
Sekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan
Bangunan



Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/sekolah-badan-perguruan-nasrani-1-medanDeskripsi Sejarah
Kamu berada di halaman sebuah sekolah tua yang masih aktif hingga hari ini, dikelilingi pepohonan dan suasana kawasan Polonia yang dikenal sebagai lingkungan taman tropis. Di hadapanmu berdiri bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 55/CB/B/2021 dan berstatus sudah ditetapkan. Bangunan ini dikenal sebagai Sekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan, sebuah institusi pendidikan yang menjadi bagian penting perjalanan sejarah pendidikan di Kota Medan sejak masa kolonial.
Lokasinya berada di Jalan Mayjend S. Parman atau Kapten Pattimura No. 16, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara administratif, bangunan ini berdiri pada koordinat 3°34’58.77” LU dan 98°39’58.74” BT, dengan ketinggian sekitar 26 meter di atas permukaan laut. Di sisi utara berbatasan dengan Restoran Koki Sunda, di timur dengan Jalan S. Parman, di selatan dengan rumah tinggal, dan di barat dengan Jalan Mojopahit. Lingkungan sekitarnya memperlihatkan perpaduan fungsi hunian dan komersial yang terus berkembang, sementara bangunan sekolah ini tetap mempertahankan karakter lamanya.
Bangunan ini termasuk kategori lainnya sebagai sekolah dan bersifat profan. Tahun pembangunannya tercatat sekitar 1922 hingga 1925 dengan penanda tanggal 31 Desember 1935 dalam riwayatnya, dan termasuk dalam periode kolonial. Awalnya dibangun di atas lahan berukuran 20 x 20 meter dengan luas bangunan sekitar ±400 meter persegi, denahnya berbentuk huruf L, meskipun kini telah mengalami perluasan mengikuti kebutuhan ruang pendidikan yang terus bertambah.
Secara arsitektural, bangunan ini menerapkan langgam Hindia Baru yang beradaptasi dengan iklim tropis. Kamu bisa melihat teras dengan overstek atap yang lebar, garis horizontal yang dominan, serta elemen menara terpancung di bagian depan yang menjadi penanda pintu masuk utama. Pintu masuk berada tepat di sudut siku denah L, menjadikan sudut tersebut sebagai titik orientasi utama bangunan. Karakter arsitektur modern kolonial masa peralihan sangat terasa pada komposisi massa dan detailnya.
Struktur bangunan masih menggunakan sistem dinding pemikul beban atau bearing wall dari bata tanpa kolom besi, mencerminkan teknologi konstruksi pada masanya yang kini semakin jarang ditemukan di Kota Medan. Material yang digunakan meliputi kayu dan bata, serta elemen lainnya seperti beton cor, tegel, dan keramik. Beberapa kusen dan ventilasi kayu masih utuh, walaupun sebagian jendela telah diganti dengan kaca. Sebagian lantai masih mempertahankan beton cor dan tegel lama, sementara sebagian lainnya telah menggunakan keramik.
Di dalam kompleksnya terdapat kantor yayasan, bangunan sekolah untuk tingkat TK, SD, SMP, dan SMA, serta fasilitas pendukung lainnya. Hingga kini kondisi bangunan secara umum masih utuh dan terpelihara, meskipun terdapat kerusakan pada bagian atap, dinding, dan lantai. Riwayat pemugaran tidak tercatat secara khusus, namun bangunan ini tetap difungsikan secara aktif dan dikelola oleh Perkumpulan Perguruan Nasrani Medan.
Sejarah sekolah ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan pendidikan dasar di Kota Medan. Pada tahun 1901 Belanda mendirikan Inlandsche School Tweede Klasse, kemudian pada tahun 1912 berdiri Inlandsche School Eerste Klasse, yang pada tahun 1915 berubah nama menjadi HIS atau Hollands Inlandsche School sebagai respons atas keinginan masyarakat Indonesia memperoleh pendidikan ala Barat. Dalam konteks itulah sekolah ini hadir, memenuhi aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan formal yang lebih tinggi, meskipun pada awalnya pendidikan seperti ini diperuntukkan bagi kalangan tertentu.
Pada 30 Desember 1925, sejumlah orang Belanda yang bekerja di perkebunan mendirikan asosiasi pengurus sekolah Kristen bernama Vereeniging op Christelijke Grondslag. Pada 8 Januari 1926, asosiasi tersebut mendirikan dua sekolah, salah satunya adalah sekolah ini yang saat itu dibangun di Padang Boelanweg, yang kini dikenal sebagai Jalan Kapten Pattimura. Sekolah ini dahulu dikenal sebagai Eerste Christelijke School dan menjadi bagian penting sejarah sekolah Kristen di Kota Medan.
Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 16 Februari 1961, beberapa tokoh Kristen seperti S.G. Mulia Siregar dan T.D. Pardede membentuk badan pengurus baru yang kemudian mengelola sekolah ini hingga kini. Dari sisi nilai penting, bangunan ini memiliki nilai sejarah karena telah berusia sekitar satu abad dan menjadi bagian dari perkembangan pendidikan dasar masyarakat Kota Medan, khususnya bagi anak-anak pribumi pada masa kolonial. Dari sisi estetika, bangunan ini mencerminkan arsitektur modern kolonial dengan teknologi struktur bearing wall yang kini langka. Dari sisi edukasi, gedung ini memiliki arti khusus dalam penyediaan fasilitas pendidikan bagi masyarakat kota.
Karena nilai sejarah, estetika, dan edukasinya, bangunan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya peringkat Provinsi Sumatera Utara dan berdasarkan hasil verifikasi direkomendasikan menjadi Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Saat kamu berdiri di lingkungan sekolah ini, kamu tidak hanya melihat ruang-ruang kelas, tetapi juga menyaksikan jejak panjang sejarah pendidikan di Kota Medan yang terus hidup dari generasi ke generasi.



Informasi
Lokasi Sekolah Badan Perguruan Nasrani 1 Medan
Koordinat
3.582330212018099, 98.66685142963479
Alamat
Jl. Mayjend S. Parman / Kapten Pattimura No. 16, Kota Medan, Sumatera Utara