
Bank Mandiri Eks Bank Bumi Daya
Bangunan

Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/bank-mandiri-eks-bank-bumi-daya-medanDeskripsi Sejarah
Di persimpangan Jalan Balai Kota dan Jalan A. Yani VII ini, kamu sedang berhadapan dengan sebuah bangunan yang telah lama menjadi saksi perjalanan dunia perbankan di Kota Medan. Gedung ini dirancang oleh C.P. Wolfschoemaker, seorang arsitek terkenal pada masa kolonial Belanda, dan selesai dibangun pada tahun 1940. Pada awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai kantor Nederlands Indische Handelsbank (NIHB), salah satu bank penting di Hindia Belanda, sekaligus kantor K.P.M. (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan perkapalan Belanda. NIHB sendiri telah berdiri di Kota Medan sejak tahun 1914. Sebelum menempati gedung ini, kantor NIHB bergabung dengan Stoomvaart Maatschappij Nederland dan berlokasi di sudut Jalan A. Yani (Kesawan) dan Jalan P. Pinang, yang kini dikenal sebagai Gedung Jasindo.
NIHB merupakan salah satu bank nasional Belanda dengan perjalanan institusi yang panjang. Pada tahun 1950, namanya berubah menjadi Nationale Handelsbank. Pada tahun 1959 kembali berganti nama menjadi Bank Umum Negara (BUNEG), dan setahun kemudian, pada tahun 1960, bank ini diakuisisi oleh Rotterdamsche Bank sehingga dikenal sebagai AMRO Bank. Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 17 Agustus 1965, bangunan ini digunakan sebagai kantor Bank Negara Indonesia. Perjalanan fungsinya berlanjut hingga pada 31 Desember 1968 gedung ini menjadi kantor Bank Bumi Daya (BBD). Setelah krisis ekonomi tahun 1998, Bank Bumi Daya melebur dengan beberapa bank lainnya, dan sejak saat itu bangunan ini berfungsi sebagai kantor Bank Mandiri hingga sekarang.
Secara fisik, bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama difungsikan sebagai banking hall untuk melayani nasabah, sedangkan lantai dua digunakan sebagai ruang kerja bagi para staf dan pimpinan. Dari sisi arsitektur, desain bangunan ini banyak dipengaruhi oleh gaya Art Deco modern dan Nieuw Bouwen, dua gaya yang berkembang di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-an. Ciri khasnya terlihat pada fasade bangunan yang sederhana, dengan garis-garis horizontal yang tegas dan dekorasi yang sangat minimal. Kombinasi garis horizontal dengan bukaan vertikal membuat tampilan bangunan terasa organik dan plastis.
Menariknya, rancangan bangunan ini berbeda dari desain Wolfschoemaker sebelumnya yang cenderung simetris. Pada bangunan ini, susunan massa terlihat asimetris dan merupakan rancangan terakhir dari Wolfschoemaker. Bukaan berbentuk lingkaran turut berperan dalam mengurangi kesan padat dan masif pada bangunan. Material utama yang digunakan adalah beton, dengan atap datar, warna bangunan dominan putih, serta jendela-jendela geometris tanpa ornamen.
Gedung ini kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Pasal 5 dan 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012. Dari sisi nilai sejarah, selain usianya yang telah lebih dari 50 tahun, gedung ini memiliki signifikansi karena menjadi bagian penting dari perkembangan perekonomian perbankan di Kota Medan. Bangunan Nederlands Indische Handelsbank (NIHB) dan K.P.M. ini berdiri pada akhir tahun 1930-an, sementara NIHB sendiri merupakan bank keempat yang didirikan di Hindia Belanda dan memegang peranan penting pada masa kolonial.
Dari nilai estetika, secara arsitektural bangunan ini merupakan salah satu bangunan sudut yang menonjol di Kota Medan. Dirancang oleh C.P. Wolfschoemaker, desainnya memperlihatkan langgam Nieuw Bouwen dengan penerapan beberapa detail Art Deco pada bagian interior. Upaya meminimalisir ornamen sangat terlihat, meskipun masih terdapat satu elemen dekoratif berupa kaca patri pada pintu masuk utama. Eksterior bangunan dengan garis-garis stream line yang tegas turut memperkuat karakter kawasan sekitarnya.
Dari nilai ilmiah, gedung ini dapat dipandang sebagai laboratorium terbuka bagi penelitian di bidang arsitektur, konstruksi bangunan, serta ekonomi perbankan. Fungsi bangunan ini juga berperan dalam pembentukan komunitas bisnis keuangan di Kota Medan. Sementara itu, dari nilai kelangkaan, baik dari segi fungsi, teknologi bangunan, maupun penerapan langgam arsitektur Nieuw Bouwen, gedung ini termasuk dalam kategori bangunan yang langka di Kota Medan. Hari ini, ketika kamu berdiri di hadapan gedung ini, yang kamu lihat bukan sekadar kantor bank, melainkan potongan sejarah panjang Kota Medan yang merekam perubahan zaman, pergantian lembaga, serta perkembangan arsitektur dan ekonomi dari masa ke masa.



Informasi
Lokasi Bank Mandiri Eks Bank Bumi Daya
Koordinat
3.588798792175219, 98.67802273551364
Alamat Resmi
Jl. Balai Kota – Ahmad Yani VII, Kota Medan, Sumatera Utara