Sejarah Perkembangan Kota
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Menampilkan 126 Objek

Kamu berada di kawasan yang sejak awal abad ke-20 menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kekuasaan Kesultanan Deli. Bangunan di hadapanmu adalah Masjid Raya Al Mashun, masjid utama kesultanan yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah dan menjadi penanda sejarah Kota Medan.
Lihat Detail →

Kamu sedang berada di Jl. Brigjend Katamso No.66, tepat di kawasan Kecamatan Medan Maimun, di hadapan sebuah istana yang bukan sekadar bangunan tua, tapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Kerajaan Kesultanan Melayu Deli dan kota Medan. Inilah Istana Maimoon, dibangun oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888 dan selesai pada 1891, dengan renovasi signifikan dilakukan pada 1923. Luas bangunan mencapai 3.617 m2 dengan luas lahan keseluruhan 42.410 m2, membentang memanjang dari utara ke selatan dengan orientasi utama menghadap timur, sementara bagian belakang menghadap Sungai Deli di barat.
Lihat Detail →

Anda berada di Vihara Gunung Timur, sebuah ruang sakral yang sejak puluhan tahun lalu menjadi penanda kuat keberadaan, keyakinan, dan kehidupan spiritual masyarakat Tionghoa di Kota Medan. Berdiri di Jl. Hang Tuah No. 16, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, vihara ini menempati lahan yang luas dan strategis, dengan Sungai Babura mengalir di sisi utara dan timurnya, serta sebagian di sisi selatan, seolah memeluk bangunan ini dari tiga arah. Di hadapan Anda saat ini bukan sekadar rumah ibadah, melainkan sebuah warisan budaya yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan Rumah Tjong A Fie, sebuah rumah tinggal megah yang berdiri kokoh di jantung Kota Medan, menyuguhkan kombinasi arsitektur Tionghoa, Eropa, dan lokal yang unik. Bangunan ini memiliki panjang 36 meter, tinggi 15 meter, dan berdiri di atas lahan seluas 2.200 m2 dengan luas bangunan 5.180 m2, menandakan kemegahan dan peran penting pemiliknya dalam sejarah kota. Rumah ini bersifat profan, namun setiap sudutnya sarat dengan nilai sejarah, estetika, religius, sosial, budaya, dan ilmiah. Struktur bangunan didominasi oleh batu bata dan kayu, sementara lantai kedua dan sebagian kolom menggunakan kayu besi yang kuat, dengan atap genteng yang menutup seluruh bangunan. Setiap elemen dirancang dengan teliti, mulai dari gerbang yang dihiasi ukiran naga, patung singa penjaga, hingga atap dengan ornamen burung phoenix yang menjulang, menegaskan keindahan visual sekaligus simbolik.
Lihat Detail →

Kamu berada di kawasan Kampung Madras, di tengah hiruk pikuk Kota Medan yang multietnis, dan di hadapanmu berdiri Kuil Shri Mariamman, bangunan sakral yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 64/CB/B/2021. Dari gerbangnya yang menjulang dan penuh warna, kamu langsung merasakan nuansa India Selatan yang begitu kuat, seolah ruang kota di sekitarnya berubah menjadi penggalan kecil dari tanah leluhur komunitas Tamil.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jl. Ahmad Yani No. 2, tepat di jantung Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan. Dari sini, pandanganmu langsung tertuju pada sebuah bangunan bersejarah yang tampak megah meski telah menua dengan anggun. Ini adalah Kantor PT. London Sumatera Indonesia, gedung yang tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan ekonomi dan perkebunan di Sumatera Utara, tetapi juga menampilkan kekayaan arsitektur kolonial Inggris yang berpadu harmonis dengan sentuhan art deco dan gaya eklektik. Luas bangunan sekitar 2.000 m2, berdiri di atas lahan yang dahulu menjadi pusat aktivitas perusahaan perkebunan ternama di pesisir timur Sumatera, dan kini tetap utuh, terpelihara, dan masih berfungsi hingga saat ini.
Lihat Detail →

