Sekolah TK Santo Yoseph

Sekolah TK Santo Yoseph

Bangunan
Sekolah TK Santo Yoseph - 1
Sekolah TK Santo Yoseph - 2
Sekolah TK Santo Yoseph - 3
Sekolah TK Santo Yoseph - 4
Sekolah TK Santo Yoseph - 5
Sekolah TK Santo Yoseph - 6
Sekolah TK Santo Yoseph - 7

Deskripsi Sejarah

Kamu berada di sebuah kompleks pendidikan tua yang tenang di tengah hiruk-pikuk Kota Medan, sebuah bangunan yang sekilas tampak sederhana, tetapi menyimpan jejak sejarah panjang sejak hampir satu abad lalu. Di hadapanmu berdiri Sekolah TK Santo Yoseph, bangunan yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Lampiran SK Walikota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021, dengan Nomor Dokumen 12/CB/B/2021. Statusnya sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan hingga kini tetap difungsikan sebagai sekolah taman kanak-kanak yang aktif.

Bangunan ini beralamat di Jalan Palang Merah No. 15 A, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Ia berdiri pada koordinat 3° 35’ 06.11” LU dan 98° 40’ 54.13” BT, dengan ketinggian sekitar 25 meter di atas permukaan laut. Luas lahannya mencapai 5.000 meter persegi, sementara ukuran bangunannya memiliki panjang sekitar 30 meter dan lebar 25 meter. Di sekelilingnya, batas utara berbatasan dengan sekolah, sebelah timur dengan Jalan Pegadaian, sebelah selatan dengan Kantor Pegadaian, dan sebelah barat dengan ruko perabot. Letaknya yang berada di kawasan lama Kota Medan membuatnya menjadi bagian penting dari lanskap sejarah kota.

Bangunan ini termasuk dalam kategori lainnya yaitu sekolah, dengan sifat profan. Material utamanya terdiri dari bata, beton bertulang, serta penutup atap berupa genteng. Dindingnya memiliki ketebalan satu bata, lantainya menggunakan ubin, dan struktur kolomnya diperkuat dengan beton bertulang. Atapnya berbentuk perisai, dan di bagian tengah terdapat ventilasi udara berupa dormer serta sebuah elemen menyerupai menara kecil dengan penutup berbentuk lonceng yang di atasnya terdapat salib sebagai simbol sekolah Katolik. Secara arsitektural, bangunan satu lantai ini dirancang dengan gaya modern kolonial yang telah beradaptasi dengan iklim tropis, terlihat dari fasade simetris yang dipenuhi deretan pintu dan jendela untuk sirkulasi udara maksimal serta overstek atap yang cukup lebar.

Jika kamu menelusuri bagian dalamnya, kamu akan menemukan konsep taman dalam atau inner garden yang menjadi pusat orientasi ruang. Desain ini membentuk halaman tengah yang dahulu berfungsi sebagai ruang bermain sekaligus area sirkulasi terbuka. Teras depan dengan kolom lengkung menjadi area penerima yang memberi kesan ramah sekaligus elegan. Dekorasi bangunannya minimal, lebih menekankan fungsi dan kenyamanan iklim tropis daripada ornamen berlebihan. Hingga kini, kondisi bangunan secara umum masih utuh dan terpelihara, meskipun mulai mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat faktor usia serta penambahan bangunan baru yang kurang sesuai dengan standar perletakan awal.

Penambahan ruang dilakukan karena peningkatan jumlah siswa dari tahun ke tahun, sehingga yayasan harus menyesuaikan kebutuhan ruang belajar di lahan yang terbatas. Bangunan ini pernah dipugar dan saat ini tetap dalam kondisi terpelihara.

Sejarahnya bermula dari satu kesatuan kompleks dengan gedung Gereja Katolik Roma. Peletakan batu pertama dilakukan pada 18 Mei 1925, dan hanya tujuh bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu sore 2 Januari 1926, sekolah ini diresmikan oleh kontraktor Willem Jaski yang mewakili biro arsitek Hulswit-Fermont-Cuypers sebagai perancangnya. Peresmian tersebut dihadiri jemaat gereja dan para wartawan, bahkan seorang jurnalis dari Sumatra Post mencatat detail bangunannya yang terdiri dari aula resepsi, ruang konsultasi, kapel sementara, kelas Froebel, ruang menjahit, dua sayap samping untuk ruang tidur, serta sayap belakang untuk dapur, pantry, dan toilet. Galeri mengelilingi taman dalam berukuran sekitar 25 x 30 meter, menghubungkan setiap sayap bangunan sehingga tercipta komposisi ruang yang intim dan terorganisir.

Pada masanya, sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak Eropa yang tinggal di Medan dan juga terhubung dengan biara yang mampu menampung sekitar 18 perempuan. Memasuki masa sekarang, bangunan TK telah terpisah dari gedung SD, tetapi karakter kolonial modernnya masih kuat terasa. Sekolah ini kini dikelola oleh Yayasan Setia.

Dari sisi nilai penting, bangunan ini memiliki nilai sejarah karena berdiri sejak 1926 dan menjadi bagian dari perkembangan pendidikan dasar di Kota Medan. Nilai estetikanya terlihat pada komposisi arsitektur modern kolonial yang sederhana namun memiliki detail lengkung, dormer, dan menara lonceng yang khas. Nilai edukasinya jelas sebagai fasilitas pendidikan yang terus digunakan hingga kini. Nilai kelangkaannya tampak pada keberadaan menara lonceng yang kini jarang ditemukan di bangunan sekolah di Medan. Sementara nilai sosialnya berkaitan erat dengan komunitas Katolik di kota ini yang masih eksis dan menjaga keberlanjutan fungsi bangunan.

Sekolah TK Santo Yoseph diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara karena memiliki nilai sejarah, estetika, kelangkaan, dan keaslian yang kuat. Hasil verifikasi merekomendasikan bangunan ini sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Dengan segala jejak waktu yang masih melekat pada dinding bata dan kolom beton bertulangnya, kamu tidak hanya sedang berdiri di depan sebuah sekolah, tetapi di hadapan saksi perkembangan Kota Medan sejak era kolonial hingga hari ini.

Informasi

Lokasi Sekolah TK Santo Yoseph

Koordinat

3.58515891067566, 98.68163499217688

Alamat

Jl. Palang Merah No. 15A, Kota Medan, Sumatera Utara