
Eks Kantor Departemen Tenaga Kerja
Bangunan





Scan untuk membuka halaman ini
https://cagarbudayamedan.com/sites/eks-kantor-departemen-tenaga-kerjaDeskripsi Sejarah
Begitu kamu tiba di persimpangan ini, kamu sebenarnya sedang berdiri di salah satu titik paling penting dalam sejarah Medan modern. Bangunan besar di hadapanmu ini bukan sekadar gedung tua—ia pernah menjadi simbol gaya hidup, kemewahan, dan wajah kosmopolitan kota Medan di awal abad ke-20. Bangunan ini dirancang oleh arsitek G. Bos. Pada tanggal 16 Februari 1919, batu pertamanya diletakkan oleh Walikota Medan pertama, Daniel Baron MacKay, dan pembangunannya selesai setahun kemudian. Gedung ini diberi nama Medan’s Warenhuis, sebuah pusat perbelanjaan yang diperuntukkan bagi masyarakat Belanda di Medan pada masa kolonial.
Pengelola swalayan ini adalah firma asal Jerman, Hüttenbach & Co., yang merupakan perusahaan perdagangan asing pertama di kota Medan sekaligus yang tertua di pantai timur Sumatera. Pembangunan gedung Warenhuis diperkirakan menghabiskan biaya sebesar fl 200.000. Tender umum pembangunan gedung ini dilaksanakan pada 27 Agustus 1918, di mana pada hari tersebut empat kontraktor atau arsitek menyerahkan dokumen tender mereka. Hingga 1 Agustus 1918, seseorang bernama C. Bos dapat dihubungi untuk memperoleh spesifikasi teknis dan gambar bangunan. C. Bos yang dimaksud adalah Gerard Bos, arsitek sekaligus pengawas pada Bagian Teknis Medan’s Warenhuis. Ia kemudian mendirikan biro arsiteknya sendiri di Medan pada tahun 1920, bertepatan dengan tahun dibukanya Toko Serba Ada Medan.
Setelah masa kolonial berakhir dan bangunan ini menjadi milik pemerintah Indonesia, fungsi gedung Warenhuis mengalami beberapa kali perubahan. Pada tahun 1970-an bangunan ini pernah difungsikan sebagai Gedung Kesenian Medan, kemudian pada periode 1980–1990-an menjadi Kantor Departemen Tenaga Kerja Tingkat I Provinsi Sumatera Utara. Saat ini, bangunan tersebut digunakan sebagai sekretariat organisasi kepemudaan AMPI, bahkan sebagian ruangannya difungsikan sebagai rumah tinggal. Terdapat sekitar 10 rumah tangga yang tinggal di dalam gedung ini. Hingga sekarang, bangunan ini dikelola oleh Pemerintah Kota Medan.
Secara lokasi dan perancangan, Warenhuis dibangun oleh perusahaan dagang N.V. Medan’s Warenhuis dan terletak di sudut Huttenbachstraat dan Hindoestraat, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani VII dan Jalan Hindu. Bangunan ini menggantikan bangunan kayu milik perusahaan dagang Belanda N.V. Handel Maatschappij. Pada saat pembangunan, N.V. Medan’s Warenhuis berada di bawah pimpinan I. Cornfield. Rancangan bangunan yang dibuat oleh G. Bos pada tahun 1918 disetujui oleh Komisi Keindahan Kota (Schoonheidcommissie) pada 15 Juli 1918.
Gedung toko ini terdiri dari dua lantai dengan total luas lantai 2.400 meter persegi, yang terbagi atas 1.400 meter persegi di lantai dasar dan 1.000 meter persegi di lantai satu. Panjang bangunan mencapai 29 meter di sepanjang Jalan Hindu dan 60 meter di sepanjang Jalan Ahmad Yani VII, sehingga luas lahannya sekitar 1.740 meter persegi. Ciri paling mencolok dari bangunan ini adalah menara di sudut pertemuan Jalan Hindu dan Ahmad Yani VII, yang menjadi pintu masuk utama dan membentuk sebuah aula seluas 50 meter persegi. Menara kedua berfungsi sebagai pintu masuk tambahan di Jalan Ahmad Yani VII, memecah panjang fasade dan garis atap bangunan, sehingga kedua fasade memiliki nilai visual yang setara.