Kamu sedang berada di halaman depan Masjid Al-Osmani, di Jalan Kolonel Yos Sudarso, Km.17,5, Medan. Bangunan masjid tampak megah di hadapanmu, kubah tunggalnya bersinar lembut di bawah sinar matahari tropis, sementara empat menara di setiap sudut menegaskan karakter sakralnya. Udara di sekitar halaman terasa sejuk karena pepohonan rindang yang mengelilingi bangunan, dan aroma kayu serta batu yang berpadu dengan warna hijau dan kuning pada eksterior masjid memberikan kesan harmonis antara arsitektur dan alam sekitar. Saat kamu menapaki halaman, teras dan serambi masjid yang luas tampak menyambut langkahmu dengan tiang-tiang melengkung yang kaya ornamen Melayu. Setiap detail, mulai dari lampu kandil Andalusia di kubah hingga lengkungan yang mengingatkan pada arsitektur Persia, terlihat jelas di depan mata, memberi kesan seolah kamu sedang berada di jantung sejarah Islam di Labuhan Medan.
Lihat Detail →

Kamu berada di Lapangan Merdeka, ruang terbuka seluas 48.125 meter persegi dengan ukuran sekitar 275 x 175 meter, berada pada ketinggian 22 mdpl dengan koordinat 3°35'25,02" LU dan 98°40'42,84" BT. Struktur ini tercatat dalam Dokumen Nomor 35/CB/S/2021 berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dan diusulkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara tahun 2025 oleh Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan sebuah bangunan berwarna hijau khas militer yang berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk Kota Medan, dikenal sebagai Museum Perjuangan TNI dan tercatat sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 24/CB/B/2021. Bangunan ini telah berstatus sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, dengan jenis Museum dan bersifat profan. Dari luar, tampilannya mungkin terlihat sederhana, tetapi setiap dindingnya menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah kota dan bangsa.
Lihat Detail →

Kamu berada di sebuah taman luas yang membentang tenang di tengah Kota Medan, dengan kolam besar sebagai pusat pandangan dan deretan pepohonan yang menghadirkan suasana teduh. Inilah Taman Sri Deli, sebuah Struktur Cagar Budaya yang telah ditetapkan berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 86/CB/SR/2021. Struktur ini termasuk kategori Struktur, bersifat profan, merupakan peninggalan masa Kolonial yang dibangun pada tahun 1930–1931 dan pernah direnovasi pada tahun 2002. Statusnya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan pada tahun 2025 direkomendasikan menjadi Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara berdasarkan verifikasi Tim Ahli Cagar Budaya Kota Medan.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jalan Imam Bonjol No. 17, tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Di sini berdiri sebuah bangunan bersejarah yang masih kokoh hingga kini, Bank Standard Chartered. Bangunan ini merupakan salah satu cagar budaya yang ditetapkan berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan nomor dokumen 23/CB/B/2021. Struktur bangunan yang kamu lihat memiliki gaya arsitektur Victorian Renaissance dengan bentukan atap limasan, mengingatkan pada Le Chateaux di Prancis. Bangunan utama berlantai dua ini memiliki panjang 30 meter, lebar 25 meter, dan tinggi 20 meter dengan orientasi menghadap ke barat. Luas bangunannya mencapai 750 m2, dengan konstruksi yang memadukan dinding bata, rangka kayu, beton bertulang, lantai keramik dan baja, serta kolom kayu di teras.
Lihat Detail →

Kamu berada di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di hadapan bangunan megah yang sejak lama dikenal sebagai Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 28/CB/B/2021. Statusnya sudah ditetapkan dan termasuk dalam kategori Tempat Tinggal dengan sifat profan. Rumah dinas ini dibangun pada tahun 1939 dan berasal dari periode Kolonial, menjadi salah satu penanda penting sejarah kepemimpinan di Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Anda kini berada di kompleks bersejarah Pengadilan Negeri Medan, yang terdiri dari dua bangunan utama, Gedung A dan Gedung B. Keduanya merupakan contoh arsitektur masa peralihan, dengan denah simetris, teras depan–belakang, serta ruang tengah sebagai pusat bangunan. Gedung A dibangun pada tahun 1914 sebagai Raad van Justitie atau Rumah Keadilan pada masa Hindia Belanda, dan diresmikan pada 3 Maret 1916. Bangunan ini dirancang oleh arsitek J. Snuyff dan dibangun oleh kontraktor Langereis & Co. Dengan luas sekitar 3.379 meter persegi, gedung ini memiliki 12 ruang sidang serta halaman tengah yang berfungsi sebagai taman dalam untuk pencahayaan dan sirkulasi udara alami.
Lihat Detail →

