19 menjadi ruang hidup komunitas India di Medan, sebuah lingkungan yang tumbuh bersama dinamika kolonial, perdagangan, dan percampuran budaya yang kini dikenal sebagai Kawasan Kampung Madras. Kawasan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026 dengan luas kawasan inti sekitar ±10 hektare atau 234.412 meter persegi, berjenis hunian, bersifat profan, dan telah berstatus sebagai kawasan cagar budaya. Secara administratif berada di wilayah Petisah Tengah, Petisah Hulu, dan Madras Hulu yang mencakup Kecamatan Medan Petisah dan Medan Polonia, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan batas utara Jalan Kejaksaan, timur Sungai Babura, selatan Jalan Jenderal Sudirman, dan barat Jalan Teuku Umar. Kawasan ini mulai terbentuk pada 1800-an dan berkembang pada masa kolonial sebagai bagian dari penataan kota berbasis zonasi etnis dan fungsi permukiman.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan Jalan Putri Hijau No. 24 A, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Medan. Di antara bangunan modern berdiri kompleks Makam Syech Said Bachrin, juga dikenal sebagai Syech Said Bahrain atau Said Tahir. Struktur sakral ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan kini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Koordinatnya berada pada 3°59’92,09” LU dan 98°67’35,95” BT, berbatasan dengan Rumah Sakit Putri Hijau (utara), Bank BTPN KC Medan (timur), Rumah Sakit Umum Tembakau Deli (selatan), dan Bank BRI (barat).
Lihat Detail →
5 Objek Cagar Budaya paling ikonik di Kota Medan yang wajib kamu kunjungi
Kota Medan memiliki beragam objek cagar budaya yang meliputi bangunan, kawasan, struktur, situs, dan benda. Peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota yang telah dimulai sejak abad ke-11.
Lapisan sejarah tersebut mencerminkan perkembangan kebudayaan dari era pemukiman kuno di Situs Kota Cina, berlanjut pada masa Kesultanan Melayu Deli, periode kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga perkembangan kota pada masa pasca kemerdekaan. Setiap objek cagar budaya menjadi penanda penting yang membentuk identitas sejarah dan budaya Kota Medan hingga hari ini.
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Pelestarian objek cagar budaya membantu menjaga identitas sejarah kota, mendukung pariwisata sejarah, serta menjadi sumber edukasi bagi generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.