
Hotel Grand Inna
Bangunan









Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/hotel-grand-innaDeskripsi Sejarah
Kamu sedang berada di Jl. Balai Kota No. 6, Kesawan, Medan Barat, tepat di sisi Sungai Deli, menghadap sebuah hotel yang telah menjadi saksi perjalanan panjang kota Medan selama lebih dari satu abad, Hotel Grand Inna. Bangunan ini awalnya dikenal sebagai Hotel De Boer, didirikan pada tahun 1894 oleh Aeint Herman de Boer, seorang pengusaha asal Workum, Belanda, yang tiba di Medan pada tahun 1899. Pada awalnya, hotel ini hanya memiliki tujuh kamar, sebuah restoran, dan bar kecil, namun popularitasnya meningkat pesat karena kedekatannya dengan pusat perdagangan dan perkantoran Belanda di Kesawan. Pada 1909, hotel diperluas menjadi 40 kamar, kemudian pada 1930 menjadi 120 kamar, menambahkan beberapa hall dan restoran, sehingga menjadi pusat akomodasi kelas atas di Medan pada masa kolonial.
Hotel ini pernah menerima tamu-tamu kehormatan, termasuk Raja Léopold II dari Belgia dan artis terkenal Mata Hari, serta menjadi tempat berkumpulnya pejabat kolonial dan pengusaha Belanda. Hotel De Boer juga memperkenalkan inovasi pertama di Asia Tenggara, yaitu “mosquito free room” dengan jendela berkawat kasa tipis yang menggantikan kelambu di tempat tidur, meningkatkan kenyamanan bagi para tamu, dan menunjukkan bagaimana hotel ini memadukan kenyamanan modern dengan arsitektur kolonial. Dari sisi sejarah sosial, hotel ini bukan hanya tempat menginap, tetapi pusat interaksi sosial, bisnis, dan budaya bagi komunitas Hindia Belanda, yang memengaruhi perkembangan kota Medan dan industri perkebunan di Deli.
Bangunan utama yang masih berdiri mempertahankan langgam Neo Klasik, meskipun telah direnovasi pada 1909 dan 1930. Pintu utama hotel terdiri dari daun pintu dua arah, sementara jendela asli kini diganti menjadi lebih besar dengan bingkai aluminium, tersusun berderet di sisi timur bangunan. Di bagian atas dinding luar terlihat hiasan lengkungan, pelipit, dan tiang-tiang kecil, sementara di tengah atap terdapat hiasan besi berbentuk lengkungan yang dahulu menahan lampu gantung, menandai posisi pintu masuk utama yang sekarang sudah ditutup. Bagian dari bangunan asli masih difungsikan sebagai lobby utama dan dua restoran, yaitu Coffee Corner di bagian paling depan yang dapat diakses dari lobby, serta Restoran Deli, yang berada tepat di depan pintu masuk utama. Kedua area ini mempertahankan nuansa arsitektur kolonial, dengan detail hiasan yang rapi dan simetris di dinding, serta penempatan jendela yang tetap menonjolkan pencahayaan alami.
Di sisi lain, hotel ini memiliki bangunan baru setinggi 9 lantai, sedangkan gedung lama terdiri dari 2 lantai, dulunya difungsikan sebagai kamar tamu dan sekarang sebagian menjadi health spa and centre. Di belakang kompleks hotel, dibangun sebuah mesjid untuk memenuhi kebutuhan pengunjung dan staf, menunjukkan bagaimana bangunan ini beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan fungsi sosialnya. Luas tapak hotel mencapai 3,5 ha, luas bangunan 1.200 m2, panjang 40 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 4,5 meter. Material bangunan mencakup bata, ubin lantai, aluminium, dan besi, menjadikan bangunan ini tetap kokoh meskipun telah berusia lebih dari 130 tahun. Koordinat pusat hotel berada pada 3°59’16,01”N, 98°67’68,91”E, dengan batas-batas yang jelas: di utara berbatasan dengan apartemen, di timur dengan Jl. Balai Kota, di selatan dengan Bank Indonesia, dan di barat menghadap Sungai Deli, menegaskan posisi strategisnya di tengah kota dan dekat jalur transportasi penting pada masa kolonial.
Seiring waktu, hotel ini mengalami beberapa pergantian nama dan pengelolaan. Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini diambil alih pemerintah dan diberi nama Hotel Dharma Bakti, kemudian diganti menjadi Hotel Natour, hingga akhirnya pada tahun 2001 resmi menjadi Hotel Grand Inna, berstatus hotel bintang empat. Meskipun terjadi renovasi dan penambahan gedung baru, bangunan utama masih mempertahankan keaslian eksterior, sementara interior mengalami beberapa perubahan material, warna, dan furniture, namun layout awal untuk lobby dan restoran tetap dipertahankan, sehingga karakter dan nilai historisnya tetap utuh.
Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Pasal 5 dan 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012, karena selain usianya yang lebih dari 50 tahun, hotel ini memiliki nilai sejarah penting, menjadi bagian dari perkembangan perhotelan internasional di kota Medan, serta terkait erat dengan sejarah industri perkebunan di Deli. Dari sisi estetika, hotel ini memperlihatkan harmoni Neo Klasik, dengan lengkungan, pelipit, tiang kecil, dan jendela yang tersusun rapi, menciptakan keseimbangan visual yang memperkuat karakter kawasan Kesawan.
Selain nilai sejarah dan estetika, hotel ini memiliki nilai ilmiah dan penelitian, karena inovasi “mosquito free room” dan penerapan material bangunan menjadi bahan studi arsitektur, konstruksi, dan teknologi perhotelan. Nilai keaslian juga tetap terjaga pada bangunan utama, sedangkan tambahan kanopi dan gedung baru 9 lantai menunjukkan adaptasi terhadap kebutuhan modern tanpa menghilangkan karakter lama. Bangunan ini masih utuh dan terpelihara, pernah dipugar, dan tetap berfungsi sebagai hotel dengan fasilitas modern, sembari mempertahankan jejak sejarahnya.
Saat kamu berdiri di depan hotel ini, yang kamu lihat bukan sekadar bangunan tempat menginap atau restoran. Kamu berdiri di hadapan fragmen sejarah hidup kota Medan, tempat di mana zaman kolonial, masa kemerdekaan, inovasi perhotelan, dan perkembangan kota bertemu. Hotel Grand Inna adalah rekaman perjalanan sosial, ekonomi, dan arsitektur yang menegaskan bagaimana masa lalu tetap hadir dan relevan hingga hari ini, menjadi saksi bisu sekaligus ikon bagi generasi sekarang dan masa depan.





Informasi
Lokasi Hotel Grand Inna
Koordinat
3.591363334213157, 98.67700100394067
Alamat Resmi
Jl. Balai Kota No. 6, Kota Medan, Sumatera Utara