Kamu tiba di kawasan Kesawan, di persimpangan jalan yang sejak dulu menjadi urat nadi kota. Di antara ruko, percetakan, dan lalu lintas yang terus bergerak, Masjid Bengkok berdiri tanpa perlu bersuara keras untuk menarik perhatian. Begitu kamu melangkah mendekat ke Jalan Masjid No. 62, suasananya terasa berbeda. Ada keteduhan yang bukan hanya datang dari bangunan, tetapi juga dari sejarah panjang yang melekat di setiap sudutnya. Inilah Masjid Bengkok, sebuah bangunan sakral yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Medan melalui SK Wali Kota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dan kini direkomendasikan untuk naik peringkat sebagai Cagar Budaya Provinsi Sumatera Utara.
Lihat Detail →

Kamu berada di salah satu sudut paling ikonik di pusat Kota Medan, tepat di kawasan Kesawan yang sarat sejarah, dan di hadapanmu berdiri megah Kantor Pos Besar Medan dengan kubah khasnya yang langsung mencuri perhatian. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 15/CB/B/2021. Jenisnya adalah bangunan kantor dengan sifat profan, dan statusnya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, menegaskan perannya sebagai bagian penting dari sejarah pelayanan publik di kota ini. Bangunan ini beralamat di persimpangan Jalan Balai Kota dan Jalan Kantor Pos, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara posisi, ia berada tepat di seberang Lapangan Merdeka dan berdekatan dengan kawasan perniagaan lama. Di sebelah utara berbatasan dengan Kantor PT Telkom, di timur dengan bangunan Bank BCA, di selatan dengan Jalan Pos dan Jalan Bukit Barisan, serta di barat dengan Jalan Balai Kota. Letaknya yang strategis di jantung kota menjadikannya simpul penting aktivitas ekonomi dan sosial sejak awal abad ke-20.
Lihat Detail →

Kamu berada di depan bangunan megah yang sejak lama menjadi pusat kendali pemerintahan di Sumatera Utara, berdiri anggun dengan karakter arsitektur kolonial yang kuat dan penuh wibawa. Inilah Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Utara, bangunan yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 25/CB/B/2021. Statusnya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya dan termasuk dalam jenis bangunan kantor dengan sifat profan, menegaskan fungsinya sebagai ruang administrasi dan pemerintahan yang strategis di tingkat provinsi. Bangunan ini beralamat di Jalan Diponegoro No. 30, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara spasial, posisinya sangat penting karena di sebelah utara berbatasan dengan Masjid Agung Sumatera Utara, di sebelah timur dengan Jalan Pangeran Diponegoro, di sebelah selatan dengan Jalan R.A. Kartini, dan di sebelah barat dengan Medan Club. Letaknya yang berada di pusat kota menjadikannya bagian dari koridor sejarah Medan yang sarat dengan bangunan kolonial dan institusi penting.
Lihat Detail →
5 Objek Cagar Budaya paling ikonik di Kota Medan yang wajib kamu kunjungi
Kota Medan memiliki beragam objek cagar budaya yang meliputi bangunan, kawasan, struktur, situs, dan benda. Peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota yang telah dimulai sejak abad ke-11.
Lapisan sejarah tersebut mencerminkan perkembangan kebudayaan dari era pemukiman kuno di Situs Kota Cina, berlanjut pada masa Kesultanan Melayu Deli, periode kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga perkembangan kota pada masa pasca kemerdekaan. Setiap objek cagar budaya menjadi penanda penting yang membentuk identitas sejarah dan budaya Kota Medan hingga hari ini.
Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan tembakau. Berbagai bangunan bersejarah seperti istana, masjid, gereja, dan gedung kolonial menjadi simbol identitas kota hingga saat ini.
Pelestarian objek cagar budaya membantu menjaga identitas sejarah kota, mendukung pariwisata sejarah, serta menjadi sumber edukasi bagi generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.