
Kawasan Kesawan – Lapangan Merdeka
Kawasan






















Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/kawasan-kesawan-lapangan-merdekaDeskripsi Sejarah
Kamu berada di jantung Kota Medan, di sebuah kawasan yang sejak akhir abad ke-19 menjadi titik awal tumbuh dan berkembangnya kota modern ini, dikenal sebagai Kawasan Kesawan – Lapangan Merdeka. Kawasan ini diusulkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Tahun 2026, berjenis Kota Lama/Kota Tua, bersifat profan, berperiode kolonial, mulai berkembang pada era 1880-an, telah berstatus sebagai Kawasan Cagar Budaya, dengan luas 55,6 hektare atau ±556.000 meter persegi. Secara administratif berada di Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan batas utara Jalan Tembakau Deli – Prof. HM Yamin, timur Jalan Kereta Api, selatan Jalan Palang Merah, dan barat Sungai Deli. Sejak awal kawasan ini menjadi pusat orientasi kota, bahkan titik nol Kota Medan diletakkan di sini oleh pemerintah kolonial sebagai penegasan perannya sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan mobilitas.
Sebagai jantung kota, kawasan ini memiliki lebih dari 200 bangunan bersejarah yang membentuk built heritage property terbesar di Medan, meskipun sebagian memerlukan perhatian dalam perawatan. Landmark penting berdiri di sini, seperti Balai Kota Lama (Medan Stadhuis), gedung Bank Indonesia bekas De Javasche Bank, Kantor Pos Besar Medan, Stasiun Kereta Api Medan beserta Titi Gantung, Gedung London Sumatra (dahulu Harrison and Crossfield), serta Tjong A Fie Mansion. Di tengah kawasan terbentang ruang terbuka yang dahulu disebut Esplanade dan kini dikenal sebagai Lapangan Merdeka Medan, yang sejak masa kolonial berfungsi sebagai paru-paru kota dan pusat aktivitas publik.
Kesawan dan Lapangan Merdeka berkembang sebagai satu kesatuan sejarah. Kesawan yang awalnya kampung tumbuh menjadi kawasan komersial dengan karakter toko dua lantai—usaha di bawah dan hunian di atas—dipisahkan jalan sempit dengan arcade sebagai koridor pejalan kaki. Lapangan Merdeka dirancang sebagai ruang terbuka monumental yang dikelilingi bangunan pemerintahan dan bisnis modern, membentuk komposisi kota yang terpusat. Keaslian banyak bangunan masih dapat dikenali meskipun tekanan pembangunan modern terus berlangsung.
Pertumbuhan kawasan ini erat dengan peran Deli Maatschappij dalam industri perkebunan tembakau Sumatera Timur yang diprakarsai Jacob Nienhuys. Tahun 1869 kantor usaha dipindahkan ke pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura yang lebih aman dari banjir, memicu perkembangan kawasan sekitar Medan Putri dan Kesawan. Pada 1 Maret 1887 Medan ditetapkan sebagai ibu kota Keresidenan Sumatera Timur menggantikan Bengkalis. Untuk distribusi hasil perkebunan, Deli Spoorweg Maatschappij didirikan tahun 1883 dan mengoperasikan jalur Medan–Labuhan pada 1886 serta menata lapangan terbuka Esplanade di depan stasiun. Di sekelilingnya berdiri fasilitas kota modern seperti kantor pos (1888), Witte Societeit (1882), Hotel De Boer, Grand Hotel Medan (1887), kantor bank internasional, serta Monumen Nienhuys yang dibangun tahun 1915 oleh Deli Proefstation Vereniging sebagai penghormatan atas jasanya.
Di kawasan Kesawan juga berdiri rumah saudagar Tionghoa terkemuka seperti Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie, pasar lama Pajak Hindu dan Pajak Ikan Lama, serta bangunan ibadah seperti Masjid Lama Gang Bengkok dan Madrasah Islamiyah Tapanuli di Jalan Mesjid dan Jalan Hindu. Keberadaan bangunan kolonial, Tionghoa, dan pribumi dalam satu ruang menunjukkan kompleksitas warisan budaya kawasan ini. Nilai sejarahnya tinggi sebagai lokasi pengibaran Sang Merah Putih dan pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia untuk Sumatera Timur oleh Muhammad Hasan di Lapangan Merdeka, sekaligus titik awal perkembangan Medan modern sejak sekitar 1870. Nilai estetika terlihat dari komposisi tata ruang monumental dengan Lapangan Merdeka sebagai pusat dan pola grid komersial Kesawan, banyak dirancang biro arsitek ternama seperti Hulswit, Fermont & Cuypers dan Ed. Cuypers. Nilai ilmiahnya tampak pada kelengkapan fungsi kota modern—balai kota, kantor pos, stasiun, bank, hotel, masjid, gereja—dalam satu kawasan inti. Nilai sosialnya tercermin dari peran tokoh industri perkebunan, saudagar Tionghoa, pejabat kolonial, hingga tokoh kemerdekaan. Nilai kelangkaannya terlihat dari keberagaman budaya Eropa, Tionghoa, dan Melayu-Islam dalam lanskap sejarah yang relatif utuh. Dengan keseluruhan nilai tersebut, Kawasan Kesawan – Lapangan Merdeka direkomendasikan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara sebagai langkah strategis menjaga inti sejarah Kota Medan agar tetap terawat dan bermakna bagi generasi mendatang.











Informasi
Lokasi Kawasan Kesawan – Lapangan Merdeka
Koordinat
3.593, 98.676
Alamat
Kesawan, Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara