Medan Club

Medan Club

Bangunan
Medan Club - 1
Medan Club - 2
Medan Club - 3
Medan Club - 4
Medan Club - 5
Medan Club - 6
Medan Club - 7

Deskripsi Sejarah

Anda berada di Medan Club, sebuah bangunan yang hari ini tampak tenang dan elegan di Jl. R. A. Kartini No. 36, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, namun menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih kompleks daripada kesan pertamanya. Di hadapan Anda berdiri sebuah clubhouse profan yang telah resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dan direkomendasikan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara, bukan semata karena usianya, tetapi karena peran dan transformasinya yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Kota Medan.

Lokasinya berada di jantung kota, dengan batas utara menghadap Sun Plaza, sisi timur berbatasan dengan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Utara, sisi selatan langsung berhadapan dengan Jalan R. A. Kartini, dan sisi barat bersebelahan dengan New York Cafe. Dari titik ini, Anda sesungguhnya sedang berdiri di atas sisa-sisa sebuah kompleks besar yang pada masa lalu pernah membentang sangat luas. Berdasarkan peta Kota Medan tahun 1945, kawasan ini dahulu merupakan bagian dari kompleks Kuil Shinto Jepang yang luasnya mencapai sekitar 148.500 meter persegi. Tapak SMA Negeri 1 Medan, eks Gedung Balai Kartini, hingga Restoran Istana Koki, semuanya pernah menjadi bagian dari satu kesatuan kawasan sakral tersebut.

Bangunan yang Anda lihat sekarang dibangun pada tahun 1943, pada masa pendudukan Jepang di Sumatera Timur. Awalnya, Medan Club bukanlah sebuah klub atau tempat pertemuan, melainkan bagian dari Kuil Shinto bernama Hirohara Jinja. Nama Hirohara memiliki makna yang sangat spesifik, Hiro berarti luas dan lapang, Hara berarti medan atau lapangan, sementara Jinja berarti kuil Shinto, agama asli masyarakat Jepang. Kuil ini dirancang oleh Suzuki Hiroyuki, seorang arsitek yang saat itu bekerja di Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran Angkatan Darat Jepang. Kompleks kuil tersebut mencakup aula utama, aula samping, gedung kantor atau shamusyo, gerbang utama o-tori, serta sebuah kolam dengan diameter sekitar delapan meter.

Gedung kantor yang kini menjadi Medan Club dulunya memiliki fungsi yang sangat beragam. Bangunan ini digunakan sebagai area kerja administrasi, ruang tamu, ruang rapat, auditorium, gudang, penginapan bagi imam atau biksu, tempat tinggal karyawan, dapur, serta ruang-ruang penunjang lainnya. Secara konstruksi, bangunan ini awalnya didominasi oleh material kayu dengan langgam arsitektur Jepang yang kuat, mencerminkan tipologi jinja atau rumah ibadah Shinto yang lazim dibangun sebagai rumah panggung, berkolom, dan menyatu dengan lanskap sekitarnya.

Masa berdirinya Kuil Hirohara Jinja tergolong sangat singkat. Pemerintah Jepang membangun kompleks ini pada tahun 1943 dan menyelesaikannya pada 1944. Namun, setelah Perang Dunia II berakhir, markas tentara Jepang mengeluarkan perintah untuk membongkar seluruh kompleks kuil pada Agustus 1945 dengan alasan yang sangat spesifik dan politis. Rencana pembongkaran ini mendapat penentangan dari masyarakat Kota Medan, sehingga tidak semua bangunan dihancurkan. Akhirnya, hanya gedung kantor yang tersisa dan tidak dibongkar, sementara bangunan-bangunan lainnya dirubuhkan.

Ketika Medan kemudian diduduki oleh tentara Sekutu, bangunan yang tersisa ini mengalami perubahan fungsi yang sangat signifikan. Gedung ini digunakan sebagai clubhouse Belanda bernama De Witte Societeit. Perkumpulan De Witte Societeit sendiri sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1879 sebagai tempat berkumpulnya orang-orang kulit putih Eropa, komunitas Tionghoa, serta para petinggi Tanah Deli, sehingga disebut “Witte”. Clubhouse pertamanya berada di samping Kantor Pos Besar Medan, yang kini dikenal sebagai Bank BCA. Setelah Jepang meninggalkan Medan, tiga dokter-kolonel militer, yaitu dr. Sukarja, dr. Hariono, dan dr. Ibrahim Irsan, bersama beberapa tokoh lainnya, mengambil alih bangunan di Jalan Kartini ini, yang kemudian berkembang menjadi Medan Club seperti yang dikenal saat ini.

