
Bunker Jepang
Bangunan

Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/bunker-jepang-medanDeskripsi Sejarah
Begitu kamu berada di depan bangunan ini, mungkin yang pertama terlintas di kepalamu bukanlah cerita perang. Lingkungannya kini padat, dikelilingi permukiman, jauh dari kesan medan pertempuran. Tapi justru di titik inilah kamu sedang berdiri di atas lapisan sejarah yang panjang dan berlapis. Bangunan yang sering disebut sebagai Benteng Jepang ini diperkirakan dibangun ketika Jepang mulai masuk ke Medan pada tahun 1942. Saat itu, Jepang memasuki wilayah ini melalui Tanjung Tiram, Batubara, setelah pendaratan awal di Pantai Parupuk. Seiring masuknya pasukan, mereka langsung membangun berbagai fasilitas pendukung pendudukan, termasuk gudang penyimpanan amunisi. Pembangunan benteng pertahanan di Pantai Parupuk—yang dikenal dengan sebutan Lubang Jepang—menjadi salah satu penanda kehadiran mereka di wilayah Sumatera Utara.
Menariknya, hingga kini belum ditemukan catatan sejarah lokal yang secara tegas menyebutkan pembangunan bangunan ini oleh pasukan Jepang. Namun, besar kemungkinan bangunan ini memang dimanfaatkan oleh mereka, sehingga masyarakat kemudian lebih mengenalnya sebagai Benteng Jepang. Dari sinilah muncul upaya untuk menelusuri fungsi bangunan ini sekaligus latar belakang historisnya. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 88,39 meter persegi dan kini berada di kawasan permukiman yang padat. Sekitar 100 meter ke arah timur mengalir Sungai Sei Sikambing, sementara ke arah selatan sekitar 200 meter terdapat Jalan Gatot Subroto, dan sekitar 250 meter dari lokasi ini berdiri Yayasan Panca Budi atau Universitas Panca Budi.
Secara bentuk, bangunan ini memiliki denah persegi panjang berukuran 11,6 meter x 5,5 meter, dengan tinggi bangunan mencapai 6 meter. Dinding dan atapnya dibuat dari cor, sementara lantainya kini berupa semen, meskipun sebelumnya hanya berupa lantai tanah yang kemudian disemen oleh penghuni. Atap bangunan berbentuk datar di sisi utara dan selatan dengan ukuran masing-masing 3 meter x 5,5 meter. Pada bagian tengah, atap membentuk lengkungan setengah lingkaran dengan panjang 5,6 meter dan diameter 5,5 meter. Ketebalan tembok rata-rata mencapai 1 meter. Di bagian depan pintu keluar-masuk terdapat tembok berbentuk trapesium dengan ketebalan 0,82 meter, panjang 2,80 meter, dan tinggi sekitar 3 meter, dilengkapi lubang persegi empat berukuran 42 cm x 32 cm. Saat ini, tembok tersebut hanya tersisa di bagian timur, sementara bagian barat telah dihancurkan karena difungsikan sebagai jalan di Lorong Idris.
Pada dinding bagian timur terdapat dua lubang berbentuk segiempat, sedangkan di bagian barat hanya terdapat satu lubang. Ukurannya sekitar 43 cm x 30 cm dan membesar ke arah dalam hingga 70 cm x 50 cm. Di bagian bawahnya terdapat deretan lubang kecil berukuran 9 cm x 8 cm, masing-masing empat lubang di dinding timur dan barat. Saat ini, dua lubang besar telah diberi kawat kasa, satu lubang ditutup semen, dan sebagian besar lubang kecil juga telah ditutup, kecuali satu lubang yang ditutup tiga pipa besi horizontal. Selain itu, terdapat lubang di bagian atap berukuran 25 cm x 25 cm.
