
Lapangan Merdeka
Struktur








Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/lapangan-merdekaDeskripsi Sejarah
Kamu berada di Lapangan Merdeka, ruang terbuka seluas 48.125 meter persegi dengan ukuran sekitar 275 x 175 meter, berada pada ketinggian 22 mdpl dengan koordinat 3°35'25,02" LU dan 98°40'42,84" BT. Struktur ini tercatat dalam Dokumen Nomor 35/CB/S/2021 berdasarkan SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dan diusulkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara tahun 2025 oleh Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Lapangan ini terletak di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, dikelilingi Jalan Bukit Barisan (utara), Jalan Kereta Api (timur), Jalan Pulau Pinang (selatan), dan Jalan Balai Kota (barat). Posisinya berada di simpul kota dan dikenal sebagai titik nol Kota Medan, menjadikannya pusat orientasi sejarah dan perkembangan kota sejak masa kolonial.
Kawasan ini mulai ditata pada dekade 1880-an sebagai Medan Esplanade dalam pola perencanaan kota modern ala Barat. Lokasinya tidak jauh dari kantor Deli Maatschappij yang didirikan Jacobus Nienhuys tahun 1869 di sekitar pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Sejak itu lapangan menjadi pusat ruang representasi kekuasaan dan modernitas kolonial.
Di sekelilingnya berdiri fasilitas inti kota kolonial seperti balai kota, stasiun kereta api, kantor pos, bank, hotel, dan balai pertemuan. Hingga kini jejak tersebut masih terlihat pada bangunan bersejarah seperti eks De Javasche Bank (kini Bank Indonesia), Kantor Pos Besar Medan, dan Hotel De Boer (kini Inna Dharma Deli). Lapangan ini dirancang sebagai sumbu perkembangan kota.
Pada masa awal, lapangan dikelilingi pohon trembesi (Samanea saman) yang didatangkan dari Amerika Latin sebagai peneduh dan paru-paru kota. Akses utama dahulu berada di sudut barat laut dekat Air Mancur Nienhuys yang kini telah direkonstruksi. Foto udara 1930 menunjukkan desain lanskap simetris yang khas meskipun kini telah mengalami perubahan.
Lapangan ini merupakan lapangan sepak bola pertama di Medan hingga tahun 1927 sebelum difungsikan sebagai taman. Pada masa kolonial menjadi lokasi pasar malam dan upacara resmi. Setelah kemerdekaan, berubah fungsi menjadi ruang perjuangan rakyat.
Pada 16 Oktober 1945 Muhammad Hasan membacakan Proklamasi Kemerdekaan untuk Sumatra Timur dan Sang Merah Putih dikibarkan di sini. 9 Oktober 1945 digelar Parade Akbar Rakyat Sumatera Timur dipimpin Mr. Luat Siregar. Lapangan ini juga menjadi lokasi pidato Kolonel A.E. Kawilarang, Dr. Mansoer, serta Presiden Soekarno pada 30 Juli 1961. Tahun 1965 kembali menjadi arena konsolidasi masyarakat Sumatera Utara.
Kondisinya saat ini utuh dan telah direvitalisasi dengan lintasan lari, hamparan rumput, dan panggung rakyat. Dua lantai ruang bawah tanah untuk museum, galeri seni, UMKM, dan parkir masih dalam tahap penyelesaian. Struktur ini terpelihara dan pernah dipugar sebagai bagian pelestarian.
Nilai penting Lapangan Merdeka meliputi nilai sejarah, sosial budaya, ilmiah, dan estetika. Ia memiliki associative value dengan tokoh seperti Achmad Tahir, Mr. T. Mohammad Hasan, Soegondo Kartoprodjo, Kolonel A.E. Kawilarang, Dr. Mansoer, dan Presiden Soekarno. Dari sisi ilmiah, keberadaan pohon trembesi menjadi kajian sejarah ruang hijau kota. Dari sisi estetika, desain lanskapnya memperkuat karakter kawasan bersejarah Medan.
Berdasarkan keseluruhan nilai tersebut, hasil verifikasi Tim Ahli Cagar Budaya Kota Medan Tahun 2025 merekomendasikan Lapangan Merdeka sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Status kepemilikan dan pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Kota Medan sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pelestarian warisan sejarah kota.





Informasi
Lokasi Lapangan Merdeka
Koordinat
3.5903895019400305, 98.67861512527242
Alamat
Jl. Balai Kota No.1, Kota Medan, Sumatera Utara 20112