Jika Anda memperhatikan bangunannya sekarang, Anda akan melihat bagaimana lapisan-lapisan sejarah tersebut masih dapat dibaca dari elemen arsitekturnya. Meskipun interiornya telah ditata ulang untuk fungsi baru sebagai restoran dan ruang pertemuan, nuansa Jepang masih terasa kuat, terutama pada bentuk plafon yang bernuansa alami dan penggunaan elemen kayu. Di saat yang sama, jendela-jendelanya menunjukkan pengaruh gaya Belanda, mencerminkan masa ketika bangunan ini digunakan oleh komunitas kolonial Eropa. Di bagian depan, masih berdiri sebuah gerbang dengan arsitektur Jepang yang menjadi penanda visual kuat dari asal-usul bangunan ini.

Kompleks Medan Club juga dilengkapi dengan ruang terbuka hijau yang luas dengan gaya taman Jepang. Keberadaan ruang hijau ini membuat kawasan tetap terasa asri meskipun berada di pusat kota yang padat. Saat ini, bangunan ini memiliki dua area restoran dan bar, satu khusus untuk anggota dan satu untuk umum. Fungsinya sebagai tempat pertemuan, kuliner, dan aktivitas sosial masih berjalan dengan baik hingga hari ini, bahkan dikenal sebagai satu-satunya tempat di Medan yang mengajarkan dansa dengan baik dan konsisten, dengan ballroom yang masih aktif digunakan.

Secara fisik, kondisi bangunan Medan Club saat ini dinilai utuh dan terpelihara dengan baik oleh pengelolanya. Bangunan ini masih berdiri kokoh, meskipun telah mengalami perubahan fungsi dan penataan interior. Renovasi yang dilakukan tidak menghilangkan karakter utama bangunan, melainkan justru menunjukkan kemampuan adaptasi arsitektur lama terhadap kebutuhan zaman baru.

Nilai penting Medan Club sangat kuat dari berbagai sisi. Dari nilai sejarah, bangunan ini berusia lebih dari 50 tahun dan menjadi bukti otentik pendudukan Jepang di Sumatera Timur. Ia merekam fase sebagai kuil Shinto Jepang, kemudian sebagai clubhouse Belanda De Witte Societeit, hingga akhirnya menjadi Medan Club yang dikenal masyarakat saat ini. Dari nilai estetika, bangunan ini menampilkan perpaduan unik antara konsep arsitektur tradisional Jepang, pengaruh kolonial Belanda, dan adaptasi terhadap iklim tropis. Tipologi rumah panggung dengan dominasi material kayu, meskipun kini semakin langka di Kota Medan, masih dapat dirasakan pada struktur dan karakter bangunan ini. Dari sisi kelangkaan, bangunan dengan konsep seperti ini kini tinggal hitungan jari di Medan, mengingat sebagian besar permukiman lama telah berganti dengan bangunan modern.

Dengan seluruh nilai sejarah, estetika, dan kelangkaan yang dimilikinya, Medan Club diusulkan dan direkomendasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara. Di tempat Anda berdiri sekarang, bangunan ini tidak lagi berfungsi sebagai kuil atau simbol kekuasaan kolonial, tetapi sebagai ruang sosial yang hidup, yang tetap menyimpan jejak masa lalu. Medan Club menjadi bukti bahwa sebuah bangunan dapat terus berubah fungsi, namun tetap menjaga identitas dan ingatan sejarahnya, menjadi bagian penting dari narasi panjang Kota Medan yang terus bergerak dari masa ke masa.

Informasi

Lokasi Medan Club

Koordinat

3.580351787199963, 98.67089009424879

Alamat

Jl. R. A. Kartini No. 36, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara