Kantor Bank Indonesia Medan

Kantor Bank Indonesia Medan

Bangunan
Kantor Bank Indonesia Medan - 1
Kantor Bank Indonesia Medan - 2
Kantor Bank Indonesia Medan - 3
Kantor Bank Indonesia Medan - 4
Kantor Bank Indonesia Medan - 5

Deskripsi Sejarah

Kamu berada di depan Gedung Bank Indonesia Medan, tepat di Jalan Balai Kota No. 4, Kesawan. Dari titik ini, Lapangan Merdeka terbentang di hadapanmu, Sungai Deli mengalir tenang di sisi barat, sementara jejak pemerintahan kolonial dan kota modern Medan bertemu dalam satu pandangan. Bangunan yang sedang kamu hadapi ini bukan sekadar kantor bank, melainkan salah satu penanda penting sejarah ekonomi dan tata kota Medan sejak awal abad ke-20.

Gedung ini dibangun pada tahun 1908 dan diresmikan pada tahun 1909 sebagai kantor cabang ke-11 De Javasche Bank, bank sirkulasi pemerintah kolonial Belanda dengan kantor pusat di Batavia. Pembangunannya dikerjakan oleh kontraktor Willem Jaski, sosok yang juga terlibat dalam pembangunan Gedung Balai Kota Medan. Dana sebesar 3.300 gulden digelontorkan untuk mendirikan bangunan ini, sebuah investasi besar pada masanya yang menegaskan peran strategis Medan sebagai pusat ekonomi di pantai timur Sumatra. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini diambil alih oleh pemerintah dan pada tahun 1953 resmi menjadi bagian dari Bank Indonesia.

Ketika kamu mengamati fasadnya, kesan simetri langsung terasa kuat. Bangunan ini dirancang oleh biro arsitek ternama Fermont – Eduard Cuypers & Hulswit dengan semangat Ecole des Beaux Arts yang diterjemahkan secara sederhana dan adaptif terhadap iklim tropis. Denahnya berbentuk persegi panjang dengan sumbu utama tepat di tengah pintu masuk. Dua kolom bergaya ionik berdiri mengapit pintu, menciptakan kesan formal sekaligus proporsional. Jendela-jendela dirancang masuk ke dalam relung fasad, diapit kolom ionik berdiri bebas, sehingga sinar matahari yang masuk dapat tereduksi tanpa perlu tambahan kanopi atau serambi.

Di bagian atas bangunan, kamu bisa melihat pedimen dengan hiasan mekara atau kala, ornamen khas Hindu-Jawa yang dipasang setelah kemerdekaan pada tahun 1949. Sebelumnya, bagian ini menampilkan lambang Kerajaan Belanda yang dirancang di studio pematung Van den Bossche dan Crevels di Amsterdam. Perubahan ini bukan sekadar estetika, melainkan penanda peralihan kekuasaan dan identitas, dari simbol kolonial menuju ekspresi kebudayaan Indonesia. Garis horizontal yang kuat diperjelas oleh cornice dan loteng yang dirancang sebagai balustrade, memberi aksen mendatar yang khas pada bangunan kolonial modern.

Bangunan ini terdiri dari dua lantai utama dan satu lantai semi-basement, menghadap ke arah timur. Dari tangga depan yang lebar dan tertutup, kamu seolah diajak masuk ke ruang depan yang dahulu berfungsi sebagai area layanan nasabah dengan deretan loket yang dapat dikunci dari dalam. Di pusat gedung terdapat ruang kasir, diapit oleh ruang akuntansi dan ruang setoran tunai dalam jumlah besar. Di bagian belakangnya terdapat ruang agen bank dan ruang staf, semuanya dirancang dengan tata letak yang mencerminkan sistem kerja perbankan awal abad ke-20.

Struktur bangunan memperlihatkan kecanggihan teknologi konstruksi masanya. Langit-langit disangga rangka dan balok besi yang juga menopang kubah, sementara sistem ventilasi diatur melalui kisi-kisi, tirai venetian, dan jendela kubah yang dapat dibuka untuk memaksimalkan aliran udara. Di lantai semi-basement terdapat ruang khasanah atau kluis, ruang dengan sistem keamanan berlapis untuk menyimpan uang, dokumen penting, dan barang berharga nasabah. Letaknya dirahasiakan, dilengkapi pintu berkunci kombinasi, serta jendela berterali. Brankas besi berat di ruang ini diimpor langsung dari Firma Lips di Dordrecht, Belanda, bersama elemen lain seperti jendela besi, partisi, pagar, cermin, dan patung.

Seiring waktu, bangunan ini mengalami beberapa tahap perubahan. Awalnya berukuran 20 x 17 meter, lalu diperluas secara simetris pada tahun 1956 oleh arsitek H. van den Heuvel hingga menjadi 33 x 33 meter. Pada fase ini, jumlah jendela depan bertambah, kubah sempat dihilangkan, dan plafon ruang besar direndahkan. Tahun 1972 dibangun gedung tengah yang menghubungkan ruang khasanah, kemudian pada 1990 ditambahkan gedung tinggi di bagian belakang untuk mendukung aktivitas perbankan yang semakin kompleks. Pada tahun 2002, gedung lama dipugar dan dikembalikan ke langgam awal De Javasche Bank, termasuk pengembalian kubah, tinggi plafon, jendela kayu, dan interiornya.

Hari ini, Gedung Bank Indonesia Medan berada dalam kondisi utuh, terawat, dan masih difungsikan sebagai bagian dari aktivitas perkantoran Bank Indonesia Sumatera Utara. Secara historis, bangunan ini memiliki nilai penting sebagai institusi perbankan pemerintah pertama yang berperan besar dalam perkembangan ekonomi Medan setelah kota ini memperoleh status gemeente. Dari sisi estetika, langgam neoklasik dengan pengaruh kuat Ecole des Beaux Arts menjadikannya salah satu contoh arsitektur kolonial modern yang semakin langka di Medan. Nilai ilmiahnya terletak pada sistem konstruksi dinding pemikul bata dan tipologi ruang bank, khususnya keberadaan ruang khasanah yang sangat spesifik. Keasliannya tetap terjaga meski mengalami perubahan, karena setiap fase renovasi masih dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangunan.

Atas dasar nilai sejarah, estetika, kelangkaan, ilmiah, dan keaslian tersebut, Gedung Bank Indonesia Medan telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 dan direkomendasikan naik peringkat sebagai Cagar Budaya Provinsi Sumatera Utara. Saat kamu berdiri di sini setelah memindai QR code ini, kamu tidak hanya sedang melihat sebuah gedung perbankan, tetapi sedang berhadapan dengan saksi bisu perjalanan ekonomi, kekuasaan, dan identitas Kota Medan yang masih berdiri tegak hingga hari ini.

Informasi

Lokasi Kantor Bank Indonesia Medan

Koordinat

3.590823784811896, 98.67707521934317

Alamat

Jalan Balai Kota No. 4, Kota Medan, Sumatera Utara