Gereja Katolik Kristus Raja di Medan

Gereja Katolik Kristus Raja

Bangunan
Gereja Katolik Kristus Raja - 1
Gereja Katolik Kristus Raja - 2

Deskripsi Sejarah

Bangunan ini berdiri menghadap persimpangan Jl. M.T. Haryono dan Jl. Merapi, tepat di kawasan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota. Sejak pertama kali kamu memandangnya, kesan sakral langsung terasa kuat. Inilah Gereja Katolik Kristus Raja, sebuah bangunan cagar budaya yang telah resmi ditetapkan melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 65/CB/B/2021. Gereja ini menjadi salah satu penanda penting perkembangan kehidupan religius Katolik di Kota Medan, khususnya bagi komunitas Tionghoa. Bangunan gereja ini berdiri di atas lahan yang berbatasan langsung dengan Jl. M.T. Haryono di sisi utara, Jl. Merapi di sisi timur, YPK Budi Murni Medan di sisi selatan, serta SMP Swasta Katolik Budi Murni 3 di sisi barat. Lokasinya yang strategis membuat gereja ini sejak awal terhubung erat dengan aktivitas pendidikan dan sosial di sekitarnya. Gereja ini bersifat sakral dan berfungsi sebagai rumah ibadah, dengan status kepemilikan dan pengelolaan berada di bawah Keuskupan Agung Medan.

Secara arsitektural, Gereja Katolik Kristus Raja memiliki denah persegi panjang dengan tiga bagian tengah dan sebuah transept yang menonjol, menciptakan komposisi ruang khas gereja Katolik. Bagian tengah bangunan memiliki lebar 10 meter dan panjang 23 meter, dengan lorong prosesi selebar dua meter di kedua sisinya. Tata ruang ini membentuk sirkulasi liturgis yang jelas dan terarah, menuntun umat dari pintu masuk menuju area presbiteri. Di sebelah kiri bangunan gereja, berdiri sebuah menara yang terpisah dari bangunan utama. Menara ini tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga memiliki fungsi penting sebagai tempat pembaptisan. Keberadaan menara berdiri bebas ini menjadi ciri khas gereja, sekaligus membedakannya dari banyak gereja lain di Medan. Karena ukuran dan bentuk kavling bangunan, pastoran dibangun di bagian depan gereja, menciptakan hubungan langsung antara ruang kerja presbiteri dan sakristi yang berada di sebelah kiri paduan suara.

Paduan suara gereja terletak tepat di atas area paduan suara, sementara di sisi berlawanan, di atas sakristi, terdapat sebuah kapel doa. Penataan ruang yang berlapis ini menunjukkan perencanaan yang matang dan fungsional, disesuaikan dengan kebutuhan liturgi serta komunitas umat pada masanya. Dari sisi konstruksi, bangunan gereja ini menggunakan batu bata dan beton bertulang. Atap nave dibentuk oleh konstruksi besi, dengan rangka yang sengaja dibiarkan terlihat, memperlihatkan kejujuran struktur khas arsitektur modern. Penutup atap menggunakan panci rebus yang dipanggang di Deli, dengan bentuk atap pelana. Langit-langit bangunan terbuat dari lembaran semen asbes, sementara lantai menggunakan ubin semen berwarna hijau dan merah, memberikan aksen warna yang sederhana namun khas.

Sistem ventilasi bangunan dirancang menggunakan tabung beton persegi yang disusun bertumpuk di dalam kompartemen dan dipasang pada dinding panjang bangunan. Solusi ini mencerminkan adaptasi bangunan terhadap iklim tropis, sekaligus menjadi elemen arsitektural yang fungsional. Secara visual, interior dan eksterior bangunan didominasi warna putih yang tenang. Dinding bata disemen baik di bagian dalam maupun luar, kemudian dicat putih sesuai kualitas bata yang digunakan. Langit-langit dicat kuning muda, sementara kap besi dan rangka langit-langit yang terlihat dilapisi cat aluminium. Pada bukaan jendela, dipasang kaca katedral berwarna ungu di jendela lorong prosesi dan kaca katedral kuning di jendela presbiteri, menciptakan suasana cahaya yang khas di dalam ruang ibadah. Altar utama terbuat dari marmer hitam, sementara perabotan gereja dibuat dari kayu Merbau, seluruhnya dirancang oleh Groenewegen dan dibuat langsung di Medan dengan semangat yang selaras dengan karakter bangunan gereja. Hal yang sama juga diterapkan pada desain pastoran, yang hanya dilengkapi oleh arsitek.