Pintu masuk bangunan berada di sisi barat dan timur dengan ukuran masing-masing 4,5 meter x 1 meter tanpa daun pintu. Kini hanya pintu barat yang digunakan sebagai akses keluar-masuk penghuni. Dari pintu barat, kamu memasuki lorong pertama di bagian selatan berukuran 4,5 meter x 1 meter, yang kemudian berbelok ke arah utara menuju ruangan pertama di bagian selatan berukuran 2 meter x 3,5 meter. Lorong dan ruangan ini dipisahkan oleh tembok berukuran 1,25 meter x 1 meter dengan bagian tengah berongga sebagai pintu masuk. Lebih ke utara terdapat tembok pemisah lain berukuran 2,5 meter x 0,6 meter yang memisahkan ruangan pertama dan kedua, dengan pintu berlengkung kurawal di bagian atas.
Ruangan kedua di bagian utara berukuran 3 meter x 3,5 meter dan dipisahkan dari lorong utara oleh tembok penyekat di sisi timur dan barat berukuran 1,25 meter x 1 meter. Lorong utara memiliki ukuran yang sama dengan lorong selatan, yakni 4,5 meter x 1 meter. Di sisi timur lorong ini terdapat pintu keluar-masuk yang kini tertutup tembok baru dan difungsikan sebagai dapur. Dari kondisi bangunan terlihat bahwa struktur dibuat sangat kokoh, dengan dinding dan atap dicor menggunakan campuran semen dan batu kerakal. Pintu-pintu tidak dilengkapi daun pintu, melainkan dilindungi tembok trapesium dengan lubang pengintaian, sehingga aktivitas di dalam tetap tersembunyi namun dapat memantau kondisi luar.
Tata ruang bagian dalam bangunan dibuat simetris dan saling terhubung antara lorong dan ruangan di bagian selatan dan utara, menunjukkan rancangan untuk aktivitas yang memerlukan mobilitas dari dua arah. Ukuran ruangan selatan yang lebih kecil dibandingkan utara, serta keberadaan lubang-lubang besar dan kecil di dinding dan atap, menunjukkan fungsi ventilasi sekaligus kemungkinan sarana pengintaian. Dengan tinggi bangunan mencapai 6 meter dan tinggi ruang dalam sekitar 4,5 meter, aktivitas di dalam bangunan dapat dilakukan dengan cukup leluasa.
Jika dibandingkan dengan bangunan pertahanan di Pulau Weh seperti Benteng Batre C di Desa Cot Ba’u, serta benteng-benteng di Sibolga, bangunan ini menunjukkan banyak kemiripan, baik dari denah segiempat, penggunaan cor pada dinding dan atap, keberadaan lubang ventilasi, hingga tembok trapesium dan atap melengkung setengah lingkaran. Informasi lain menyebutkan bahwa sebelum lantainya disemen, bangunan ini dilengkapi terowongan yang menuju ke luar dan diduga berada di area Yayasan Panca Budi. Dengan letak pintu dan lubang pengintaian di sisi timur yang menghadap Sungai Sei Sikambing, bangunan ini diduga digunakan untuk memantau lalu lintas sungai yang cukup lebar dan strategis, yang pada masa kolonial juga terkait dengan kawasan perkebunan tembakau Belanda.
Dengan mempertimbangkan seluruh data tersebut, terdapat kemungkinan bahwa bangunan ini telah ada sejak masa kolonial Belanda dan kemudian dimanfaatkan oleh pasukan Jepang setelah Belanda meninggalkan Medan, sebagaimana juga terjadi pada bangunan sejenis di kawasan Polonia. Kini, bangunan ini tidak lagi berfungsi sebagai benteng atau markas. Namun setiap dinding tebal, lorong sempit, dan lubang pengintaian masih menyimpan jejak strategi, kewaspadaan, dan perubahan kekuasaan yang pernah berlangsung di tempat ini. Ketika kamu berada di sini, kamu sedang berhadapan dengan sebuah bangunan kecil yang menjadi saksi perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks.



Informasi
Lokasi Bunker Jepang
Koordinat
3.592056, 98.645583
Alamat Resmi
Jalan Gatot Subroto Gg. Famili Lorong Idris No. 9, Kota Medan, Sumatera Utara