Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan di Medan

Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan

Bangunan
Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan - 1
Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan - 2

Deskripsi Sejarah

Bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan samudera. Penetapan Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan samudera dilakukan dengan dua tujuan utama, yaitu untuk menampung aktivitas ekspor impor dan pelayaran yang semakin padat sehingga membutuhkan kawasan pelabuhan yang lebih luas, serta untuk menyaingi pelabuhan transit milik Inggris di Semenanjung Malaya seperti Penang dan Singapura. Bangunan ini pada awalnya diperuntukkan sebagai kantor baru bea cukai (douane kantoor) dan dibangun pada tahun 1938. Pembangunannya berkaitan erat dengan perluasan ketiga Pelabuhan Belawan ke arah utara yang telah dimulai sejak tahun 1927, setelah sebelumnya pelabuhan ini mengalami perluasan pada periode 1917 hingga 1921. Pada tahap perluasan tahun 1927 tersebut, kegiatan yang dilakukan meliputi penambahan dermaga, pembangunan pergudangan, serta penyediaan lapangan terbuka untuk penumpukan barang.

Pembangunan fasilitas pergudangan terus bertambah seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi di Sumatera Timur. Pada masa tersebut, wilayah ini mengalami periode yang dikenal sebagai “economic boom”, yang ditandai dengan melimpahnya hasil perkebunan, terutama karet dan minyak kelapa sawit. Dalam konteks inilah, kantor bea cukai yang baru dibangun untuk menggantikan kantor lama yang sebelumnya telah ada, agar dapat mendukung aktivitas pelabuhan yang semakin meningkat.

Bangunan kantor bea cukai ini dirancang oleh Ir. Hubert Albert Breuning, seorang arsitek yang juga merancang rumah dinas Gubernur Sumatera Utara dan Makassar, serta Kantor Bank Tabungan Pos di Makassar. Pembangunan gedung ini dimulai pada tahun 1938, setahun setelah gedung BTN di Jalan Pemuda dibangun. H. A. Breuning dikenal sebagai salah satu arsitek Belanda yang cukup terkenal pada masa kolonial, dengan karya yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Jawa. Di antara karyanya terdapat Kantor Gubernur Jawa Timur, Kantor Pertanahan di Jakarta, renovasi badan Kantor Pos Surabaya, serta terminal Bandara Kemayoran. Dalam rentang waktu 1937 hingga 1941, ia bekerja di kantor pusat Departemen Bumi dan Bangunan. Pada tahun 1941–1942, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Bangunan Nasional, Departemen Transportasi dan Pekerjaan Umum, dan pada tahun 1946 kembali tercatat dalam jabatan tersebut.

Secara fisik, bangunan ini dibangun oleh Departemen Transportasi dan Pekerjaan Umum (Departement Verkeer & Waterstaat, Ned.-Indië) dan terdiri dari satu lantai. Gaya arsitekturnya tergolong modern colonial dengan denah berbentuk persegi. Pintu masuk utama dicapai melalui teras berbentuk setengah lingkaran yang menunjukkan penyesuaian terhadap iklim tropis lembap. Bangunan ini memiliki banyak jendela di seluruh sisi, dilengkapi dengan kanopi horizontal di atas jendela untuk melindungi ruang dalam dari sinar matahari langsung, sekaligus berfungsi sebagai elemen estetika yang memperkuat tampilan bangunan.

Dalam perkembangannya, bentuk pintu masuk mengalami perubahan. Teras setengah lingkaran diubah menjadi bentuk persegi dengan atap pelana, serta ditambahkan gevel pada bagian depan bangunan. Meski demikian, secara umum bentuk dasar bangunan masih dapat dikenali hingga saat ini.

Bangunan ini kemudian ditetapkan sebagai Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan yang memiliki status cagar budaya. Penetapan tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal 5 dan 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. Dari sisi nilai sejarah, bangunan ini memiliki usia lebih dari 50 tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Pelabuhan Belawan, khususnya dalam konteks Kota Medan dan Sumatra Utara, sebagai salah satu elemen pengembangan fasilitas pelabuhan internasional di pantai timur Sumatra.

Dari sisi nilai estetika, bangunan ini merupakan karya H. A. Breuning, salah satu tokoh arsitektur modern di Indonesia. Bangunan ini juga tergolong bangunan sudut dengan rancangan yang unik. Denah persegi bangunan membentuk huruf W, dengan pintu masuk utama berada di sudut bangunan dan dicapai melalui teras berbentuk setengah lingkaran. Banyaknya jendela di setiap sisi bangunan serta kanopi horizontal di atasnya memperkuat karakter arsitektural sekaligus fungsi perlindungan dari sinar matahari.

Dari segi keaslian, secara keseluruhan bentuk bangunan tidak mengalami perubahan yang signifikan, meskipun beberapa elemen seperti jendela dan penutup atap telah mengalami pergantian. Meski demikian, karakter utama bangunan sebagai bagian dari sejarah Pelabuhan Belawan masih dapat dirasakan hingga kini. Dengan latar belakang sejarah pelabuhan, aktivitas perdagangan, serta peran penting bea cukai, bangunan ini menjadi salah satu penanda penting perjalanan Pelabuhan Belawan dan perkembangan Kota Medan dari masa ke masa.

Informasi

Lokasi Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Medan

Koordinat

3.7850671280651786, 98.6894435090554

Alamat Resmi

Jl. Sumatra No.116, Kota Medan, Sumatera Utara