Gereja Katolik Kristus Raja dibangun pada tahun 1934 dan termasuk dalam periode kolonial. Secara historis, gereja ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas Katolik Tionghoa di Medan. Pada awalnya, umat Katolik Tionghoa beribadat di rumah-rumah penampungan yang juga digunakan oleh umat Katolik Eropa. Namun sejak misionaris Eropa mulai aktif pada tahun 1924, jumlah umat berkembang pesat. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, muncul kebutuhan mendesak akan gereja khusus bagi komunitas ini. Komunitas Tionghoa Katolik saat itu terdiri dari kelompok Hakka dan Hokkien, yang sebagian besar merupakan usaha mandiri kecil serta beberapa pedagang grosir. Pastor M. Simons, yang melayani paroki Medan, mencatat umatnya berasal dari beragam latar belakang profesi, seperti tukang kayu, pandai besi, pembuat furnitur, pegawai kantor, hingga pemilik toko. Menanggapi kebutuhan tersebut, pihak gereja kemudian mendekati perusahaan arsitektur Groenewegen. Han Groenewegen merancang gereja ini, sementara pelaksanaannya dilakukan oleh kontraktor Cina di bawah pengawasan Bordewijk.

Gereja Katolik Kristus Raja diresmikan pada bulan November 1934. Pastor M. Simons tercatat sebagai pendiri paroki ini, yang sejak awal memang dikhususkan bagi umat Katolik Tionghoa. Pada mulanya, jumlah umat paroki hanya sekitar 30 orang, dan mereka masih beribadat di gereja di Jalan Pemuda. Setelah gereja ini selesai dibangun, barulah umat dapat beribadat secara tetap di bangunan ini. Hingga saat ini, kondisi bangunan gereja masih utuh, terlihat baik dan terawat, serta tercatat pernah dipugar tanpa menghilangkan karakter aslinya. Keaslian bangunan relatif terjaga, baik dari segi bentuk, tata ruang, maupun material utama.

Nilai penting bangunan ini sangat kuat. Dari nilai sejarah, gereja ini merupakan gereja paroki yang didirikan khusus untuk masyarakat Katolik Tionghoa pada tahun 1934, sekaligus menjadi sumber informasi penting tentang perkembangan agama Katolik di Kota Medan. Dari nilai sosial budaya, gereja ini memiliki hubungan erat dengan komunitas Tionghoa Hakka dan Hokkien, yang kini berkembang pesat di kota ini. Dari nilai religi dan spiritual, bangunan ini berfungsi sebagai tempat peribadatan umat Nasrani, khususnya komunitas Tionghoa di Medan. Secara estetika, bangunan gereja ini merupakan contoh arsitektur modern kolonial yang relatif masih asli, dengan penggunaan atap, ventilasi, serta keberadaan satu menara di bagian depan bangunan. Gereja ini juga menjadi bagian dari kompleks sekolah Katolik milik yayasan, dan seluruh rancangan bangunannya merupakan karya Han Groenewegen. Berdasarkan seluruh nilai tersebut, Gereja Katolik Kristus Raja diusulkan dan direkomendasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Kini, ketika kamu berdiri di depan bangunan ini, kamu sedang menyaksikan sebuah ruang ibadah yang tidak hanya menyimpan fungsi religius, tetapi juga merekam sejarah komunitas, arsitektur, dan kehidupan sosial Kota Medan sejak masa kolonial.

Informasi

Lokasi Gereja Katolik Kristus Raja

Koordinat

3.587074868534029, 98.68638586721937

Alamat Resmi

Jl. M.T. Haryono No. 98 – Jl. Merapi, Kota Medan, Sumatera Utara