
Kolam Renang Paradiso
Bangunan









Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/kolam-renang-paradisoDeskripsi Sejarah
Kamu berada di Kolam Renang Paradiso, sebuah bangunan rekreasi yang sejak akhir dekade 1930-an menjadi bagian penting dari sejarah olahraga dan ruang publik Kota Medan. Bangunan ini bukan sekadar tempat berenang, tetapi penanda perubahan gaya hidup dan perkembangan fasilitas umum pada masa kolonial.
Kolam Renang Paradiso beralamat di Jalan Sisingamangaraja Nomor 6, Kelurahan Teladan Baru, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Wali Kota Medan Nomor 433/28.K/X/2021 tanggal 28 Oktober 2021 dengan Nomor Dokumen 70/CB/B/2021. Bersifat profan dan termasuk kategori kolam renang. Titik koordinatnya berada pada 3°58’00” LU dan 98°68’5528” BT dengan ketinggian sekitar 26 mdpl.
Dibangun pada tahun 1939 pada periode kolonial, kolam ini merupakan kolam renang umum pertama di Kota Medan yang didirikan oleh Gementee Medan. Awalnya dikenal sebagai Kolam Renang Jalan Raya dan dirancang sebagai fasilitas rekreasi serta olahraga bagi masyarakat kota.
Secara fisik terdapat tiga kolam: kolam utama berukuran 10 x 25 meter dengan kedalaman maksimal 1,5 meter, serta dua kolam anak dengan kedalaman 50 cm dan 75 cm. Material utama bangunan menggunakan bata, beton bertulang, besi, dan baja. Atap menggunakan dak beton tanpa kubah atau limasan.
Dari sisi arsitektur, bangunan ini dipengaruhi gaya Nieuw Bouwen yang berkembang di Hindia Belanda akhir 1930-an. Ciri utamanya adalah garis horizontal sederhana, tampilan streamline, minim ornamen, serta bentuk terbuka dan memanjang yang fungsional. Bangunan utama dilengkapi bar dan teras depan, dengan dua tangga spiral beton menuju lantai atas yang difungsikan sebagai tribun penonton.
Elemen arsitektural penting lainnya meliputi penggunaan batu bata kaca, rangka baja ringan, serta kolom berbentuk jamur (cendawan) yang menjadi ciri arsitektur modern saat itu. Desain terinspirasi bentuk pesawat dan kapal, terlihat dari teras melengkung dan detail menyerupai busur kapal, mencerminkan semangat modernitas kolonial.
Struktur bangunan dirancang oleh Ir. Niels Thiele, spesialis beton yang berkarya di Medan. Sistem beton bertulang yang diterapkan tergolong inovatif pada masanya. Fasilitas tambahan kemudian mencakup ruang ganti baru, gym indoor, ruang penyimpanan sepeda hingga 1.000 unit, ruang filter, dan area bawah tanah operasional. Pada tahun 1941 jumlah anggota tercatat mencapai 2.000 orang.
Dalam sejarahnya, lokasi ini menjadi area konflik pada masa pendudukan Sekutu (1945–1949). Setelah kemerdekaan, kolam ini digunakan sebagai arena cabang renang, loncat indah, dan polo air pada PON III tahun 1953. Sejumlah atlet nasional lahir dari sini, termasuk Radja Mursinal Nasution dan Habib Nasution yang meraih tiga medali emas di kolam ini.
Saat ini kondisi bangunan dinilai tidak terpelihara secara optimal. Beberapa bagian mengalami kerusakan seperti plesteran terkelupas, ruang ganti lembap, lantai berlumut, serta cat yang mengelupas akibat kapilarisasi air tanah. Meskipun pernah dipugar, perawatan berkelanjutan belum maksimal.
Nilai penting Kolam Renang Paradiso mencakup nilai sejarah sebagai pusat perkembangan olahraga renang di Medan; nilai asosiasi dengan peristiwa dan tokoh olahraga nasional; nilai estetika melalui arsitektur Nieuw Bouwen dan kolom jamur; nilai ilmiah pada teknologi beton bertulang; serta nilai kelangkaan sebagai fasilitas olahraga kolonial yang masih bertahan. Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2010 dan Perda Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012, bangunan ini direkomendasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kota Medan.




Informasi
Lokasi Kolam Renang Paradiso
Koordinat
3.5800680090968395, 98.68558480050612
Alamat
Jl. Sisingamangaraja No. 6, Kota Medan, Sumatera Utara