
Balai Yasa Pulu Brayan
Bangunan

Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/balai-yasa-pulu-brayanDeskripsi Sejarah
Balai Yasa adalah istilah yang cukup khas dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Istilah ini digunakan untuk menyebut tempat perawatan besar sarana perkeretaapian dan tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 Pasal 114 Ayat (5), yang menjelaskan bahwa perawatan kereta api dapat dilakukan di depot lokomotif maupun di balai yasa. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959, saat digunakan untuk Balai Yasa Yogyakarta. Dalam sistem perkeretaapian, balai yasa memiliki peran yang berbeda dengan depot lokomotif. Jika depot lokomotif menangani perawatan harian, enam bulanan, atau tahunan, maka balai yasa difokuskan pada perawatan besar. Secara kelembagaan, balai yasa juga tidak berada di bawah daerah operasi (Daop), melainkan langsung berada di bawah kantor pusat PT Kereta Api Indonesia. Balai Yasa tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, dan salah satunya adalah Balai Yasa Pulubrayan, yang dikenal sebagai balai yasa terbesar di Pulau Sumatera dan terletak di Jalan Pasar Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Sumatera Utara.
Secara keseluruhan, di Indonesia terdapat sembilan Balai Yasa. Lima berada di Pulau Jawa, yaitu Manggarai, Kiara Condong, Tegal, Yogyakarta, dan Surabaya Gubeng, sementara tiga lainnya berada di Pulau Sumatera, yaitu Padang, Lahat, dan Pulo Brayan. Keberadaan Balai Yasa Pulo Brayan menempatkan Medan sebagai salah satu pusat penting kegiatan perawatan sarana perkeretaapian di Sumatera.
Sejarah kawasan ini tidak lepas dari perkembangan jalur kereta api di Sumatera Timur. Untuk mempermudah pengoperasian jalur kereta api, pada tanggal 28 Juni 1883 Deli Maatschappij membentuk perusahaan khusus bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) yang menangani sektor perkeretaapian, dengan Mr. Cremer sebagai Kepala Direktur SDM. Jalur pertama yang berhasil dirampungkan oleh DSM adalah lintas Labuhan (Deli)–Medan sepanjang 23 kilometer. Di lintasan ini, salah satu tempat pemberhentian yang dibangun adalah Halte Pulubrayan.
Pada tahun 1919, Halte Pulubrayan mengalami renovasi dan didirikan bangunan baru. Di sisi timur halte tersebut dibangun sebuah Central Werkplaat atau bengkel pusat, yang kini dikenal sebagai Balai Yasa Pulubrayan. Balai Yasa ini berfungsi sebagai bengkel perbaikan gerbong kereta, lokomotif, tangki, dan sarana perkeretaapian lainnya. Gedung yang ada berfungsi sebagai kantor mekanik dan administrasi Balai Yasa, sekaligus menjadi gerbang masuk menuju kawasan perbengkelan. Melalui gedung inilah dilakukan penyaringan terhadap orang-orang yang masuk ke area Balai Yasa. Kawasan ini kemudian menjadi cikal bakal perkembangan perkeretaapian di Sumatera Utara.
Secara lokasi, gedung Balai Yasa berada di bagian timur stasiun. Simpang rel kereta api yang menuju ke kawasan Balai Yasa terletak sekitar 200 meter di bagian selatan stasiun kereta api. Dari segi arsitektur, bangunan ini bergaya arsitektur kolonial modern dengan perhatian khusus terhadap iklim tropis, yang terlihat dari penggunaan ventilasi, jendela, serta overhang yang cukup lebar di atas jendela. Konsep simetris pada denah dan fasad bangunan masih tampak jelas hingga kini.
Ciri lainnya terlihat pada bentuk atap perisai yang curam serta keberadaan sebuah menara yang dahulu dilengkapi dengan jam atau tower clock. Selain sebagai elemen estetika, menara tersebut juga berfungsi sebagai ventilasi ruang di bawah atap untuk melepaskan hawa panas. Dalam perkembangannya, bentuk menara mengalami sedikit perubahan menjadi lebih pendek dan jamnya sudah tidak ada lagi.
Bangunan Balai Yasa Pulo Brayan kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Pasal 5 dan 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. Dari nilai sejarah, gedung yang didirikan pada tahun 1919 ini telah menjadi bagian dari perkembangan Kota Medan, khususnya dalam bidang transportasi kereta api. Kawasan Balai Yasa merupakan kawasan perbengkelan kereta api untuk seluruh Sumatera Utara yang dibangun pada masa kolonial.
Dari sisi nilai estetika, bangunan ini menampilkan karakter arsitektur kolonial modern dengan bentuk simetris, atap perisai curam, serta penyesuaian iklim tropis melalui ventilasi dan bukaan. Meski tower clock telah berubah menjadi atap bertingkat, secara keseluruhan bangunan ini tetap memiliki tampilan yang spesifik dan memberi karakter kuat pada lingkungannya. Balai Yasa Pulo Brayan juga memiliki nilai ilmiah sebagai objek penelitian teknologi, arsitektur, konstruksi, dan mesin. Dari sisi nilai kelangkaan, Balai Yasa ini merupakan satu-satunya fasilitas perawatan dan pemeliharaan kereta api di Kota Medan dan Sumatera Utara. Dari segi keaslian, gedung Balai Yasa masih berdiri dengan bentuk yang hampir sama seperti awal pembangunannya, kecuali pada bagian atap. Keberadaan gedung ini hingga kini menjadi penanda penting sejarah perkeretaapian sekaligus saksi perjalanan panjang transportasi kereta api di Sumatera Utara.





Informasi
Lokasi Balai Yasa Pulu Brayan
Koordinat
3.6366942357355847, 98.67317276922178
Alamat Resmi
Jl. Bengkel No.1, Kota Medan, Sumatera Utara