Kantor PT. Kereta Api Indonesia

Kantor PT. Kereta Api Indonesia

Bangunan
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 1
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 2
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 3
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 4
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 5
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 6
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 7
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 8
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 9
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 10
Kantor PT. Kereta Api Indonesia - 11

Deskripsi Sejarah

Anda berada di depan Kantor PT Kereta Api Indonesia Cabang Medan, sebuah bangunan cagar budaya yang berdiri di Jl. Prof. H.M. Yamin No. 14, Kelurahan Perintis, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini menempati titik koordinat 3°59’37,55” LU dan 98°67’98,00” BT, berada di kawasan strategis pusat kota dengan batas utara Jalan Prof. H.M. Yamin, sisi timur Kantor Dinas Pariwisata, sisi selatan kawasan Centre Point, dan sisi barat Jalan Jawa. Sejak awal berdirinya, bangunan ini memang dirancang sebagai bangunan profan dengan fungsi perkantoran, dan hingga kini masih menjalankan peran tersebut sebagai kantor operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Bangunan ini didirikan pada tahun 1918, pada masa kolonial Belanda, dan menjadi salah satu bangunan awal di Kota Medan yang telah menggunakan konstruksi beton bertulang. Meski demikian, tidak seluruh bagian bangunan sepenuhnya memanfaatkan beton bertulang. Sejumlah elemen struktur masih menggunakan sistem dinding pemikul atau bearing wall, memperlihatkan fase transisi teknologi konstruksi pada awal abad ke-20. Perpaduan teknologi ini menjadikan bangunan tersebut penting bukan hanya dari sisi fungsi, tetapi juga sebagai sumber informasi perkembangan ilmu konstruksi bangunan di Medan.

Secara arsitektural, di depan Anda tampak jelas penerapan langgam modern kolonial yang telah beradaptasi dengan iklim tropis. Bentuk bangunan yang berdiri di sudut persimpangan jalan ini disusun dalam denah berbentuk huruf L dan terdiri dari tiga lantai, dengan orientasi bangunan menghadap ke arah utara. Untuk mereduksi kesan monoton dari massa bangunan yang besar, perancang memberikan aksen-aksen arsitektural khususnya pada area masuk. Selasar atau galeri yang mengelilingi sebagian lantai dasar dan lantai dua berfungsi ganda, tidak hanya sebagai ruang sirkulasi, tetapi juga sebagai pelindung dari sinar matahari langsung, sebuah respons yang sangat khas terhadap iklim tropis.

Ketika Anda mengamati detail fasadnya, terlihat kolom-kolom yang menopang selasar tersebut dengan karakter bukaan yang berbeda di tiap lantai. Pada lantai pertama, bukaan kolom dibentuk dengan lengkungan, sementara pada lantai kedua bukaan berbentuk persegi panjang. Di bagian atas jendela lantai dua, terdapat elemen stained glass yang menjadi aksen visual sekaligus memperkaya kualitas pencahayaan alami di dalam ruang. Ventilasi atau lubang angin berbentuk persegi tersebar rapi di sepanjang dinding bangunan, mempertegas pertimbangan arsitektur tropis yang diterapkan secara konsisten. Seluruh sistem ventilasi ini menunjukkan perhatian besar pada kenyamanan termal bangunan di iklim panas dan lembap seperti Medan.

Bangunan ini memiliki tinggi keseluruhan sekitar 14,35 meter, dengan luas tapak mencapai 5.941,35 meter persegi. Luas lantai pertama dan kedua masing-masing berjumlah total 1.626,12 meter persegi, sementara luas lantai ketiga mencapai 945 meter persegi. Sayap utara bangunan memiliki panjang sekitar 41,4 meter dan lebar 19,8 meter, sedangkan sayap barat membentang sepanjang 65,4 meter dengan lebar 16,8 meter. Material yang digunakan memperlihatkan kombinasi khas bangunan kolonial awal abad ke-20, yaitu lantai ubin dan beton, dinding bata sebagai struktur pemikul, serta atap dengan rangka kayu yang ditutup genteng.

