Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan di Medan

Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan

Bangunan
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan - 1
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan - 2
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan - 3
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan - 4
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan - 5
Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan - 6

Deskripsi Sejarah

Bangunan ini merupakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan, yang berdiri di Jl. Pemuda No. 1, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Gereja ini telah resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 03/CB/B/2021. Sebagai bangunan sakral dan rumah ibadah, gereja ini memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan kehidupan religius Katolik di Kota Medan.

Bangunan gereja ini berada di atas lahan seluas 5.000 m2, dengan luas bangunan 560 m2. Dimensi fisiknya terdiri dari panjang 40 meter, lebar 14 meter, dan tinggi mencapai 20 meter. Bangunan berorientasi ke arah barat. Di sekelilingnya, gereja ini berbatasan dengan Toko Karpet Seribu Jaya di sisi utara, SMP St. Yoseph Pemuda Medan di sisi timur, Wisma Katolik Medan dan Bank Artha Graha di sisi selatan, serta Jl. Pemuda di sisi barat. Lokasi ini menempatkan gereja di pusat aktivitas kota sejak masa kolonial hingga saat ini.

Secara arsitektural, bangunan gereja ini mengalami perubahan gaya yang cukup signifikan sepanjang sejarahnya. Sebelum renovasi, bangunan ini memiliki langgam Neo Klasik dari zaman Ekletik, yang terlihat dari penggunaan kolom bergaya Yunani dan arch pada elemen bangunannya. Setelah renovasi, terutama pada bagian depan bangunan dengan penambahan menara dan teras masuk (porch), gaya bangunan berubah menjadi lebih mengarah pada Victorian atau Gothic Revival, yang masih merupakan bagian dari karakter arsitektur Ekletik.

Desain gereja ini mengikuti prinsip basilika, dengan nave sebagai ruang utama umat serta arcade nave di sisi kanan dan kiri. Pada area masuk, terdapat teras (porch) yang berfungsi sebagai ruang peralihan antara ruang luar dan ruang dalam. Seiring bertambahnya jumlah umat, area ini kemudian dilengkapi dengan kanopi. Bangunan utama ditutup oleh atap pelana, yang juga dilengkapi dengan jendela atap untuk mendukung pencahayaan alami dan sirkulasi udara di dalam ruang.

Salah satu elemen ornamen yang paling khas adalah patung Bunda Maria yang ditempatkan di atas ambang pintu utama. Secara keseluruhan, bentuk gereja ini simetris, dengan denah ruang utama berbentuk persegi panjang. Pada sisi panjang bangunan, terdapat penampil berbentuk setengah lingkaran. Gereja ini memiliki tiga pintu masuk, yaitu satu pintu utama berukuran besar dan dua pintu samping.

Selain itu, terdapat empat buah apse berbentuk setengah oktagon yang berfungsi sebagai ruang berdoa, tempat penyusunan bunga persembahan, serta penempatan alat musik organ. Altar utama juga dirancang dengan bentuk setengah oktagon, selaras dengan komposisi ruang di sekitarnya. Elemen klasik lainnya adalah menara yang terletak tepat di sisi tengah pintu masuk utama. Menara ini ditutup dengan atap pelana dan memiliki desain bukaan ventilasi yang spesifik pada bagian atas di keempat sisinya. Pada sisi dinding atas bagian depan menara, terpasang jam dinding, yang menjadi ciri visual khas gereja ini.

Bangunan gereja ini dibangun menggunakan material tegel, bata, genteng, serta rangka beton bertulang. Perpaduan material ini mencerminkan teknologi konstruksi pada masanya, sekaligus menunjukkan upaya adaptasi bangunan terhadap iklim tropis melalui sistem bukaan dan ventilasi di setiap sisi bangunan.

Dari sisi sejarah, gereja ini memiliki perjalanan panjang. Pada tahun 1880-an, bangunan gereja masih beratap rumbia dan ijuk. Kemudian, pada tahun 1905, gereja ini dibangun ulang oleh para pastor ordo Jesuit di Medan, menggunakan dinding batu dan atap seng, meskipun sebagian bangunan masih mempertahankan atap rumbia dan ijuk. Gereja ini awalnya didesain dan dibangun oleh Willem Jaski sekitar tahun 1903.

Setelah Willem Jaski meninggalkan Medan pada tahun 1928, gereja ini kembali mengalami perubahan besar. Pada tahun 1930-an, bangunan gereja dibangun kembali secara radikal oleh arsitek J.M. Groenewegen (1888–1980). Dalam tahap ini, bangunan diperluas dan menara ditambahkan, memperkuat karakter visual gereja yang kita lihat hingga sekarang. Tercatat pula bahwa pada tahun 1928, renovasi dilakukan oleh arsitek Belanda Han Groenewegen dengan pelaksana Mr. Langereis, mencakup perluasan enam meter pada panti imamat, penambahan kapel permandian, ruang pengakuan dosa, teras depan (porch), dan menara. Beberapa literatur bahkan menyebutkan bahwa bangunan ini dibangun pada tahun 1935 atas prakarsa jemaat Katolik.

Di sisi kanan Gereja Katedral, terdapat satu bangunan tua lain, yaitu pastoran, yang merupakan rumah tinggal para pastor. Pastoran Katedral ini dibangun pada tahun 1906, dengan dinding kayu serta atap rumbia dan ijuk. Pada periode 1964–1965, bangunan pastoran tersebut digantikan dengan gedung permanen seperti yang dapat kamu lihat saat ini. Sebagian ruang pastoran juga digunakan sebagai kapel.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, kompleks Gereja Katolik di Jalan Pemuda ini sempat digunakan sebagai markas Kenpetai dan juga sebagai tempat penyiksaan tahanan. Sejarah ini menambah lapisan makna pada bangunan gereja, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi peristiwa penting dalam perjalanan Kota Medan.

Saat ini, gereja yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini masih berdiri kokoh, dalam kondisi utuh, terpelihara, dan pernah dipugar, tanpa menghilangkan karakter utama bangunan. Keaslian bangunan tetap terjaga, baik dari bentuk awal maupun perubahan-perubahan penting yang terjadi pada masa renovasi, termasuk penambahan menara jam dan perubahan bentuk jendela di kedua sisi gereja.

Nilai penting Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan sangat kuat dari berbagai aspek. Dari nilai sejarah, gereja ini merupakan gereja kedua yang berdiri di Kota Medan, setelah gereja yang dahulu berada di dekat Lapangan Merdeka yang kemudian dirubuhkan dan digantikan dengan bangunan kantor NHM. Gereja ini menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan agama dan kehidupan spiritual di Medan, serta berkontribusi memenuhi kebutuhan rohani masyarakat Eropa pada masa awal pertumbuhan kota.

Dari nilai sosial budaya, gereja ini memiliki keterkaitan erat dengan komunitas umat Katolik di Medan, yang pada awalnya didominasi oleh ekspatriat perkebunan di tanah Deli. Meskipun komunitas Eropa kini sangat berkurang, gereja ini tetap digunakan oleh masyarakat Kota Medan, termasuk beberapa komunitas asing yang masih beraktivitas di kota ini. Dari nilai religi dan spiritual, gereja ini terus berfungsi sebagai tempat peribadatan umat Katolik di Medan, mencerminkan perkembangan agama Katolik sejak akhir abad ke-18.

Secara estetika, bangunan ini merepresentasikan transformasi gaya arsitektur dari Neo Klasik Ekletik menuju Victorian atau Gothic Revival, dengan penyesuaian terhadap iklim tropis melalui desain bukaan dan ventilasi yang khas. Menara jam, dekorasi ventilasi, serta komposisi fasad menjadikan gereja ini memiliki karakter visual yang kuat dan unik. Dari nilai kelangkaan, bangunan gereja dengan menara jam seperti ini tergolong sangat langka di Kota Medan. Dari nilai ilmiah, gereja ini menjadi sumber informasi penting mengenai sejarah arsitektur gereja Katolik dan perkembangan komunitas umat Katolik yang bersifat plural sejak masa kolonial hingga kini.

Berdasarkan seluruh nilai tersebut, Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan direkomendasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Ketika kamu berada di halaman gereja ini, kamu sedang berdiri di sebuah ruang yang bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi panjang perjalanan sejarah, arsitektur, dan kehidupan sosial Kota Medan.

Informasi

Lokasi Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal – Katedral Medan

Koordinat

3.5841671924070524, 98.6812846705542

Alamat Resmi

Jl. Pemuda No. 1, Kota Medan, Sumatera Utara