
Sekolah YPK Budi Murni
Bangunan








Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/sekolah-ypk-budi-murniDeskripsi Sejarah
Kamu berada di sudut pertemuan Jalan Merapi No. 2 dan Jalan M.T. Haryono, di depan bangunan berlantai dua yang sejak lama dikenal sebagai Sekolah YPK Budi Murni. Gedung ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 56/CB/B/2021. Statusnya sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, termasuk dalam kategori lainnya yaitu Sekolah, dan bersifat profan karena sejak awal difungsikan sebagai sarana pendidikan. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1941 pada masa kolonial dan menjadi salah satu penanda penting perkembangan pendidikan di Kota Medan.
Lokasinya berada di Kelurahan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan koordinat tengah 3°58’7093” LU dan 98°68’6131” BT serta berada pada ketinggian sekitar 23 meter di atas permukaan laut. Di sebelah utara berbatasan dengan Jalan M.T. Haryono, di timur berbatasan dengan Gereja Katolik Kristus Raja di Jalan Merapi, di selatan berbatasan dengan deretan ruko, dan di barat berbatasan dengan Jalan Sutomo. Posisi ini menempatkannya di kawasan yang sejak dulu menjadi pusat aktivitas perdagangan, keagamaan, dan pendidikan di kota Medan.
Bangunan sekolah ini dirancang oleh arsitek J.M. Groenewegen, yang dikenal banyak menghasilkan karya arsitektur penting di Medan. Perancangannya berkaitan dengan kompleks Gereja Kristus Raja di sekitarnya dan menggunakan langgam arsitektur modern Nieuw Bouwen. Secara visual, bangunan ini tampil sederhana tanpa hiasan atau ornamen berlebih. Bukaan jendelanya lebar dan memanjang, tersusun berbaris sepanjang dinding untuk memaksimalkan cahaya dan sirkulasi udara. Di salah satu sudut bangunan terdapat menara dengan atap dak yang mempertegas karakter modernnya. Atapnya berbentuk perisai dengan garis yang tegas dan bersih.
Secara keseluruhan, bentuk bangunan menunjukkan kesederhanaan khas arsitektur modern kolonial yang menekankan fungsi. Garis horizontal yang dominan serta overstek atap yang cukup lebar menjadi respons terhadap iklim tropis Medan yang panas dan lembap. Lengkungan halus pada bagian pintu masuk memberi sentuhan estetika tanpa menghilangkan kesan sederhana. Tidak ada ornamen dekoratif mencolok, karena kekuatan desainnya justru terletak pada proporsi, komposisi massa, dan keteraturan ritme bukaan.
Sejarah sekolah ini jauh lebih awal dari gedung yang kamu lihat sekarang. Cikal bakalnya berdiri pada tahun 1927 dengan nama HCS (Hollands Chineesche School), yaitu sekolah berbahasa Belanda. Pada tahun 1931 kembali berdiri sekolah berbahasa Inggris dengan nama ECBS. Tahun 1941 dilakukan penambahan gedung baru yang dinamakan School Chinese Gemeenschap atau Tionghoa Catholic School, yang kini dikenal sebagai SMP Budi Murni 3. Gedung tahun 1941 inilah yang dirancang oleh Groenewegen dan menjadi bangunan utama yang sekarang ditetapkan sebagai cagar budaya. Bangunan ini merupakan desain sekolah ketiga karya Groenewegen setelah Oranye School dan Beatrix School.
Dari sisi sejarah, bangunan ini memiliki nilai penting karena mencerminkan perkembangan pendidikan dasar di Kota Medan pada masa kolonial, khususnya bagi komunitas Tionghoa Katolik. Sekolah ini menjadi bagian dari dinamika sosial kota, ketika pendidikan modern mulai berkembang dan menjadi sarana mobilitas sosial masyarakat. Keberadaannya menunjukkan bagaimana pendidikan menjadi fondasi pembentukan masyarakat kota yang majemuk.
Dari sisi estetika, bangunan ini memperlihatkan arsitektur modern kolonial yang sederhana namun kuat karakter. Penggunaan bentuk geometris tegas, bukaan lebar, dan komposisi massa yang bersih menciptakan tampilan yang khas. Pengaruh arsitektur modern Eropa tampak jelas, namun telah disesuaikan dengan iklim tropis melalui ventilasi silang dan overstek atap. Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik tersendiri di tengah kepadatan kawasan pusat kota.
Dari sisi sosial, sekolah ini memiliki hubungan erat dengan komunitas Tionghoa Katolik di Medan. Pada awalnya, sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak Tionghoa beragama Katolik. Dalam perjalanannya, sekolah ini menjadi bagian dari jaringan pendidikan Budi Murni yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera Utara. Bangunan ini bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang pembentukan identitas dan budaya komunitasnya.
Keaslian bangunan masih terjaga. Bentuk dasarnya tetap seperti saat didirikan pada tahun 1941, hanya terjadi pergantian material pada jendela serta penambahan beberapa gedung baru di area sekolah untuk menunjang kebutuhan pendidikan masa kini. Kondisinya saat ini dinyatakan utuh, terpelihara, dan pernah dipugar. Secara umum, struktur utama dan karakter arsitekturnya masih dapat dikenali dengan jelas.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012, bangunan Sekolah YPK Budi Murni memenuhi kriteria karena memiliki nilai sejarah, nilai estetika, nilai sosial, dan nilai edukasi. Hasil verifikasi merekomendasikan bangunan ini sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Saat kamu berdiri di depannya, kamu sedang melihat bukan hanya sebuah sekolah tua, melainkan jejak perjalanan panjang pendidikan modern di Kota Medan yang telah berlangsung lebih dari delapan dekade.


Informasi
Lokasi Sekolah YPK Budi Murni
Koordinat
3.5871690769538844, 98.68612569570135
Alamat
Jl. Merapi No. 2 – Jl. M.T. Haryono, Kota Medan, Sumatera Utara