Saat ini, kondisi bangunan Kantor PT KAI Cabang Medan masih tergolong utuh dan terawat. Secara umum, struktur bangunan terlihat kokoh dan masih menjalankan fungsi perkantoran dengan baik. Meski demikian, pada beberapa bagian dinding terlihat gejala kapilarisasi, dan di sejumlah titik lantai mulai menunjukkan retakan, sebuah kondisi wajar pada bangunan berusia lebih dari satu abad. Bangunan ini tercatat pernah mengalami proses pemugaran, yang bertujuan menjaga fungsi dan kelestariannya tanpa menghilangkan karakter arsitektur aslinya.

Dari sisi sejarah, gedung yang sedang Anda amati ini dirancang oleh arsitek ternama Herman Thomas Karsten dari biro Karsten, Letjens & Toussaint yang berbasis di Semarang. Pada masa kolonial, bangunan ini berfungsi sebagai kantor pusat Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), sebuah perusahaan transportasi kereta api yang didirikan pada tahun 1883 dan menjadi tulang punggung jaringan perkeretaapian di pesisir timur Sumatra. Gedung ini merupakan kantor kedua DSM, setelah kantor pertamanya yang berada di seberang bangunan ini kemudian digunakan sebagai kantor telepon. DSM sendiri merupakan perusahaan kereta api yang didirikan oleh Deli Maatschappij dan dikenal memiliki kinerja yang sangat baik, bahkan ketika pemerintah Hindia Belanda mengambil alih layanan kereta api di berbagai kota di Indonesia, pesisir timur Sumatra tetap dikelola oleh DSM. Setelah Indonesia merdeka, perusahaan ini diambil alih oleh pemerintah dan bangunan ini tetap difungsikan sebagai kantor perusahaan kereta api, hingga akhirnya dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) seperti yang Anda lihat sekarang. Keberlanjutan fungsi ini turut memperkuat keaslian dan nilai historis bangunan, karena peran dasarnya tidak berubah sejak awal pendiriannya.

Nilai penting bangunan ini sangat berlapis. Dari sisi nilai sejarah, selain usianya yang telah melampaui 50 tahun, bangunan ini merupakan bagian penting dari perkembangan sejarah perkeretaapian di Kota Medan dan pantai timur Sumatra. Gedung ini juga memiliki nilai asosiasi dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah perkeretaapian, seperti J.T. Cremer, serta dengan Herman Thomas Karsten sebagai perancang bangunan. Dari sisi estetika, keunikan bangunan ini tampak pada penerapan langgam modern kolonial dengan komposisi asimetris, fasad yang dinamis, panel kayu yang dirancang menarik, serta selasar panjang yang mengakomodasi iklim tropis. Bangunan ini tercatat sebagai satu-satunya karya Karsten di Sumatera Utara, dan untuk Pulau Sumatra sendiri, karya Karsten hanya ditemukan di dua kota, yakni Medan dan Palembang. Nilai ilmu pengetahuan juga melekat kuat pada bangunan ini, terutama dalam konteks teknologi konstruksi awal penggunaan beton bertulang yang dipadukan dengan sistem dinding bata pemikul. Bangunan ini menjadi objek penting bagi penelitian di bidang konstruksi dan arsitektur kolonial. Dari sisi kelangkaan, dimensi bangunan, langgam arsitektur, serta detail-detail rancangannya menjadikan bangunan ini semakin jarang ditemukan di Kota Medan. Keaslian bentuk bangunan pun masih terjaga dengan baik, menjadikannya contoh autentik bangunan perkantoran kolonial awal abad ke-20.

Dengan mempertimbangkan nilai sejarah, nilai estetika, nilai ilmu pengetahuan, nilai kelangkaan, serta keaslian yang masih terpelihara, Kantor PT Kereta Api Indonesia Cabang Medan direkomendasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya peringkat Provinsi Sumatera Utara. Rekomendasi ini merupakan hasil verifikasi Tim Ahli Cagar Budaya Kota Medan, dan bertujuan memastikan bangunan ini tetap terjaga sebagai saksi bisu perkembangan transportasi, arsitektur, dan sejarah Kota Medan, agar maknanya dapat terus dipahami oleh generasi yang datang setelah Anda.

Informasi

Lokasi Kantor PT. Kereta Api Indonesia

Koordinat

3.5936287035772825, 98.6798431547276

Alamat

Jl. Prof. H.M. Yamin No. 14, Kota Medan, Sumatera Utara