Dari menara sudut tersebut berkembang sebuah kubah bundar yang ditutupi ubin hijau mengilap, dengan bentuk segi delapan sebagai transisinya. Bangunan ini dikelilingi oleh teras selebar 2 meter berlantai marmer, sehingga bangunan sedikit mundur dari tepi jalan dan memungkinkan teras tersebut digunakan publik sebagai trotoar. Pada lantai dasar tidak terdapat galeri depan sehingga jendela-jendela toko dapat langsung terlihat dari trotoar. Di lantai atas terdapat koridor yang sekaligus memberikan keteduhan bagi ruang di bawahnya. Jendela bangunan memiliki lebar 4 meter, berjumlah 10 buah, menutupi permukaan seluas 200 meter persegi, dan seluruhnya dilengkapi dengan kaca. Pada bagian interior, awalnya terdapat ruang penjualan, ruang makan siang, ruang musik, dan ruang kantor, meskipun seiring waktu tata ruangnya telah mengalami beberapa kali perubahan.
Secara arsitektural, bangunan ini merupakan salah satu bangunan sudut paling menarik dan unik di Kota Medan, dengan langgam art deco dan pengaruh Renaissance. Bangunan berlantai dua ini memiliki 20 ruangan, dua menara, balkon-balkon di lantai dua dengan pagar balustrade dekoratif, serta overhang lengkung yang dihiasi elemen penopang (bracket) yang mengingatkan pada bangunan Lawang Sewu di Semarang. Jendela-jendela berbentuk lengkung dengan hiasan kaca patri art deco, ventilasi, serta ragam hias geometrik dan pelipit. Luas tapak dan bangunan adalah 60 x 20 meter, dengan tinggi bangunan 20 meter. Sistem strukturnya menggunakan cor beton untuk lantai, kayu untuk lantai dua dan rangka atap, dinding bata sebagai bearing wall, serta atap genteng.
Berdasarkan Pasal 5 dan 44 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012, eks Warenhuis Medan ditetapkan sebagai cagar budaya karena memiliki berbagai nilai penting. Dari nilai sejarah, bangunan ini berusia lebih dari 50 tahun dan menjadi bukti perkembangan Medan sebagai kota industri perkebunan modern yang multikultural, dengan kawasan sekitarnya berfungsi sebagai pusat bisnis utama pada masanya. Gedung ini merupakan toko serba ada pertama yang lengkap dan mewah yang dikelola oleh orang Eropa di Medan, serta menjadi sumber pemahaman sejarah perdagangan kota Medan yang berpengaruh secara regional. Nilai peringatan juga melekat pada tokoh-tokoh seperti I. Cornfield, pendiri Hüttenbach & Co., serta Walikota Medan pertama Baron Mackay yang meresmikannya.
Dari nilai estetika, Warenhuis mencerminkan arsitektur masa peralihan (1900–1915), dengan tata ruang yang tidak lagi simetris namun tetap menampilkan dua menara sudut, detail kaca patri art deco, serta langit-langit khas pada pintu masuk utama. Keseluruhan karakter ini menjadikannya berpotensi sebagai landmark kawasan. Dalam hal nilai kelangkaan, desain bangunan sudut dengan langgam arsitektur masa peralihan beserta detail seperti menara dan kaca patri kini semakin jarang ditemukan di Kota Medan. Bangunan ini juga memiliki nilai ilmu pengetahuan karena fungsi dan bentuknya di masa lalu menjadikannya sumber informasi penting mengenai desain dan teknologi bangunan supermarket pada zamannya. Bahkan, beberapa elemen seperti fungsi ruang basement di bawah bangunan masih menyimpan tanda tanya, termasuk dugaan keterkaitannya dengan Lapangan Merdeka. Dari sisi keaslian, secara umum bentuk bangunan dan tata ruang masih mengikuti pola awal rancangan, meskipun terdapat tambahan pada bagian balkon dan ruang di bagian belakang.
Saat kamu menatap Eks Warenhuis Medan hari ini, kamu sedang menyaksikan sebuah bangunan yang pernah menjadi pusat gaya hidup modern, saksi perdagangan internasional, dan bagian penting dari cerita Medan sebagai kota besar yang lahir dari pertemuan banyak bangsa.



Informasi
Lokasi Eks Kantor Departemen Tenaga Kerja
Koordinat
3.5879, 98.6765
Alamat Resmi
Jl. A. Yani VII No. 32 – Jl. Hindu, Kota Medan, Sumatera Utara