Stasiun Kereta Api Pulu Brayan

Stasiun Kereta Api Pulu Brayan

Bangunan
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 1
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 2
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 3
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 4
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 5
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 6
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 7
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 8
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 9
Stasiun Kereta Api Pulu Brayan - 10

Deskripsi Sejarah

Kamu berada di sebuah stasiun tua yang masih berdiri tenang di tengah hiruk-pikuk kawasan industri dan permukiman, rel-rel besi memanjang di hadapanmu seolah membawa ingatan ke masa ketika jalur Medan–Belawan menjadi nadi utama pergerakan hasil perkebunan di pesisir timur Sumatra. Di sinilah Stasiun Kereta Api Pulu Brayan berdiri, bangunan yang kini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026. Namanya tercatat sebagai Stasiun Kereta Api Pulu Brayan, dengan jenis Bangunan Utama Stasiun Kereta Api yang ditandai sebagai “Lainnya (Stasiun)”, bersifat profan, dan statusnya sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Bangunan ini beralamat di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara batas wilayah, di sebelah utara dan selatan berbatasan dengan rumah tinggal, di sebelah timur berbatasan dengan Jalan Stasiun 6, dan di sebelah barat berbatasan dengan Jalan Stasiun KA Pulau Brayan. Koordinat tengahnya tercatat pada 3°63‘1789“ LU dan 98°67‘0475“ BT. Lokasinya sekitar 200 meter dari persimpangan Brayan, berada dalam kawasan yang sejak awal dikenal sebagai Brayan Bengkel, sebuah kawasan industri perkeretaapian yang berkembang pada awal abad ke-20.

Stasiun ini dibangun ulang pada tahun 1919 dan masuk dalam periode kolonial. Namun sebelum itu, pada rentang 1883–1886, stasiun awal telah berdiri dengan material kayu dan besi sebagai bagian dari jalur kereta api Medan–Belawan, jalur pertama di pesisir timur Sumatra yang dirancang untuk mendukung distribusi hasil perkebunan di tanah Melayu Deli. Pembangunan ulang tahun 1919 menjadikannya bagian dari pengembangan besar kawasan industri perkeretaapian yang dibangun oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada dekade 1910-an.

Menurut buku “Sumatra Station”, DSM menunjuk Ir. Meijer sebagai arsitek untuk rangkaian stasiun yang dibangun serentak dari Medan hingga Belawan, termasuk Stasiun Pulu Brayan ini. Bangunan yang dirancangnya menggunakan gaya arsitektur transisi, memadukan konsep arsitektur Eropa dengan adaptasi tropis dan lokal. Skala bangunan yang proporsional, kolom berbentuk ionik, detail ventilasi, serta bentuk jendela banyak mengadopsi arsitektur Eropa, sementara bentuk atap dan konsep teras menyesuaikan dengan iklim tropis. Stasiun ini juga tercatat sebagai stasiun pertama yang menggunakan material besi digabung dengan batu bata sebagai konstruksi utamanya.

Di kawasan sekitarnya masih terdapat rumah sinyal yang hingga kini tetap digunakan, serta kompleks pergudangan yang saat ini disewakan untuk umum. Di sebelah timur stasiun terdapat kompleks perumahan pegawai DSM, yang dahulu penempatannya dibedakan antara pegawai lokal dan pegawai Eropa, memperlihatkan stratifikasi sosial pada masa kolonial. Kawasan ini secara keseluruhan dikenal sebagai Brayan Bengkel karena keberadaan balai yasa, gudang, dan area perumahan yang saling terhubung dalam satu sistem industri perkeretaapian.

Kondisi bangunan saat ini dinyatakan utuh dan terpelihara. Stasiun Pulu Brayan masih berfungsi hingga sekarang, meskipun didominasi oleh layanan kereta barang. Setiap harinya stasiun ini melayani sekitar 16 kali dinasan kereta CPO dan BBM, serta empat kali dinasan kereta komuter Sri Lelawangsa. Selain itu, stasiun ini juga menjadi tempat pengisian gerbong pupuk yang akan dibawa hingga ke Rantau Prapat. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa perannya sebagai simpul distribusi logistik masih terus berlangsung.

Dari sisi sejarah, bangunan ini memiliki nilai usia lebih dari satu abad dan menjadi stasiun kedua setelah Stasiun Kereta Api Medan. Ia menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan transportasi kereta api di Kota Medan serta mendukung pertumbuhan industri perkebunan yang menjadi fondasi ekonomi kawasan ini. Keberadaannya menyimpan informasi tentang perkembangan teknologi konstruksi, sistem transportasi, hingga pola permukiman kolonial di Medan.

Nilai estetikanya terlihat dari karakter arsitektur transisi yang khas, yang secara spesifik mewakili periode perkembangan arsitektur kolonial awal abad ke-20. Kolom ionik, ventilasi besar, komposisi bukaan, serta adaptasi atap tropis memperlihatkan dialog antara arsitektur Eropa dan konteks lokal. Nilai ilmiahnya juga tinggi karena bangunan ini menjadi sumber informasi penting mengenai sejarah transportasi, perekonomian, dan perkembangan industri di Kota Medan. Keasliannya masih terjaga, dengan sedikit perubahan pada fasade maupun interior peron, sehingga bentuk awal bangunan tetap dapat dikenali dengan jelas.

Status kepemilikan dan pengelolaan bangunan ini berada di bawah PT. KAI. Berdasarkan pasal 5 dan 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012, Stasiun Kereta Api Pulu Brayan dinilai memenuhi kriteria sebagai Cagar Budaya karena memiliki nilai sejarah, estetika, ilmiah, dan keaslian. Hasil verifikasi merekomendasikan bangunan ini untuk ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara.

Saat kamu berdiri di peronnya dan melihat rangka besi tua yang masih kokoh menahan atap, kamu tidak hanya sedang menyaksikan aktivitas kereta barang yang hilir mudik. Kamu sedang berada di salah satu simpul penting sejarah transportasi Sumatera Utara, tempat di mana rel-rel besi bukan sekadar jalur perjalanan, melainkan saksi tumbuhnya Kota Medan sebagai kota industri dan perdagangan sejak lebih dari seabad lalu.

Informasi

Lokasi Stasiun Kereta Api Pulu Brayan

Koordinat

3.631446382820882, 98.67058962324572

Alamat

Jl. KL. Yos Sudarso No.128, Tj. Mulia, Kec. Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara